KKP Bentuk Gugus Tugas Pengendalian Penyakit Ikan Nasional

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto, menyatakan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP, membentuk Tim Gugus Tugas Pengendalian Penyakit Ikan Nasional. Hal tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Dirjen Perikanan Budidaya Nomor 184/KEP-DJPB/2020.

Tim yang beranggotakan unsur pemerintah, pakar, praktisi, akademisi dan asosiasi perikanan budidaya tersebut siap melakukan upaya cepat tanggap baik preventif maupun kuratif terhadap potensi dan kejadian penyebaran penyakit ikan pada usaha pembudidayaan.

“Penyakit ikan menjadi penyebab utama kegagalan produksi dalam usaha budidaya,” ungkap Slamet Soebjakto, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, berdasarkan rilis yang diterima Cendana News, Kamis (2/7/2020).

Slamet Soebjakto, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, saat dijumpai, belum lama ini – Foto: Dok KKP

Ia mengingatkan bahwa seluruh pihak harus mewaspadai, mengantisipasi potensi dan melakukan tindakan pengendalian terhadap penyebaran penyakit ikan terutama yang berpotensi menyebabkan kegagalan produksi secara masif.

Tim Gugus Tugas harus melakukan tindakan pengendalian mulai dari pencegahan hingga penanggulangan. Upaya pencegahan termasuk terhadap lalu lintas perdagangan ikan hidup dan sarana produksi yang berpotensi jadi pembawa penyakit.

“Antisipasi terhadap masuknya penyakit lintas batas (transboundary disease). Artinya risk analysis import betul betul harus diperkuat terutama terhadap benih, calon induk, pakan, probiotik dan sarana produksi lainnya,” tegasnya.

Melalui Tim Gugus Tugas ini, dia ingin ada data informasi yang real time terhadap kasus kejadian penyakit maupun potensi masuknya wabah. Tim juga akan tugaskan untuk mengambil langkah taktis dalam melakukan upaya pengendalian penyakit ikan secara nasional.

Slamet juga membeberkan sejumlah penyakit pada udang yang hingga kini masih menghantui bisnis perudangan nasional antara lain White Spot Syndrome Virus (WSSV), Infectious Myonecrosis Virus (IMNV), Enterocytozoon Hepatopenaei (EHP), dan White Feces Disease (WFD).

Sementara itu munculnya penyakit lintas batas seperti Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPNF), Covert Mortality Nodavirus (CMNV) dan yang terbaru Decapod Iridescent Virus 1 (DIV1) saat ini tengah menyerang budidaya udang di China, Vietnam dan Thailand juga harus diantisipasi dengan menerapkan upaya proteksi di pintu masuk lintas batas.

“Secara khusus saya ingin mengingatkan untuk mewaspadai transboundary disease seperti virus DIV1 yang menyerang udang dan telah menyebar di negara tetangga,” tandasnya.

Oleh karena itu, segala potensi pembawa harus diperketat, dengan menerapkan risk analysis import secara rigid. Diminta Tim Gugus Tugas segera menyusun action plan yang diperlukan untuk mengantisipasi hal tersebut.

“Penting supaya upaya antisipasi dan pengendalian lebih teroganisir dengan baik,” tegas Slamet.

Sementara itu, Shrimp Production Review, Global Aquaculture Alliance menyebut bahwa penyakit merupakan isu terbesar dalam budidaya udang di berbagai negara.

Menurut hasil review tersebut, belum optimalnya penerapan manajemen kesehatan ikan dan lingkungan menjadi salah satu pemicu serangan penyakit ikan, disamping lalu lintas importasi sarana produksi yang tidak terkendali menjadi penyebab lainnya.

Lihat juga...