Membangun Kedaulatan Pangan dari Halaman Rumah

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Kini, persoalan lahan tidak lagi menjadi kendala, bagi masyarakat perkotaan, yang ingin bercocok tanam. Lewat pemanfaatan teknologi hidroponik, pertanian polybag, hingga aquaponik, masyarakat pun bisa mandiri pangan dengan memanfaatkan lahan sempit atau urban farming.

Hal tersebut yang coba digerakkan oleh komunitas Sekolah Berkebun Ceria Semarang, dengan mengajak masyarakat untuk bercocok tanam atau bertani dengan model urban farming.

“Awalnya komunitas ini terbentuk dari rasa keprihatinan kita, akan minimnya minat masyarakat dalam bercocok tanam. Kemudian kita coba masuk melalui dunia pendidikan, dengan bekerjasama dengan SDN 03 Ngaliyan Semarang, kita ajak siswa dan guru, untuk belajar bercocok tanam, dengan fokus utama tentang pertanian modern di lahan sempit,” papar perwakilan Komunitas Sekolah Berkebun Ceria Semarang, Kemal Abdul Aziz di Semarang, Senin (13/7/2020).

Perwakilan Komunitas Sekolah Berkebun Ceria Semarang, Kemal Abdul Aziz, memaparkan, bahwa semua orang bisa berkebun, terlebih dengan metode urban farming, tidak lagi membutuhkan lahan yang luas, ditemui di Semarang, Senin (13/72020). Foto: Arixc Ardana

Gayung bersambut, usaha tersebut direspon positif dan berhasil berjalan. Komunitas Sekolah Berkebun Ceria tersebut, bahkan membuka kelas bagi masyarakat umum yang ingin belajar tentang bercocok tanam.

“Kita ada 10 program pelatihan , mulai dari pelatihan berkebun, aquaponik, hingga budidaya ikan dalam ember atau budikdamber. Intinya, kita mengajak masyarakat, bahwa semua orang bisa berkebun atau bercocok tanam, bahkan memelihara ikan, dengan keterbatasan lahan yang ada, sebab dengan metode pertanian perkotaan atau urban farming, kita tidak perlu lahan yang luas,” jelasnya.

Dijelaskan, lewat urban farming, kebutuhan pangan bisa dipenuhi sendiri oleh masyarakat, mulai dari sayur mayur, hingga protein hewani dari budidaya ikan. “Tujuannya bagaimana masyarakat bisa mandiri, dalam mencukupi kebutuhan pangan mereka,” lanjutnya.

Terpisah, Wakil Walikota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, mendorong peran serta stakeholder, pegiat hingga komunitas dalam memperkenalkan urban farming, termasuk komunitas Sekolah Berkebun Ceria Semarang.

“Luas wilayah kota Semarang ini mencapai, 372 kilometer persegi, kalau hanya mengandalkan dari dinas atau pemerintah, tentu tidak mudah. Untuk itu perlu dukungan dari semua pihak, termasuk Komunitas Sekolah Berkebun Ceria Semarang, untuk ikut membantu mendorong masyarakat, dalam ketahanan pangan secara mandiri,” terangnya.

Dengan sistem urban farming, kendala lahan yang selama ini menjadi persoalan pun bisa terselesaikan. “Kita bisa memanfaatkan ketersediaan lahan yang ada, mulai dari halaman rumah, teras, semuanya bisa digunakan untuk berkebun. Medianya pun bermacam-macam, dari polybag, vertikal garden, hidroponik, hingga budidaya ikan dalam ember. Komunitas-komunitas ini yang nantinya akan ikut membantu kita, dalam mengedukasi masyarakat. Terlebih Kota Semarang, saat ini sedang menggalakkan gerakan Ayo Nandur atau ayo bercocok tanam,” tandasnya.

Lihat juga...