Jatikramat Bulak, Inovasikan Mesin Pembakar Sampah Tanpa Asap

Editor: Makmun Hidayat

BEKASI — RT 01 Kampung Kramat Bulak, Kelurahan Jatikramat, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, Jawa Barat, mengkreatorkan pengelolaan sampah tanpa asap di lingkungannya. 

Mesin tersebut bekerja membakar sampah hingga tiga ton sekali melakukan pembakaran. Hal itu tentu menjadi inovasi dan diharapkan bisa menginspirasi lingkungan lain di wilayah Kota Bekasi.

Pengembangan teknologi tepat guna tersebut berawal dari keprihatinan terkait pengelolaan sampah di lingkungan setempat yang setiap hari terus menumpuk hingga akhirnya melalui swadaya membangun tungku pembakaran sampah tanpa asap.

“Lokasi pembakaran sampah tanpa asap dibangun secara swadaya, sampai sekarang belum maksimal jadi baru 80 persen, tetapi sudah dimanfaatkan,”ungkap I Wayan Joko Herjuno, Ketua RT 01,  RW II, Kampung Kramat Bulak, Kelurahan Jatikramata, kepada Cendana News, Rabu (1/7/2020).

Dikatakan bahwa pembangunan, tempat pembakaran sampah dikerjakan secara otodidak inspirasi dan video dan diinovasikan. Tapi lanjut I Wayan tetap didampingi teknisi yang memahami soal sipil warga di lingkungan RT 01 sendiri.

Ketua RT 01 Jatikramat, Jatiasih, Kota Bekasi, menunjukkan miniatur tempat pembakaran sampah tanpa asap yang dikelola lingkungan setempat menggunakan drum, Rabu (1/7/2020). -Foto: M. Amin

Menurutnya, manfaat dari pembakaran sampah tanpa asap dibarengi dengan penyulingan asap yang bisa dimanfaatkan warga sekitar untuk budidaya tanaman. Dia menyebut sistemnya ada mesin penyuling asap dengan cerobong untuk dilakukan filterisasi atau penyulingan uap untuk dimanfaatkan bagi tanaman.

“Hasil penyulingan asap selama ini, menjadi pupuk cair, dan abunya bisa dijadikan media tanam untuk perkebunan atau pupuk taman,”ujar Wayan.

Tempat pembakaran asap tersebut dibangun melalui dana swadaya memanfaatkan lahan kosong milik warga di tengah pemukiman setempat. Saat ini sudah menghabiskan dana sekira Rp40 jutaan untuk belanja bahan flat dan lainnya. Kondisi tempat pembakaran sampah yang dibangun di RT 01 tersebut diakui Wayan belum maksimal.

Untuk meminimalisir biaya semua flat baja dibeli bekas di tukang rongsokan. Wayan mengakui, untuk memberikan hasil pembangunan tempat pembakaran sampah tanpa asal memerlukan biaya maksimal mencapai Rp70an juta.

Namun demikian lanjutnya ia mengaku bersyukur, meskipun masih 80 persen, setidaknya sudah bisa dimanfaatkan untuk mengurangi sampah di lingkungan sekitar.

Bahkan imbuhnya sudah menginspirasi salah satu rumah sakit besar di Jakarta, untuk melihat langsung dan minta untuk bisa dikembangkan di rumah sakit.

“Tempat pembakaran sampah tanpa asap ini sudah enam bulan berjalan. Belum ada perhatian atau support dari pemerintah Kota Bekasi, padahal sudah diberi informasi,”ujarnya berharap dinas LH bisa hadir melihat inovasi warganya.

Tempat pembakaran sampah yang dimiliki lingkungan RT 01 Jatikramat bisa membakar semua jenis sampah, baik sampah kering atau pun basah (organik dan non organik). Namun, tentu ada tim warga yang melakukan pemilahan sampah yang bisa dimanfaatkan untuk ekonomi akan dipisah sebelum di bakar.

Ketua Relawan Pentri, mengapresiasi inovator dari RT 01 Jatikramat dengan meminta Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi bisa hadir melihat dan memberi support.

“Ini adalah kreator yang diinisiasi warga. Harusnya mendapat perhatian agar menginspirasi lingkungan lainnya. Mereka secara tidak langsung sudah mengurangi beban TPA Sumur Batu,” tegasnya.

Lihat juga...