Kunci Sukses Budidaya Ayam Hias ‘Pheasant’

Editor: Makmun Hidayat

YOGYAKARTA — Sukses membudidayakan ayam hias dengan harga jutaan rupiah per ekornya mungkin jadi keinginan setiap orang khususnya para pembudidaya. Namun ternyata, untuk mencapai titik itu bukanlah sebuah hal yang mudah. Kesabaran, ketelatenan serta sikap pantang menyerah merupakan kuncinya. 

Hal itulah yang juga dilakukan Sumedi (38) warga Dusun Beteng RT 05 RW12 Margoagung Seyegan Sleman, yang sukses membudidayakan berbagai jenis ayam hias Pheasant untuk dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia. Mulai menekuni budidaya ayam Pheasant sejak 2016 lalu, kini Sumedi mampu meraup keuntungan yang luar biasa.

“Awalnya saya hanya memelihara 1 pasang ayam Pheasant. Karena harganya sangat mahal, waktu itu saya bahkan harus kredit ke seorang teman saya. Setelah belajar memelihara selama beberapa tahun, saya baru bisa dikatakan berhasil menetaskan dan memelihara anakan hingga hidup dan besar,” katanya baru-baru ini.

Sebelum bisa sesukses sekarang, yakni menjual anakan ayam Pheasant hingga Rp 15 juta per ekor, Sumedi mengaku telah melewati banyak rintangan. Termasuk mengalami kerugian hingga belasan bahkan puluhan juta akibat ayam indukan impor yang baru saja dibelinya tiba-tiba mati karena tidak diketahui penyebabnya.

“Prinsip saya memelihara ayam hias seperti jenis Pheasant ini adalah seperti merawat saudara tua. Yang penting kita biarkan mereka hidup dengan nyaman dan sehat sebagaimana keinginan mereka. Tidak bisa kita target harus bertelur dsb. Karena jika sampai bisa bertelur dan menetas itu hanya bonus,” katanya.

Sumedi (38) warga Dusun Beteng RT 05 RW12 Margoagung Seyegan Sleman, yang sukses membudidayakan berbagai jenis ayam hias Pheasant. -Foto: Jatmika H Kusmargana

Sumedi sendiri memanfaatkan kandang polier berukuran 2x2x2,5 untuk setiap indukan ayam hias Pheasant miliknya. Kandang terbuat dari besi stremin rapat. Di dalam setiap kandang terdapat tempat untuk bertengger baik itu batang kayu atau pohon kecil sehingga menyerupai habitat aslinya. Sementara di bagian permukaan kandang, Sumedi memberikan pasir halus dan kerikil.

“Pasir ini berfungsi untuk mandi si ayam. Sehingga kondisi bulu-bulunya bisa selalu terjaga. Selain itu kerikil juga biasa dikonsumsi ayam untuk membantu pencernaannya. Sedangkan pohon atau batang kayu juga harus diberikan sebagai tempat bertengger si ayam. Karena ayam Pheasant ini merupakan ayam hutan yang memiliki kebiasaan seperti burung,” ungkapnya.

Untuk pakan Sumedi mengaku rutin memberikannya dua kali setiap hari. Terbagi atas pakan kering dan pakan basah. Berupa voor, serta pakan tambahan seperti jangkrik, hingga sayuran semisal sawi atau kangkung. Untuk minuman, wajib selalu disediakan di setiap kandang. Termasuk pemberian vitamin dan prebiotik untuk kesehatan ayam.

“Perawatan ayam jenis Pheasant ini termasuk mudah. Hanya perlu dibersihkan saja secara rutin agar tidak muncul jamur. Karena ayam jenis ini daya tahan tubuh nya sangat bagus. Pengalaman saya, saat masa perubahan iklim pernah di sekitar kampung ini semua unggas banyak yang mati. Namun ayam Pheasant milik saya semuanya tetap sehat-sehat saja,” katanya.

Sementara itu untuk proses penetasan menggunakan mesin tetas Sumedi memberikan tips bagi setiap peternak untuk mensetel pada suhu 37,5 derajat Celcius serta kelembaban 60 persen. Berdasarkan pengalamannya, cara ini dinilainya merupakan yang paling tepat agar prosentase atau tingkat keberhasilan penetasan bisa maksimal.

Lihat juga...