Kementan Kirim Tim untuk Ambil Sampel Babi Mati di Sikka

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE —- Tim dari Kementerian Pertanian (Kementan) yang terdiri dari belasan orang sejak Jumat (10/7/2020) hingga Minggu (12/7/2020) melakukan pengambilan sampel dari babi yang mati di Kota Maumere Kabupaten Sikka Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, NTT, Drh. Maria Margaretha Siko, saat ditemui Sabtu (11/7/2020). Foto : Ebed de Rosary

Sampel-sampel tersebut diambil di beberapa kelurahan dan akan dikirim ke laboratorim kesehatan hewan yang ada di Kota Denpasar dan Bogor untuk diteliti terkait dengan dugaan terserang penyakit Demam Babi Afrika (African Swine Fever) yang sedang melanda.

“Selama tiga hari tim akan melakukan pemantauan terhadap babi yang ada di Kota Maumere baik yang sudah mati maupun yang masih sehat.Ini dilakukan untuk memastikan penyebab kematian babi,” kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, NTT, Mauritz da Cunha, Sabtu (11/7/2020).

Mauritz menyebutkan, dari hasil pengamatan dan pengujian sampel di laboratorium akan diketahui penyebab kematian mendadak babi-babi tersebut agar bisa diambil langkah penanggulangannya.

Sementara itu Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Drh. Maria Margaretha Siko mengatakan, sejak bulan Februari hingga Juni total sudah ada 221 babi yang mati mendadak dan tersebar di 16 kecamatan dari 21 kecamatan di Kabupaten Sikka.

Kecamatan yang ada di Kota Maumere pun banyak babi yang terserang penyakit ini dimana Kecamatan Alok tertinggi dengan 90 ekor, Alok Timur 47 dan Alok Barat 17 ekor. Sementara Kecamatan Nita 50 ekor, Kewapante 46, Lela 21 serta Kangae 18 ekor.

“Dari sampel yang kami ambil dan sudah diperiksa di laboratorium, diketahui penyebab kematian babi ini akibat terserang virus African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika dan Hog Cholera,” sebutnya.

Tim kesehatan hewan Dinas Pertanian kata Metha sapaannya, telah melakukan penelusuran dan didapat 3 klaster penyebaran.

“Kami temukan ada tiga klaster yakni klaster kantor, arisan dan kedekatan tempat tinggal. Pemilik babi yang bekerja di kantor, ikut arisan maupun tinggal berdekatan menjual daging babi yang berasal dari babi yang terserang penyakit ini kepada teman dan tetangga rumahnya,” ungkapnya.

Air dari cucian dari daging babi tersebut yang mengandung kuman penyakit tersebut terang Metha, diberikan kepada pembeli daging tersebut sehingga mengakibatkan babinya pun ikut tertular.

Seekor babi yang terserang penyakit ini jelasnya, bisa menularkan kepada 20 ekor babi lainnya baik itu Demam Babi Afrika maupun terkena penyakit Hog Cholera, sehingga babi yang mati diminta untuk dikuburkan dan jangan dikonsumsi dagingnya.

“Kami telah meminta kepada para pengusaha babi agar memisahkan babi yang sakit dan yang sehat agar babi yang sehat tidak tertular. Babi yang masih sehat paling kami tangani dengan pemberian vitamin,” ungkapnya.

Lihat juga...