Meneguhkan Pendidikan Homeschooling di Tengah Pandemi Covid-19

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SEMARANG — Pandemi covid-19, mengakibatkan pembelajaran tatap muka di sekolah ditiadakan, dan berganti dengan belajar dari rumah (BDR) atau pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara online.

Bagi sebagian masyarakat, khususnya orang tua, perubahan tersebut dinilai cukup memberatkan, karena mereka harus mendampingi anak-anak mereka. Sementara di satu sisi, para orang tua juga dituntut dengan aktivitas mereka, termasuk harus bekerja dan kesulitan mendampingi anak.

Namun, hal tersebut tidak berlaku untuk Hanung Soekendro dan Mifta Hasmi. Pasangan suami-istri yang menetap di Perumahan Bukit Kencana Jaya, Meteseh, Tembalang Kota Semarang tersebut, mengajar kedua anaknya yakni Gaza Gazzetta dan Birru Darwisy, secara mandiri melalui metode homeschooling (HS).

Untuk diketahui, Hanung dan istrinya bukanlah berprofesi sebagai guru. Mereka lebih berperan sebagai fasilitator dengan membantu anak-anak mengasah kemampuan. Selain itu, terus mengasah imajinasi anak agar terus berkembang.

“Justru dengan adanya Covid-19, malah semakin meneguhkan kami untuk mendidik anak-anak kami dengan basis keluarga,” kata Hanung saat ditemui di Semarang, Kamis (30/7/2020).

Keduanya telah menjalani pendidikan homeschooling kurang lebih tiga tahun. Keputusan meng-homeschooling kedua putra-putrinya bukan keputusan mudah. Mengingat banyak konsekuensi yang akan dihadapi saat menjalankannya.

“Faktor ketersediaan waktu bagi anak-anak, menjadi konsekuensi wajib yang mau tidak mau harus disediakan oleh orang tua. Ini menjadi tantangan terbesar dalam sekolah HS, sebab orang tua harus berkorban waktu lebih banyak untuk anak,” terangnya.

Dicontohkan, di pagi hari, mereka harus menemani kegiatan anak-anak. Di papan tulis, tertera jadwal untuk Gazza. Hari Senin adalah belajar berenang dan Bahasa Inggris, Selasa adalah membaca, menulis dan bermain piano, hingga Jumat. Sementara untuk hari Sabtu, keduanya diberi kebebasan untuk melakukan kegiatan yang sifatnya outdoor.

“Jadwal itu hanya sebatas pengingat saja. Lantaran untuk materi belajar, sebenarnya tergantung pada keinginan anak. Di sela bermain ini, materi pembelajaran bisa dimasukkan, misalnya bermain penambahan atau pengurangan. Namun, jika si anak tidak mood maka bisa diganti dengan bermain materi lainya, sesuai keinginan mereka,” tambah Mifta Hasmi, sang istri.

Pembelajaran dalam kegiatan sehari-hari, misalnya dalam belajar menulis. “Gaza ini anaknya suka memasak. Jadi sering saya ajak ke pasar untuk membeli bahan dan bumbu, lalu memasaknya di rumah. Namun, sebelum diajak pergi ke pasar, Gaza kita minta untuk menuliskan bahan-bahan apa saja yang akan dibeli. Selain untuk pengingat, dengan cara ini, anak juga akan belajar untuk menulis lebih lancar, tanpa harus dipaksa,” tambahnya.

Dipaparkan pada dasarnya, dalam matode HS, jangan memaksa anak. “Mood anak itu penting. Saat dia bahagia maka materi belajar akan mudah terserap dengan metode bermain. Kalau tidak mood, mending istirahat dulu. Setelah itu lanjut lagi. Jika mereka tetap tidak suka maka ganti metode belajarnya. Maka kita, pun juga harus belajar bagaimana cara mengajar,” tutur Mifta.

Kembali ke Hanung, dirinya menilai pada dasarnya homeschooling maupun pendidikan formal sama. Sama-sama belajar dan kalaupun siswa homeschooling nantinya akan mencari ijazah juga bisa.

“Hanya saja metode pembelajaran homeschooling, akan lebih pas bagi anak. Karena materi yang diberikan bagi anak disesuaikan dengan kemampuan dan passionnya. Meskipun di tahap awal, harus dikenalkan ke semua hal untuk menggali rasa keingintahuannya dan minatnya,” terangnya.

Tidak hanya itu, dirinya berpendapat melalui homeschooling, potensi anak bisa dikenali, kemampuan yang dimiliki juga bisa lebih diasah. “Setiap anak itu kan unik. Punya kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Maka kenali bakatnya dan apa passionnya. Untuk menjadikanya berprestasi, asah kelebihannya,” tandasnya.

Di satu sisi, Hanung pun tidak keberatan berbagi ilmu dan wawasannya, terkait penerapan pendidikan homeschooling kepada orang tua lain. Namun sebelum belajar tentang homeschooling, dirinya terlebih dulu meminta komitmen dari para orang tua.

“Terutama, kerelaan dalam membagi dan meluangkan waktu dalam mendampingi anak. Jika sudah sanggup, mari kita berjalan dan belajar bersama tentang homeschooling,” pungkasnya.

Terpisah, Kepala Pusat Kependudukan Perempuan dan Perlindungan Anak (PKPPA) LPPM UPGRIS, Dr Arri Handayani, S.Psi.,M.Si, menuturkan proses belajar dari rumah (BDR) dan homeschooling, pada dasarnya mirip.

“Hanya saja, BDR sekarang ini berdasarkan kurikulum yang sudah ada, lalu diadopsi dengan keberadaan siswa yang di rumah, sementara homeschooling sudah dipersiapakan sejak awal dari rumah,” terangnya.

Di satu sisi, dirinya melihat tidak ada persoalan dalam pendidikan homeschooling, namun dirinya menyarankan agar pendidikan metode tersebut, menjadi pelengkap pendidikan formal.

“Jika situasi pandemi sudah berlalu, kemudian tidak ada argumen pertimbangan lainnya, yang mengharuskan anak hanya belajar di rumah, saya menilai pendidikan formal di sekolah tetap perlu. Hal ini penting, untuk mengasah kemampuan beradaptasi dan bersosialisasi anak, meskipun dari segi pendidikan antara sekolah formal dan homeschooling tidak berbeda,” tandasnya.

Lihat juga...