Jumlah Positif Covid-19 di Indonesia Melonjak Jadi 62.142 Kasus

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Achmad Yurianto, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 saat jumpa pers terkait perkembangan Covid-19 di Gedung BNPB, Jakarta, Sabtu (4/7/2020). Foto Ist

JAKARTA — Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 kembali memperbaharui perkembangan di Indonesia. Per Jumat (4/7/2020) pukul 12.00 WIB, tercatat ada penambahan yang cukup signifikan yakni 1.447 kasus. 

“Sampai hari Sabtu 4 Juni 2020 pukul 12.00 WIB jumlah total positif Covid-19 mencapai 62.142 kasus,” kata Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto saat jumpa pers di Gedung BNPB, Jakarta, Sabtu (4/7/2020).

Sedangkan untuk kasus pasien sembuh, sebut Yuri dari hari ke hari terus bertambah, di mana hari ini pasien sembuh bertambah sebanyak 651 orang menjadi 28.219 orang.

“Selain itu untuk pasien positif Covid-19 yang meninggal hari ini juga bertambah 53 orang menjadi 3.089 orang,” ungkapnya.

Disebutkan, jumlah ODP yang masih dipantau, per Sabtu (4/7/2020) ada sebanyak 38.890 orang.

“Jumlah PDP Covid-19 yang masih diawasi ada sebanyak 14.205 orang. Gambaran-gambaran ini meyakinkan kita bahwa aktivitas yang dilaksanakan untuk mencapai produktivitas kembali di beberapa daerah masih berisiko, disebabkan ketidakdisiplinan protokol kesehatan,” jelasnya.

Yuri menambahkan, orang dengan status PDP menjadi prioritas pemeriksaan swab test secara PCR maupun TCM di laboratorium. Hingga saat ini, sudah ada 894.428 spesimen yang diperiksa dengan swab test melalui PCR dan TCM.

“Dari jumlah tersebut, 62.142 orang di antaranya dinyatakan positif Covid-19. Sementara dari jumlah pasien positif Covid-19 itu, sebanyak 3.089 pasien meninggal dunia dan 28.219 lainnya dinyatakan sembuh,” ungkapnya.

Sementara itu Anggota tim komunikasi publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, dr Reisa Broto Asmoro, mengingatkan hanya sekolah yang berada di zona hijau yang bisa kembali melaksanakan kegiatan belajar mengajar tatap muka dengan syarat-syarat tertentu.

Beberapa syarat di antaranya adalah izin dari kepala daerah, tersedianya sarana sanitasi, akses fasilitas kesehatan, hingga izin dari orang tua murid untuk memperbolehkan anaknya kembali kesekolah untuk pembelajaran tatap muka.

“Gugus Tugas berkomitmen memulai sekolah di tempat paling aman, yang tidak ditemukan kasus positif baru dan penyebarannya terkendali dengan baik,” kata Reisa saat jumpa pers di Gedung BNPB, Jakarta, Sabtu (4/7/2020).

Reisa mengungkapkan ada tujuh hal yang perlu diperhatikan baik untuk murid, guru, dan orang tua murid ketika pembelajaran tatap muka akan dimulai. Berikut tujuh hal tersebut: 1. Siswa dan guru harus gembira dan jangan stres; 2. Bagi kelas menjadi kelompok kecil dan buat waktu belajar efektif; 3. Guru dan murid sepakat membentuk kerja kelompok;

Selanjutnya 4. Alokasikan waktu untuk murid-murid yang tertinggal atau tidak paham materi di sesi pembelajaran sampai seluruh murid benar-benar mengerti; 5. Fokus dana kuatkan pada materi pembelajaran yang dapat membantu murid; 6. Amati, tiru, modifikasi, dan lihat cara guru lain belajar. Tanya tips dan triknya, dan adopsi di kelas masing-masing. Hal yang sama dapat diterpkan juga oleh para murid; dan 7. Harus berkreasi dan bekerja sama. Orang tua murid juga harus aktif terlibat dalam proses pembelajaran.

Lihat juga...