Mantan Menteri: Pak Harto Orang Jawa, Amarahnya Halus Penuh Sasmita

Editor: Koko Triarko

Prof. Dr. Haryono Suyono, MA. Ph.D., mantan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Kabinet Refomasi Pembangunan di masa pemerintahan Presiden Soeharto, saat ditemui Cendana News di gedung Kampus Trilogy, Kalibata, Jakarta Selatan, Senin (6/7/2020). –Foto: M Fahrizal

JAKARTA – Sebagian kalangan mengatakan, Presiden ke-2 RI, HM Soeharto, pernah memarahi para menterinya dengan keras. Namun dari kesaksian sejumlah mantan menterinya, presiden legendaris ini adalah sosok Jawa tulen yang jika marah tak pernah membentak. Sebaliknya, kalimatnya halus namun penuh makna atau sasmita.

Prof. Dr. Haryono Suyono, MA. Ph.D., salah satu menteri di era Presiden Soeharto, mengaku bahwa sepengetahuannya Pak Harto yang memang orang Jawa, membuat orang yang bukan orang Jawa hampir pasti mengatakan Pak Harto tidak pernah marah. Sebab, bahasa orang Jawa terlihat biasa-biasa saja.

Mantan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Kabinet Refomasi Pembangunan itu menyatakan, Pak Harto jika marah tidak dengan membentak, bukan dengan suara keras. Tetapi, dengan kata-kata yang dalam bahasa Jawa bisa mempunyai arti berbeda-beda.

Menurutnya, jika Pak Harto setuju dengan gagasan-gagasan yang kita lontarkan, biasanya Pak Harto memberikan komentar panjang lebar, memberi nasihat, serta memberi petunjuk langkah apa yang akan dilakukan selanjutnya.

Namun jika marah dalam kondisi yang masih bisa diperbaiki, Pak Harto tidak langsung memberikan komentar panjang lebar, melainkan langsung memberikan petunjuk agar gagasan yang dilontarkan itu dipikirkan kembali, dan sebaiknya setelah diperbaiki dengan para staf, minggu depan diminta untuk kembali lagi.

“Istilah kata ‘dipikirkan kembali’ itu jika kita paham maksudnya, yakni, gagasan tersebut sebenarnya sudah disetujui oleh Pak Harto, namun mungkin harus lebih mendalam lagi. Dan, kata ‘dipikirkan kembali’ itu juga meminta agar menterinya segera dengan cepat mencari alternatif-alternatif lain, tidak semau kita, barulah seminggu kemudian kembali menghadap,” jelas Haryono, saat ditemui di gedung Kampus Trilogy, Kalibata, Jakarta Selatan, Senin (6/7/2020).

Haryono menjelaskan lagi, jika Pak Harto tidak setuju dan menterinya ngotot, kekeh, dengan memberikan alasan macam-macam, Pak Harto akan mengatakan, ‘terserah’.

Haryono mengaku, mulanya ia mengira kata ‘terserah’ yang diucapkan Pak Harto mengandung arti, bahwa Pak Harto setuju dengan alasan yang disampaikan. Ternyata, perkataan ‘terserah’ memiliki arti tidak setuju, dan menjadi tanggung jawab kita (menteri-red). Dan, ini menunjukkan Pak Harto sudah setengah marah.

Haryono mengaku pernah diberitahu oleh seseorang, jika Pak Harto bilang ‘terserah’ itu berarti tidak setuju, dan jangan dikerjakan. Ia pun pernah satu kali mendapatkan kata ‘terserah’ dari Pak Harto, namun dengan wajah tersenyum.

“Karena saya sudah terbiasa, saya memberanikan diri untuk mengatakan ke Pak Harto, kenapa tidak menegur langsung saya? Beliau menjawab sambil tersenyum, ‘lah wong kamu ngasih banyak alasan, ya sudah terserah kamu.’”, kata Haryono.

Haryono mengatakan, jika sambil tersenyum dan sambil guyon (bercanda), berarti kemarahannya tidak berlanjut. Kalau dimaknai setengahnya, kita sudah diampuni karena berani berdebat, dan beliau sangat menghargai kalau kita mulai paham dan mengerti.

Haryono juga menceritakan, jika usulan sudah diterima dan disetujui Pak Harto, namun kemudian di luar ada menteri yang mengkritik usulan tersebut, biasanya menteri yang mempunyai usulan tersebut melapor (wadhul) kepada Pak Harto, bahwa di luar ada menteri yang berbicara macam-macam.

Dengan senyum dan lemah lembut, kata Haryono, Pak Harto hanya berkata, ‘ya sudah kamu terus lanjutkan, jangan kamu dengarkan’. Dan, selanjutnya Pak Harto memberitahukan ke menteri yang melakukan kritik.

“Jadi, bapak (Soeharto) itu bukan marah, tetapi memberitahu dan menjelaskan kepada menteri yang mengkritik, bahwa usulan yang disampaikan menteri terkait atas dasar perintah dirinya. Jadi, tidak perlu diperdebatkan di media massa. Secara tersirat, saya melihat sebenarnya beliau marah, tetapi bukan marah yang ditunjukkan dengan berbicara keras, nada tinggi, tetapi beliau cukup mengatakan, ‘akan saya kasih tau’. Dan, biasanya kalau sudah seperti itu, beliau akan diam dan tidak berlanjut lagi,”ucapnya.

Haryono meneruskan lagi ceritanya, jika semisal akan ada event atau memperingati suatu acara yang menurut kita begitu penting dan mengharuskan beliau (Pak Harto) hadir, biasanya jika beliau berkenan itu spontan, diyakinkan dengan tindakan.

Misalnya pada acara atau kegiatan KB, jika beliau berkenan, dengan spontan akan hadir, jika sesuai tanggalnya. Tetapi jika beliau tidak berkenan, beliau akan mengatakan ‘terserah’, dan beliau tidak akan hadir.

“Pada hakikatnya, Pak Harto tidak pernah terlihat marah. Tetapi, justru terlihat memberikan bahasa tubuhnya. Jika kita orang Jawa, tentu akan dapat melihat bahasa tubuh Pak Harto berkenan hadir dalam suatu acara atau tidak, tetapi jika bukan orang Jawa tentu akan tidak tahu,” ungkapnya.

Contoh lain, pernah Pak Emil Salim (masih muda-red) dan Pak Wijoyo menghadap. Pak Emil Salim mencatat apa yang diucapkan Pak Harto, sementara Pak Wijoyo tidak mencatat, tetapi melihat wajah Pak Harto.

Begitu selesai menghadap dan keluar dari ruangan, Pak Wijoyo mengatakan, ‘Emil nanti kamu laksanakan ini…ini…dan ini’.

Emil Salim muda menjawab, ‘Loh, Pak Harto tidak bilang seperti itu Pak?’

Pak Wijoyo mengatakan kepada Emil Salim, ‘kamu jangan melihat kata-kata Pak Harto, tapi lihat wajahnya. Karena wajahnya itu perintahnya yang itu disetujui, yang satunya tidak disetujui. Jadi, laksanakan apa yang tadi saya utarakan.’

Sejak itu, Emil Salim ketika menghadap Pak Harto, mencatat sambil melihat wajah Pak Harto. Jadi, bahasa lisannya dengan bahasa tubuhnya, kalau orang Jawa bisa melihat bahasa tubuhnya, manggut, mesem, senyum, dan kata-katanya seperti jika dikatakan iya dengan gerakan bahasa tubuh manggut, berarti beliau setuju.

“Tapi jika beliau dengan kata-kata bilang ‘terserah’, itu tidak langsung dilaksanakan. Tetapi, Pak Harto menunjukkan ada ketidaksetujuan, ada semacam keberatan. Jadi, kata ‘terserah’ tanggung jawabnya lebih kepada menterinya, bukan lagi ke presiden,” jelasnya.

Haryono mengatakan, sepanjang dirinya menjabat menteri, belum pernah melihat Pak Harto marah-marah atau membentak maupun teriak. Bahasa yang diucapkan datar, tetapi bahasa tubuh dan pilihan kata-katanya sangat kuat.

Haryono menilai, Pak Harto memiliki bahasa tubuh yang lebih kuat, sedangkan kata-katanya dalam bahasa Jawa mempunyai graduasi, mempunyai tingkatan-tingkatan. Kombinasi kata-kata dan bahasa tubuh beliau terlihat sangat jelas, bahwa sesuatu tidak disetujui atau pun disetujui.

“Jika di dalam diri kita tertanam budaya Jawa, akan dengan mudah bisa dibaca. Sejak saya menjadi Kepala BKKBN dan setiap bulan selalu dipanggil menghadap, dengan sendirinya saya mulai paham akan bahasa tubuh beliau. Untuk orang di luar Jawa, akan susah untuk memahami bahasa tubuh maupun kata-kata beliau,” katanya.

Lebih jauh Haryono menjelaskan lagi, bahwa cara Pak Harto mengingatkan menterinya dengan memberikan petunjuk dengan simbol- simbol, contoh-contoh yang mengarahkan menterinya untuk berpikir kembali.

Haryono menuturkan, bahwa Pak Harto pernah cerita ketika beliau menetapkan Pancasila sebagai satu-satunya dasar negara dilakukan dengan penuh kesabaran. Memakan waktu kurang lebih sekitar 17 tahun, karena masih ada beberapa yang belum setuju dengan penetapan tersebut.

“Jadi sangat salah jika ada orang yang menyebut Soeharto sangat otoriter. Contoh konkrit penetapan Pancasila, bertahun-tahun Pak Harto dengan sabar menunggu sampai semuanya menyatakan persetujuan, baru ditetapkan. Jadi bukan ditetapkan terlebih dahulu, lalu semua harus setuju. Pak Harto harus menunggu dengan sabar selama 17 tahun untuk penetapan tersebut,” tegas Haryono.

Menurut Haryono, Pak Harto sangat taat kepada pentahapan. Beliau tidak grusa-grusu, maka beliau sangat setuju dengan tahapan pembangunan. Terlihat, sabar.

Haryono memberikan contoh lagi, bahwa di era Pak Harto justru yang bagus-bagus diberitakan dengan tujuan untuk memberikan motivasi, dorongan atau cambuk untuk yang lainnya, agar mengikuti pencapaian tersebut. Sementara yang jelek dipendam atau tidak dipublikasikan, semisal koruptor yang merupakan contoh tidak bagus.

“Sangat disayangkan, sekarang ini perilaku yang bagus jarang diberitakan, yang berprestasi tidak terdengar, justru yang negatif pemberitaannya sangat luar biasa. Sekarang ini budaya malu sudah hilang. Dulu, jika tidak mengikuti norma baru tentu dengan sendirinya akan malu. Dulu, melakukan pendekatan dengan cara positif, kalau sekarang pendekatannya lebih ke arah negatif dengan alasan sekarang ini era atau zamannya keterbukaan,” pungkasnya.

Lihat juga...