KKP Tebar Benih Rajungan Tambah Stok di Alam

Ilustrasi - Budidaya ikan rajungan - Dok CDN

JAKARTA – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melakukan restocking atau menebar benih rajungan selama pandemi Covid-19, untuk ketersediaan stok dari komoditas itu di alam ke depannya.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto, dalam siaran pers di Jakarta, Kamis, menyatakan kegiatan penebaran benih rajungan di perairan umum merupakan upaya pemerintah untuk menyelamatkan stok komoditas bernilai ekonomi tinggi, yang sudah mulai langka untuk didapatkan oleh nelayan.

“Dengan nilai ekonomi dan pangsa pasar yang luas, komoditas seperti rajungan merupakan komoditas yang dapat menjadi andalan untuk menjaga stabilitas ekonomi masyarakat, khususnya nelayan dan pembudidaya. Pangsa pasar ekspor yang cukup besar untuk rajungan seperti Amerika Serikat dan Hongkong, namun masih banyak juga negara lain yang menaruh minat kepada hasil produksi rajungan Indonesia, seperti Cina, Malaysia, Jepang, Singapura, Perancis, hingga Inggris,” ujar Slamet.

Ia mengemukakan, total benih rajungan untuk kegiatan restocking hingga saat ini sejumlah 205 ribu ekor dan terakhir dilakukan di kampung nelayan Kuri Lompo, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Slamet menambahkan, bahwa KKP terus mendorong produksi rajungan, kepiting, maupun ikan endemik yang tergolong langka untuk keperluan restocking.

Selain itu, masih menurut dia, upaya restocking tersebut dinilai pula sebagai upaya KKP dalam memperkaya stok rajungan di alam, agar dapat menjaga ketahanan pangan masyarakat dan meningkatkan pendapatan warga.

“Dengan dukungan pemerintah berupa bantuan restocking ini, saya harap dapat dimanfaatkan sebaik mungkin untuk kelestarian lingkungan, dan peningkatan produksi serta kesejahteraan masyarakat,” ucap Dirjen Perikanan Budidaya KKP.

Sementara itu Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar Sulawesi Selatan, Supito, mengatakan bahwa selain bernilai ekonomis tinggi, rajungan merupakan komoditas yang teknologi pembenihan dan pembesarannya telah berhasil dikembangkan oleh KKP melalui BBPBAP Jepara, Jawa Tengah, dan BPBAP Takalar.

“Budi daya kepiting rajungan ini memiliki beberapa keunggulan, seperti waktu operasional produksi yang singkat serta dapat dibudidayakan secara polikultur dengan komoditas payau lainnya. Dapat juga dilakukan dalam skala rumah tangga untuk pembenihan dan dapat dibudidayakan dari sistem tradisional hingga semi intensif untuk pembesarannya,” ujar Supito.

Khusus untuk pembenihan rajungan, dijelaskan penentuan lokasi panti pembenihan yang ideal untuk komoditas rajungan hendaknya memperhatikan beberapa elemen, seperti kualitas air tawar maupun air laut yang layak bagi kehidupan larva serta akses yang mudah untuk mendapatkan induk rajungan penghasil larva yang berkualitas. Di samping itu, akses untuk sarana transportasi menjadi nilai tambah lokasi untuk kemudahan pemasaran, maupun jalur keluar masuk pembeli maupun pembudidaya. (Ant)

Lihat juga...