Pandemi Covid-19 tak Pengaruhi Harga Jual Hewan Kurban

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Jelang Hari Raya Iduladha 1441 H, puluhan pedagang hewan kurban pun mulai bermunculan. Di satu sisi, pandemi covid-19 yang masih berlangsung, tak mempengaruhi harga jual, bahkan, harga hewan kurban cenderung naik dibandingkan pada tahun 2019 lalu.

Hal tersebut diakui Kevin Wicaksono, salah seorang pedagang hewan kurban yang membuka lapak di daerah Gunungpati Semarang.

Kevin Wicaksono, salah seorang pedagang hewan kurban yang membuka lapak di daerah Gunungpati Semarang, saat melayani calon pembeli hewan kurban, Selasa (14/7/2020). Foto: Arixc Ardana

“Ini baru bukaan pertama, minggu ini. Stok awal sebanyak 23 kambing dan 7 sapi. Harga jual tergantung berat dan penampilan hewan ternak, namun rata-rata kambing Rp 3,5 juta per ekor, sementara sapi sekitar Rp 22 juta per ekor,” paparnya, saat ditemui di lapak miliknya, Selasa (14/7/2020).

Sejauh ini, respon pembeli cukup bagus, terbukti sudah puluhan ekor hewan kurban yang berhasil dijualnya. “Nanti kalau habis, ya kirim stok lagi. Bertahap. Kalau melihat tahun kemarin, bisa menjual sekitar 100 ekor kambing dan tujuh ekor sapi. Mudah-mudahan tahun ini, angkanya tidak jauh berbeda,” lanjutnya.

Kevin, mengakui harga jual hewan ternak tersebut relatif lebih tinggi dibanding tahun lalu. “Kalau tahun kemarin, rata-rata harga kambing sekitar 2,5 juta. Tapi tahun ini naik. Faktornya mungkin karena stok hewan ternak tidak banyak, karena kondisi pandemi seperti sekarang ini,” jelasnya.

Hal senada disampaikan Sunarti, pedagang hewan kurban lainnya. “Tahun ini malah naik harganya, kalau kambing ada yang Rp 3,5 juta- Rp 4 juta. Kalau tahun lalu sekitar Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta. Tidak tahu kenapa naik, dari pemasoknya memang sudah naik,” jelasnya.

Hewan-hewan ternak tersebut dibelinya dari pasar hewan Ambarawa Kabupaten Semarang, sebelum kemudian dibawa ke lapak miliknya yang juga terletak di daerah Gunungpati Semarang.

“Tergantung besar kecilnya atau berat hewan kurban, semakin besar dan berat juga semakin mahal. Minggu ini baru laku 9 ekor kambing, mudah-mudahan nanti mendekati hari H, bisa semakin banyak lagi yang terjual,” terangnya.

Di satu sisi, pihaknya juga tetap memperhatikan kesehatan hewan selama di lapak, terutama dari segi pakan. “Ya, kita berusaha agar hewannya tetap sehat, tidak sakit, sebab kalau sakit kan tidak bisa dijual, yang beli tidak mau. Selain rumput segar, juga diberi konsentrat biar tetap sehat, hewan kurbannya,” jelas warga Sampangan Semarang tersebut.

Sementara, salah seorang pembeli, Restu Handayani, mengaku tengah mencari hewan kurban untuk keluarganya. “Tahun kemarin suami saya yang berkurban kambing, tahun ini rencananya gantian saya yang berkurban kambing,” jelasnya.

Dirinya mengaku pandemi covid-19, tidak menyurutkan niatnya untuk berkurban, karena sudah diniatkan sejak setahun lalu. “Memang sudah menyisihkan rezeki buat beli hewan kurban, jadi sudah diniati jadi tidak ada masalah. Memang kalau dari segi harga, lebih mahal, tapi bisa dimaklumi,” tambahnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertan) Kota Semarang, Hernowo Budi Luhur memaparkan, pihaknya sudah mengeluarkan surat edaran tentang pelaksanaan penjualan dan penyembelihan hewan kurban dalam situasi wabah covid-19.

“Penjualan hewan kurban, penyembelihan, hingga pembagian daging kurban untuk memperhatikan protokol kesehatan. Selain itu, penjual hewan kurban yang biasanya menggelar lapak di tepi jalan atau di tempat umum, harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari pemangku wilayah setempat, minimal dari kelurahan agar bisa terdata,” jelasnya.

Tidak hanya itu, hewan yang dijual juga harus memiliki surat keterangan kesehatan hewan (SKKH). “Termasuk yang berjualan juga harus sehat dan menerapkan protokol kesehatan saat berjualan, dengan minimal memakai masker dan menjaga jarak,” tandasnya.

Lihat juga...