Pasar Wage Tutup, Banyak Pedagang Makanan tak Berjualan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PURWOKERTO – Penutupan Pasar Wage Purwokerto menyebabkan banyak pedagang makanan yang berhenti berjualan. Sebab, sebagai pasar tradisional terbesar dan terlengkap di Kota Purwokerto, menjadi tempat kulakan (membeli dalam jumlah banyak dijual lagi-red) bagi para pedagang.

Seperti yang terlihat di sepanjang Jalan Jatisari, Kelurahan Sumampir, Kecamatan Purwokerto Utara. Deretan gerobak serta lapak pedagang makanan yang biasanya ramai terlihat tutup.

Penutupan Pasar Wage tak hanya berdampak pada para pedagang makanan saja, namun juga terhadap para pedagang sayur yang membuka warung di rumah serta pedagang sayur keliling. Sebagian dari mereka memilih untuk tidak berjualan, karena jika harus kulakan di pasar lain, harganya di atas Pasar Wage, sehingga pasti akan diprotes oleh pembeli jika menaikkan harga.

Penjual sayur-sayuran, Ibu Sum di Sumampir misalnya. Ia hanya jualan beberapa jenis sayuran saja dan tahu-tempe. Sehingga dagangannya sangat jauh berkurang. Menurutnya, hal tersebut karena seluruh pedagang langganannya di Pasar Wage tidak berjualan.

“Tadi hanya kulakan sedikit di Pasar Cermai, karena di sana harganya lebih mahal daripada Pasar Wage. Saya juga tidak punya pedagang langganan di sana, karena biasanya belanja di Pasar Wage, harganya jauh lebih murah,” tuturnya, Selasa (14/7/2020).

Ibu Sum mengatakan, banyak pelanggannya yang tidak bisa mendapatkan kebutuhan untuk memasak, seperti ayam, bandeng, tongkol dan sejenisnya. Karena ia memang tidak membelinya.

“Harganya di Pasar Cermai mahal, jadi kalau untuk dijual lagi, susah. Kalau saya menaikkan harga, nanti pelanggan saya yang protes,” katanya.

Hal senada juga diungkapkan salah satu warga Kota Purwokerto, Bu Cahyo. Ia mengaku kesulitan untuk belanja kebutuhan dapur. Di kompleks perumahannya memang ada penjual sayuran yang menjadi langganannya. Namun, karena Pasar Wage tutup, penjual sayuran tersebut dagangannya tidak lengkap.

Salah satu warga Kota Purwokerto, Bu Cahyo di rumahnya, Selasa (14/7/2020). Foto: Hermiana E. Effendi

“Kata penjualnya, dia terpaksa kulakan di Pasar Ajibarang, untuk sayuran di sana harganya relatif sama dengan Pasar Wage. Hanya saja, penjualnya tidak jualan ayam, karena katanya di Pasar Ajibarang, harga ayam mahal, kalau dijual lagi khawatir tidak laku,” jelasnya.

Sementara untuk mencari penjual ayam keliling juga susah sejak Pasar Wage tutup. Biasanya ada beberapa pedagang ayam yang naik motor berkeliling, namun hari ini tidak berjualan.

“Saya sudah coba cari penjual ayam keluar kompleks perumahan, tetapi juga tidak ketemu. Kelihatannya banyak yang tidak berjualan, karena sebagian besar pedagang keliling memang kulakannya di Pasar Wage. Padahal Pasar Wage tutup sampai tiga hari,” pungkasnya.

Lihat juga...