Kunci Sukses UMKM Adaptasi pada Permintaan Baru

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

TASIKMALAYA – Menteri Koperasi dan UKM (Menkop), Teten Masduki, mengatakan hanya usaha kecil menengah yang terhubung ke ekosistem digital atau market place  yang mampu bertahan di tengah pandemi Covid-19.

“Bank Indonesia mencatat pertumbuhan transaksi online bulan lalu meningkat mencapai 18 persen. Bahkan survei lain mencatat dua kali lipatnya hingga 36 persen,” ungkap Teten Masduki, di Kota Tasikmalaya, Jumat (10/7/2020).

Dikatakan bahwa UKM yang mampu bertahan di tengah pandemi Covid-19 ini adalah UMKM yang mampu beradaptasi karena mampu menyesuaikan dengan permintaan baru.

Menurutnya dampak Covid-19, sangat dirasakan oleh pelaku UMKM dan koperasi. Bahkan ada prediksi bahwa dampak Covid-19 akan mencapai puncak setelah September nanti karena diproduksi separuh UMKM akan gulung tikar.

“Kondisi sekarang berbeda dengan krisis tahun 1898, dimana saat itu UMKM jadi pahlawan ekonomi nasional. Pandemi ini, UMKM paling terdampak baik supply ataupun demand,” tegasnya.

Untuk itu ungkapnya Pemerintah terus mendorong melalui pelatihan dan bantuan modal serta program tambahan mencari inisiatif guna membantu UKM yang terdampak.

UMKM saat ini didorong menjadikan digitalisasi sebagai pedoman adaptasi baru. Kemenkop fokus melakukan upaya pendampingan dan penguatan pelaku UMKM khususnya yang terdampak wabah covid-19.

Wabah tersebut membuat sebagian besar pelaku UMKM termasuk koperasi mengalami masalah pada usaha yang dijalankannya lantaran permintaan atas produk-produknya anjlok.

Kemenkop saat ini terus mengkampanyekan bangga buatan Indonesia, karena pangsa pasarnya cukup besar. Dimana daya beli sudah digelontorkan pemerintah melalui bantuan sosial.

Karena teorinya, ketika dunia usaha lesu, ekonomi digerakkan, usahakan belanja pemerintah tetap mendorong pelaku UKM beradaptasi dan berinovasi dengan permintaan baru.

“Inovasi produk tidak sekedar masa pandemi covid, setelah ini orang akan semakin sadar mengenai kesehatan. Karenanya standar produk terutama makanan minuman, ke depan akan menjadi syarat utama bagi konsumen,” paparnya.

Dia mengatakan, pelaku UKM ke depan terutama makan dan minum harus mampu memproduksi produk higienis yang menjadi tuntutan utama. Oleh karena itu pemerintah melalui program pelatihan mendorong UKM naik kelas.

“Ukuran UKM naik kelas tentu dari kecil jadi besar, omzet penjualan harus naik. Dan ini dilakukan Kemenkop terus membangun perubahan ekosistem yang memungkinkan,” paparnya.

Lebih lanjut dikatakan bahwa UMKM bisa tumbuh berkembang jika bisa membangun akses lebih luas, terus terhubung dengan ekosistem. Karena 99 persen yang melakukan usaha di Indonesia adalah UMKM. Artinya untuk memajukan perekonomian Indonesia maka yang harus diurus adalah UMKM.

“Karenanya saat ini, Kemenkop terus melakukan pembenahan di UMKM yang memiliki problem utama akses ke pembiayaan, pasar, ketiga akses pengembangan usaha. Ini mau di-ugrade kalau usaha ingin besar tentu kemudahan bisnis diurus,” tegasnya.

“Saat ini ada pendekatan keliru sistem perbankan mulai dari pembiayaan, perizinan dan lainnya. Karena UMKM masih disamakan dengan bisnis besar untuk persyaratan perizinannya,” pungkas Menkop.

Lihat juga...