Omzet Pedagang Pasar Minggu Ria TMII, Meningkat

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Pasar Minggu Ria di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) kembali bergairah, mengalami peningkatan omzet secara berangsur sejak kembali dibuka pada 5 Juli 2020, lalu.

Pasar Minggu Ria ini sudah sejak lama menghiasi kawasan TMII, dibuka setiap Minggu pagi menjelang siang. Namun di tengah pandemi Covid-19, ditutup sementara sesuai anjuran peraturan pemerintah DKI Jakarta. Yakni, kawasan wisata berikut kegiatan harus tutup sementara.

Setelah dibuka kembali, terlihat antusias pengunjung TMII mendatangi Pasar Minggu Ria yang berada di area parkir dekat pintu 4 atau berseberangan dengan Taman Burung TMII.

Di tengah pandemi Covid-19 ini, tenda-tenda para pedagang diberi jarak, tidak berdempetan seperti pada bulan-bulan sebelum wabah ini melanda.

Kepala Bidang Humas TMII, Sahda Silalahi, mengatakan manajemen TMII membuka kembali Pasar Minggu Ria untuk memberikan kenyamanan pengunjung mencari kuliner, suvenir atau kebutuhan lainnya.

“Minggu Ria ini pasar murah meriah untuk pengunjung TMII. Dengan harga terjangkau, mereka bisa membeli kuliner atau lainnya di pasar ini,” ujar Sahda, kepada Cendana News, Minggu (19/7/2020).

Dalam operasional Pasar Minggu Ria, manajemen TMII berkomitmen menerapkan protokol kesehatan. Di antaranya, pengurangan jumlah tenda dan jarak tenda satu dengan tenda satunya, guna mematuhi protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah.

Nur Saedah, pedagang di Pasar Minggu Ria TMII, saat ditemui di area parkir pintu 4 TMII, lokasi pasar ini pada Minggu (19/7/2020). -Foto: Sri Sugiarti

“Jarak tenda ditata rapi, ada jarak, tidak berdempetan seperti sebelumnya di saat sebelum pandemi Covid-19. Dengan tenda yang berjarak, menjadikan pembeli tidak bersentuhan dengan pembeli dari tenda lainnya,” ujarnya.

Selain jarak tenda, di area depan pasar ini tersedia tempat cuci tangan. Setiap pengunjung yang datang dan pulang setelah membeli barang kebutuhan dianjurkan untuk mencuci tangan oleh petugas yang berjaga.

“Petugas kami keliling area Pasar Minggu Ria, untuk memantau pedagang dan pembeli tetap taat protokol kesehatan, dengan pakai masker dan jaga jarak,” tandasnya.

Sahda berharap, dengan dibuka kembali Pasar Minggu Ria ini, pengunjung makin meningkat dan roda ekonomi di TMII kembali bergairah.

Wawan, salah satu pedagang di pasar ini, mengaku ada energi positif dari rasa kekhawatiran masyarakat di tengah pandemi Covid-19 ini untuk berkunjung ke TMII, dan belanja di pasar tradisional ini yang difasilitasi TMII ini.

“Setelah tiga pekan Pasar Minggu Ria dibuka, ada energi positif di tengah pandemi Covid-19 ini. Artinya, pelan-pelan roda ekonomi dipacu dengan adanya bazar pelaku usaha kecil menengah (UKM) ini,” ujar Wawan, Minggu (19/7/2020).

Menurutnya, kehadiran bazar sangat dibutuhkan oleh pengunjung TMII menengah ke bawah, yang ingin membeli kebutuhan sehari-hari.

“Alhamdulillah penjualannya bagus, omzet pekan pertama dibuka dapat di atas 50 persen. Pekan ke dua rada menurun, tapi pekan ke tiga ini naik lagi,” ucap Wawan.

Dia berharap, manajemen TMII tetap memberikan izin bagi para pelaku UKM untuk berjualan di Pasar Minggu Ria yang sudah ada sejak lama.

“Fasilitas bazar atau pasar rakyat bagi pedagang kecil ini tetap ada, meskipun di tengah Covid-19. Tentu pengelola terapkan protokol Covid-19 pada pedagang dan pengunjung agar ditaati,” ujarnya.

Penerapan protokol kesehatan, menurutnya sangat membantu para pelaku UKM berjualan. Karena daripada mereka berjualan di rumah, meskipun online itu membantu.

“Tapi offline kaya gini, bazar ini ada kelebihan yang tidak ada di online. Salah satunya, kita bisa tatap muka dengan pembeli. Mereka bisa lihat barang yang kita jual, dan kalau cocok, mereka membelinya,” ujar pria kelahiran Palu Sulawesi Tengah, 36 tahun ini.

Wawan mengaku sudah sejak 2018 berjualan di Pasar Minggu Ria TMII. Barang yang dipasarkannya adalah baju koko, celana panjang pria, kemeja, busana muslim perempuan, dan aneka makanan seperti donat madu susu kurma.

“Yang pasti, Pasar Minggu Ria ini membantu kekuatan ekonomi rakyat. Bagaimana pasar ini didekatkan dengan pemukiman atau area wisata seperti TMII. Sehingga pengunjung sambil jalan-jalan, bisa belanja juga,” tukasnya.

Nur Saedah, pemilik Rafal Moeslim by Saedah, mengaku senang dengan dibuka kembali Pasar Minggu Ria ini.

Wawan, pedagang di Pasar Minggu Ria TMII, saat ditemui di area parkir pintu 4 TMII, lokasi pasar ini pada Minggu (19/7/2020). -Foto: Sri Sugiarti

“Sejak Pasar Minggu Ria dibuka di jalan depan Museum IPTEK, terus awal 2019 pindah ke area parkiran ini, saya sudah jualan. Tiga bulan lalu tutup, sekarang buka lagi sudah tiga minggu ini, alhamdulillah pembelinya bagus,” ujar Iit, demikian sapaan Nur Saedah.

Produk yang dijualnya adalah busana muslim, mukena, sajadah, hijab, daster, dompet dan lainnya. Semua produk yang dijualnya merupakan kreasi produksi Nur Saedeh, dengan workshopnya berada bilangan Bintaro.

“Saya rutin tiap hari Minggu ikut bazar di TMII ini. Selain di sini, suka ikut bazar di perkantoran, tapi saat ini sedang sepi, tidak memungkinkan di perkantoran itu,” ujarnya.

Dia mengaku, selama berjualan di Pasar Minggu Ria TMII sudah banyak pelanggannya. Saat tiga pekan dibuka kembali, pelanggannya berada di sekitaran TMII datang membelinya.

“Alhamdulillah, pembelinya bagus, banyak pelanggan dan pengunjung lainnya yang beli produksi saya. Lumayan hari ini saja sudah 10 pembeli lebih,” ujarnya.

Hingga omzet yang diraihi pun perlahan didapat dengan baik. “Pekan pertama dan ke dua dari pukul 06.00-10.00 WIB, sudah dapat di atas Rp3 juta. Kalau pekan ke dua ya menurun omzetnya,” ungkapnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, dengan ketatnya protokol kesehatan yang diterapkan oleh manajemen TMII, seperti jarak tenda, wajib pakai masker, jaga jarak, dan mencuci tangan, dia berharap roda ekonomi bazar ini kedepan terus meningkat seriring dengan peningkatan pengunjung TMII.

“Insyaallah meningkat lagi ke depannya, yang penting kita patuh pada protokol Covid-19, semua akan berjalan dengan baik,” imbuhnya.

Dia juga berharap, agar manajemen TMII lebih gencar lagi mempromosikan keberadaan Pasar Minggu Ria ini, sehingga pengunjung mengetahui keberadaan pelaku UKM dalam memasarkan produknya.

“Promosinya masih kurang, pengunjung belum tahu tempat ini. Karena dulu kami jualan di depan museum IPTEK, sekarang kan ke sini. Yang datang ke sini, ya sekadar orang yang sudah tahu saja,” tukasnya.

Sri Narsih, pedagang pecel, aneka gorengan dan teh manis juga mengaku penjualan mengalami peningkatan.

“Alhamdulillah, pecel dan gorengan saya sudah habis. Kalau saya rasakan di tengah Covid-19 ini, pendapatan meningkat dibanding dulu. Sekarang ini kan setelah dibuka kembali TMII, banyak pengunjung bersepeda, mereka mampir ke pasar ini jajan,” ujar Sri.

Dalam operasionalnya, setiap pedagang di Pasar Minggu Ria ini dikenakan biaya wajib.

“Kalau tenda itu sudah disediakan pengelola, kita bayar Rp500 ribu selama kita berjualan di sini. Kalau tiap minggu dagang dikenakan Rp100 ribu, kalau tiket masuk TMII, itu beda lagi kita sudah jadi member,” jelas Iit.

Iit dan pedagang lainnya berharap tetap difasilitasi oleh TMII untuk berjualan, dalam upaya memasarkan produk-produk para pelaku UKM.

Anisa, pengunjung TMII datang bersama suami dan kedua anaknya. Mereka berkeliling TMII dengan sepeda motor, dan saat melewati area pasar ini mampir untuk membeli kerak telur dan baju anaknya.

“Saya nggak sengaja mampir, jajan kerak telur tadi, terus beli baju anak ini, kaos dan hijab. Harganya lumayan murah,” ujarnya.

Lihat juga...