Kasus Covid-19 di Semarang Meningkat, Rumah Karantina Penuh

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Jumlah kasus Covid-19 di Kota Semarang meningkat tajam. Tidak hanya pasien positif, namun juga pasien dalam pengawasan (PDP) hingga orang dalam pemantauan (ODP). Akibatnya, rumah karantina yang disiapkan Pemkot Semarang, penuh terisi, hampir tidak mencukupi lagi.

“Sejauh ini, kita sudah melakukan hampir 30 ribu swab test dan 20 ribu rapid test. Hasilnya, angka Covid-19 di Kota Semarang pun meningkat,” papar Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, Abdul Hakam di Semarang, Rabu (8/7/2020).

Berdasarkan data laman siagacorona.semarangkota.go.id, per Rabu (8/7/2020) pukul 10.00 WIB, jumlah positif Covid-19 mencapai 983 orang dengan 185 diantaranya dari luar kota. Sementara, ODP mencapai 245 orang dan PDP tunggu hasil da 405 orang.

“Memang ada tren peningkatan, terlebih dengan adanya klaster baru penyebaran Covid-19 di lingkungan pabrik. Dari hasil temuan kita, ada tiga industri yang tidak menerapkan protokol kesehatan dalam pencegahan Covid-19, akibatnya ada tiga perusahaan yang ditemukan kasus positif Covid-19,” lanjutnya.

Dipaparkan, dari tiga pabrik tersebut, menyumbang lebih dari 150 kasus Covid-19 baru. “Kita sebut saja perusahaan A, ada sekitar 47 kasus. Di perusahaan B ada sekitar 24, terus yang C ini yang baru lebih dari 100. Operasional tiga perusahaan tersebut diberhentikan, namun, untuk perusahaan A saat ini sudah mulai beroperasi kembali, karena sudah ditutup sejak pertengahan Juni lalu,” tambahnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam memaparkan tingginya peningkatan kasus Covid-19, membuat rumah karantina menjadi penuh, saat ditemui, Rabu (8/7/2020). -Foto Arixc Ardana

Tingginya peningkatan kasus Covid-19, tidak urung membuat, kapasitas rumah dinas Wali Kota Semarang yang menjadi rumah karantina, menjadi penuh. Termasuk rumah karantina di Balai Diklat Kota Semarang, juga sudah penuh.

“Untuk di Balai Diklat, ruang karantina bagi pasien laki-laki sudah penuh, sementara pasien perempuan masih ada yang kosong. Sementara, untuk rumah dinas Walikota, sudah penuh semua. Saat ini kita siapkan tenda karantina, di sebelah ruang isolasi, agar bisa menampung,” lanjut Hakam.

Ditandaskan, pihaknya terus berupaya mengatasi persoalan tersebut. “Sejauh ini, tenda karantina di rumah dinas walikota sudah siap. Nanti kalau ada penambahan lagi, bisa kita gunakan untuk karantina. Selain itu, kita juga tengah mempertimbangkan penggunaan gedung Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) Jateng,” terangnya.

Gedung BPSDMD Jateng tersebut sebelumnya juga pernah digunakan Pemprov Jateng, untuk lokasi karantina bagi warga Jateng, yang baru kembali dari luar daerah, baik melalui jalur laut atau pun udara.

Dia menegaskan, bagi orang tanpa gejala (OTG) sebenarnya tidak harus di rumah dinas atau balai diklat. OTG boleh untuk melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing. Namun hal tersebut perlu kedisiplinan dari seluruh anggota keluarga.

“Sementara terkait kapasitas rumah sakit, terkait peningkatan jumlah kasus positif Covid-19, sejauh ini masih mencukupi. Kalau ternyata terus bertambah, kita akan lihat kondisi di lapangan, kalau bisa ditambah ruangannya, tentu akan kita tambah,” tegas Hakam.

Sementara, Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) KRMT Wongsonegoro, Susi Herawati memastikan, kapasitas rumah sakit rujukan covid-19 di Kota Semarang tersebut, masih mencukupi.

“Saat ini, ruangan yang dikhususkan untuk pasien covid-19 di rumah sakit Wongsonegoro berkapasitas 96 tempat tidur. Semula ada dua ruang isolasi yakni Arjuna 1, dan Arjuna 2. Kemudian ada tambahan ruang Banowati dan ruang Bima,” paparnya.

Namun, jika jumlah kasus Covid-19 di Semarang meningkat, dan pasien bertambah, pihaknya sudah mengantisipasinya.

“Harapannya sih tidak, mudah-mudahan kasus Covid-19 semakin menurun, namun bila hal tersebut benar terjadi, kita sudah menyiapkan ruang Arimbi, yang bisa diubah sebagai ruang perawatan pasien Covid-19,” tambahnya

Susi menandaskan, sejauh ini belum ada pasien Covid-19 yang masuk ke rumah sakit milik Pemkot Semarang tersebut, yang ditolak. Termasuk pasien rujukan dari luar kota Semarang.

“Sejauh ini, belum pernah mengalami kasus stok tempat untuk perawatan pasien Covid-19 penuh. Sebab, untuk pasien yang sudah menunjukkan gejala sembuh dan tanpa infus, akan dialihkan ke ruangan karantina khusus, tidak di ruang perawatan lagi,” pungkasnya.

Lihat juga...