MUI Terbitkan Fatwa Pelaksanaan Salat Iduladha di Tengah Covid-19

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menerbitkan fatwa nomor 36 Tahun 2020 tentang Salat Iduladha dan Penyembelihan Hewan Kurban saat Wabah Covid-19. Fatwa ini ditetapkan untuk mencegah penularan Covid-19 dalam pelaksanaan ibadah tersebut.

Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Ni’am Sholeh mengatakan, Iduladha merupakan momentum penting dalam agama Islam, umat muslim melaksanakan salat Iduladha dan menyembelih hewan kurban sebagai simbol ketakwaan dan kecintaan kepada Allah SWT.

Namun menurutnya, karena di wilayah Indonesia wabah pandemi Covid-19 belum sepenuhnya terkendali, sehingga harus tetap meningkatkan kewaspadaan agar tidak terjadi peningkatan penularan.

Terkait kurva wabah yang masih tinggi, maka muncul pertanyaan di masyarakat tentang tata cara salat Iduladha dan penyembelihan hewan kurban di tengah Covid-19.

“Karena itu dipandang perlu, MUI menetapkan fatwa nomor 36 tahun 2020 tentang Salat Iduladha dan Penyembelihan Hewan Kurban saat Wabah Covid-19. Fatwa ini disusun guna mencegah penularan virus Covid-19,” ungkap Ni’am, berdasarkan rilis yang diterima Cendana News, Jumat (10/7/2020) malam.

Lebih lanjut dijelaskan, fatwa ini dibahas dan ditetapkan untuk memastikan pelaksanaan Salat Iduladha dan ibadah kurban sesuai ajaran agama, dengan tetap menjaga keselamatan, menjaga protokol kesehatan agar tidak berpotensi menyebabkan penularan Covid-19.

Dalam fatwa tersebut dijelaskan, ketentuan hukum pertama untuk salat Iduladha hukumnya adalah sunah muakadah yang menjadi salah satu syiar keagamaan ( syiar min syaair al-Islam).

Sedangkan untuk pelaksanaan salat Iduladha saat wabah Corona mengikuti ketentuan Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah di Saat Wabah Pandemi Covid-19.

Fatwa MUI Nomor 28 Tahun 2020 tentang Panduan Kaifiat Takbir dan Shalat Idul Fitri Saat Pandemi Covid-19. Dan fatwa MUI Nomor 31 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Salat Jumat dan Jamaah Untuk Mencegah Penularan Wabah Covid-19.

Ibadah kurban hukumnya adalah sunnah muakkadah, dilaksanakan dengan penyembelihan hewan ternak. Dan ibadah kurban tidak dapat diganti dengan uang atau barang lain yang senilai, meski ada hajat dan kemaslahatan yang dituju.

“Apabila hal itu dilakukan, maka hukumnya sebagai sedekah,” ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskan, ibadah kurban dapat dilakukan dengan cara taukil, yaitu pekurban menyerahkan sejumlah dana seharga hewan ternak kepada pihak lain, baik individu maupun lembaga sebagai wakil untuk membeli hewan kurban, merawat, meniatkan, menyembelih, dan membagikan daging kurban.

Fatwa ini juga mengatur soal tata cara penyembelihan hewan kurban dengan harus memperhatikan protokol kesehatan dan meminimalisir keramaian di lokasi penyembelihan.

“Selama kegiatan penyembelihan berlangsung, pihak pelaksana harus menjaga  jarak, memakai masker, dan mencuci tangan dengan sabun selama di area penyembelihan. Dan juga setiap akan mengantarkan daging kepada penerima, dan sebelum pulang ke rumah,” urainya.

Penyembelihan hewan kurban juga bisa bekerja sama dengan rumah potong hewan (RPH) Pelaksanaannya bisa diikuti dengan menjalankan ketentuan Fatwa MUI Nomor 12 Tahun 2009 tentang Standar Sertifikasi Penyembelihan Halal

Jika penyembelihan hewan kurban tidak dilakukan kerja sama dengan rumah RPH. Maka penyembelihan dilakukan di area khusus dengan memastikan pelaksanaan protokol kesehatan, aspek kebersihan, dan sanitasi serta kebersihan lingkungan.

Pelaksanaan penyembelihan kurban bisa mengoptimalkan keluasan waktu selama 4 (empat) hari. “Yakni mulai setelah pelaksanaan salat Iduladha tanggal 10 Dzulhijjah hingga sebelum maghrib tanggal 13 Dzulhijjah,” jelas Ni’am.

Pendistribusian daging kurban dilakukan dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan.

Dalam fatwa ini juga meminta pemerintah memfasilitasi pelaksanaan protokol kesehatan dalam menjalankan ibadah kurban agar dapat terlaksana sesuai dengan ketentuan syari’at Islam dan terhindar dari potensi penularan Covid-19.

MUI juga merekomendasikan agar pengurus masjid menyiapkan penyelenggaraan salat Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban dengan berpedoman pada fatwa ini.

Umat Islam yang mempunyai kemampuan diimbau untuk melaksanakan kurban, baik dilaksanakan sendiri maupun dengan cara diwakilkan ( taukil).

“Panitia kurban agar memfasilitasi jamaah yang hendak melaksanakan ibadah kurban dengan berpedoman pada fatwa ini,” imbuhnya.

MUI mengingatkan agar panitia kurban mengimbau kepada umat Islam yang tidak terkait langsung dengan proses pelaksanaan ibadah kurban agar tidak berkerumun menyaksikan proses pemotongan.

Panitia kurban dan lembaga sosial yang bergerak di bidang pelayanan ibadah kurban perlu menjadikan fatwa MUI Nomor 36 ini sebagai pedoman.

Terpenting lagi kata Ni’am, MUI meminta pemerintah menjamin keamanan dan kesehatan hewan kurban, serta menyediakan sarana prasarana untuk pelaksanaan penyembelihan hewan kurban melalui RPH sesuai dengan fatwa MUI tentang standar penyembelihan halal.

Lihat juga...