MPLS, SMPN 1 Kota Bekasi Kenalkan Sekolah Lewat Video

Editor: Makmun Hidayat

BEKASI — SMP Negeri 1, Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat, memiliki cara tersendiri  dalam masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) memasuki tahun ajaran baru 2020/2021. Salah satunya pengenalan melalui rekaman video.

Saat ini di Kota Bekasi, memasuki tahun ajaran baru yang  digelar secara daring untuk kegiatan belajar mengajar (KBM) di tengah pandemi Covid-19. Jumlah peserta baru di SMP Negeri 1 Kota Bekasi berjumlah 228 siswa/i dan dibagi pada sembilan kelas.

“MPLS secara daring ini pertama kali, ya sempat bingung juga metode apa dalam mengenalkan sekolah. Hingga akhirnya dilakukan melalui rekaman video, kemudian di-share ke grup WhatsApp,” ungkap Nur Syofiyeti, Wakil Bidang Kesiswaan SMPN 1 Kota Bekasi kepada Cendana News, Kamis (16/7/2020).

Dikatakan MPLS di SMPN 1 Kota Bekasi dilaksanakan selama tiga hari sejak hari Selasa dan selesai hari ini. Nur Syofiyeti, mengatakan metode rekaman video sifatnya hanya pengenalan lingkungan sekolah.

Nur Syofiyeti, Wakil Bidang Kesiswaan SMPN 1 Kota Bekasi ditemui Cendana News, Kamis (16/7/2020). -Foto: M. Amin

Selain itu berisi pesan, dari kepala sekolah terkait tatatertip sekolah hak siswa dan lainnya. MPLS sendiri dengan menunjuk tim khusus di sekolah untuk membuat rekaman video.

“Panitia MPLS, langsung membuat studio mini dikhususkan untuk recording dan pengenalan secara daring. Meski melalui WhatsApp grup tetap ada komunikasi tanya jawab,”jelas Syofi.

Dia berharap seluruh peserta didik baru, memahami tata tertib sekolah, karena sebelumnya sudah diberikan dalam bentuk buku panduan saat daftar ulang. MPLS sifatnya hanya pengenalan lingkungan sekolah dan profil guru pengajar serta nama wali kelas masing-masing.

Lebih lanjut dikatakan bahwa pihak sekolah tidak memaksakan kepada siswa wajib mengikuti MPLS secara online. Untuk itu solusinya dilakukan melalui rekaman video, karena tidak semua orang tua atau siswa memiliki kouta internet.

“Masih ada sebagian siswa yang belum mengikuti absensi online yang diterapkan sekolah, Dikarenakan, menurut laporan wali kelas masing-masing yakni ada sebagian orang tua siswa yang mengaku mengeluh di dalam biaya kuotanya,”tegasnya.

Dia menyampaikan bahwa tahun ajaran baru 2020/2021 di SMPN 1 ini total siswa kelas 1 baru sendiri yang masuk adalah 228 siswa  dengan metode pembagian kelas menjadi 9 kelas pelajaran yakni dari 7.1 – 7.9.

Tujuh Kendala Selama Penerapan PJJ

Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat, merangkum tujuh kendala  dirasakan orang tua dan peserta didik dalam penerapan Pelajaran Jarak Jauh (PJJ) untuk tingkat SMA/SMK di wilayah setempat.

“Tujuh kendala tersebut merupakan hasil survei. Pertama adalah orang tua terbebani kuota internet. Kemudian, orang tua kesulitan mendampingi anak dalam pembelajaran secara daring,” ujar Dedi Supandi Kepala Dinas Pendidikan Jabar berdasar rilis yang diterima Cendana News.

Selanjutnya orang tua berharap anak mandiri mengikuti PJJ, pembelajaran tidak dipenuhi tugas. Sementara kendala pada siswa adalah materi yang disampaikan harus komunikatif dan kontekstual. Baik orang tua dan siswa sulit berkomunikasi langsung dengan guru. Terakhir, ada beberapa SMA/SMK yang tidak memiliki akses internet.

Dari berbagai kendala yang dialami orang tua dan peserta didik, kata Dedi, Disdik sudah menempuh sejumlah upaya. Tujuannya supaya pembelajaran daring berjalan optimal.

“Kami menempatkan siswa, orang tua, pengawas, dan guru, masing-masing memiliki tugas. Kemudian semua pihak harus berinovasi, khususnya guru dalam menyampaikan materi secara interaktif. Kami juga sudah mengalokasikan biaya internet melalui dana BOS,” katanya.

Dedi mengatakan, untuk menyelesaikan permasalahan infrastruktur teknologi atau akses internet, juga diberikan modul-modul ke rumah peserta didik via PT Pos Indonesia. Kemudian, guru ada yang datang ke rumah peserta didik dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

“Ada beberapa modul yang dikirim kepada siswa yang blank spot melalui PT Pos. Kalau seandainya guru harus berkeliling menemui peserta didik dengan tetap terapkan protokol kesehatan. Itu kami lakukan supaya pembelajaran daring tetap berlangsung optimal,” ucapnya.

Dedi menyatakan, komunikasi orang tua, guru, dan peserta didik amat krusial dalam pembelajaran daring. Maka itu, ia mengimbau kepada semua pihak untuk menggunakan aplikasi termudah, seperti aplikasi pesan singkat, dalam memberikan materi pembelajaran dan forum tanya jawab.

“Bagaimana cara pembelajaran tetap berjalan, tetapi tidak tatap muka. Sebab, kami utamakan kesehatan dan keselamatan peserta didik, Pada akhirnya, komunikasi sangat penting dalam pembelajaran daring melalui teknologi komunikasi yang mudah diakses,” kata Dedi.

Saat ini, seluruh SMA/SMK di Jabar masih melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau pembelajaran secara daring, termasuk Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2020/2021.

Lihat juga...