Pemerintah Indonesia Aktif Lakukan Mitigasi Bencana Tsunami

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Anugerah wilayah geografis Indonesia, memang memberikan sumber daya alam yang berlimpah. Tapi di sisi lain, lokasi geografis ini juga menjadikan Indonesia sebagai salah satu wilayah yang rawan akan bencana, salah satunya adalah tsunami. Fakta ini mendorong pemerintah Indonesia secara aktif melakukan mitigasi tsunami untuk mengurangi dampak negatifnya.

Kepala Badan Riset dan SDM Kelautan dan Perikanan (BRSDM), Prof Sjarief Widjaja, PhD, FRINA, menyatakan pemerintah Indonesia melakukan tindakan aktif dalam melakukan mitigasi tsunami dengan membangun fasilitas peringatan dini dan juga kegiatan sosialisasi yang bekerja sama dengan instansi lainnya untuk masyarakat pesisir.

“Selain itu, Indonesia dalam hal ini Pusat Riset Kelautan, juga melakukan kerja sama dengan pihak lainnya, dalam membangun fasilitas peringatan dini tsunami yang berbiaya rendah untuk mengantisipasi kejadian tsunami dan menghindari jatuhnya korban jiwa,” kata Sjarief dalam seminar internasional yang digelar oleh BRSDM, Kamis (16/7/2020).

Sjarief menyatakan sosialisasi dilakukan khususnya kepada masyarakat pesisir, dengan tujuan agar mereka memahami apa yang harus dilakukan jika terjadi peristiwa tsunami.

Perwakilan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Fegi Nurhabni, menyatakan kebijakan dalam mitigasi bencana tsunami membutuhkan kolaborasi semua lini stakeholder, baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

Perwakilan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Fegi Nurhabni saat seminar internasional yang digelar oleh BRSDM, Kamis (16/7/2020) – Foto: Ranny Supusepa

“Mitigasi bencana tsunami, harus dilakukan terutama pada area pesisir dan pulau kecil. Dengan menerapkan pembangunan vegetasi wilayah pesisir sesuai dengan perhitungan kemampuan gelombang masuk ke daratan, yang menurut perhitungan kami pada salah satu area yang terpapar adalah sekitar 198 meter, diharapkan terjangan ombak akan berkurang,” kata Fegi dalam kesempatan yang sama.

Karena pembangunan vegetasi yang tepat akan mampu untuk mengurangi hingga 88,2 persen dampak gelombang tsunami.

“Vegetasi pesisir ini digunakan sebagai penghalang alami. Dan jika digabungkan dengan hybrid engineering akan mampu mengurangi dampak negatif dari tsunami. Salah satu yang sudah dilakukan adalah di Pantai Teleng Ria dan Desa Muara Putus Agam, yang dilakukan penanaman vegetasi lokal pada daerah yang sebelumnya kosong,” ujarnya.

Mitigasi juga dilakukan dengan berkoordinasi dengan pihak BMKG, yang memegang kontrol dalam pengoperasian InaTews, sebagai alat untuk memonitor adanya gempa yang berpotensi menyebabkan tsunami.

“Notifikasi akan muncul jika kekuatan gempa melebihi standar yang sudah disampaikan dan notifikasi ini akan langsung diterima oleh para pemegang kewenangan dalam hal mitigasi tsunami,” ucapnya.

Selain itu, dengan digunakannya kearifan lokal dalam hal mitigasi bencana tsunami, diharapkan juga mampu memaksimalkan penanganan akibat tsunami ini.

“Kejadian tsunami merupakan kejadian berulang. Sehingga dengan menggunakan kearifan lokal, maka masyarakat akan bisa belajar dan mewaspadai kejadian ini,” pungkasnya.

Lihat juga...