Pengamat: Kluster Baru Covid-19 di Secapa AD, ‘Warning’

Pengamat pertahanan dan keamanan Ngasiman Djoyonegoro. -Ant

JAKARTA – Pengamat intelijen, pertahanan, dan keamanan, Ngasiman Djoyonegoro, mengatakan bahwa Sekolah Calon Perwira TNI Angkatan Darat yang menjadi kluster baru Covid-19 merupakan peringatan untuk memperketat protokol kesehatan di tengah normal baru.

“Ini jelas warning, ya. Artinya, meski sekarang diberlakukan new normal, protokol kesehatan harus tetap diperhatikan,” kata Ngasiman Djoyonegoro, melalui pernyataan tertulis di Jakarta, Sabtu (11/7/2020).

Secapa AD di Bandung menjadi kluster baru virus Covid-19 setelah sebanyak 1.262 siswa dan pengajar tertular virus tersebut. Jika Secapa AD saja bisa menjadi kluster baru, kata Simon, sapaan akrab Ngadiman, potensi di sekolah-sekolah lain juga cukup tinggi.

“Secapa AD yang punya kedisiplinan tinggi bisa jadi kluster baru, gimana dengan sekolah yang lain?” kata Direktur Eksekutif Center of Intelligence and Strategic Studies (CISS) itu.

Karenanya, Simon berharap sekolah-sekolah di bidang angkatan lainnya, seperti Secapa Sesko dan Sespimti, sebaiknya harus memperketat protokol kesehatannya.

Bahkan, kata dia, seharusnya diberlakukan secara daring saja seperti sekolah-sekolah lain pada umumnya.

Menurut Simon, para pimpinan harus melihat, bahwa kluster baru Secapa AD harus menjadi pelajaran penting untuk mengantisipasi agar jangan sampai ada muncul kluster-kluster berikutnya, karena inti normal baru adalah memulai dengan cara-cara yang baru, bukan dengan cara seperti semula.

“Inti new normal, bahwa kita harus mulai cara-cara baru dalam berkehidupan, bukan menjadikan semuanya normal kembali. Artinya, new normal harus menjadi adaptasi kebiasaan baru,” katanya menerangkan.

Untuk itu, para pimpinan harus memberikan contoh soal adaptasi kebiasaan baru tersebut, misalnya dengan menggelar sekolah daring sambil menunggu situasi Covid-19 kondusif.

“Para pimpinan harus memberikan contoh, termasuk sekolah daring perlu digelar sebagai solusi,” katanya.

Kalau pun harus digelar sekolah tatap muka, lanjut dia, harus ada protokol khusus, misalnya siswa dengan usia berapa di bawah 45 tahun tatap muka, sementara yang usia di atas 45 tahun melalui daring.

“Faktor usia juga penting sebagai protokol khusus. Kalau sekolah yang usianya 45 ke atas, kegiatan fisiknya terbatas atau malah fokusnya klasikal, ya, sebaiknya daring saja,” kata Simon menegaskan.

Selain pelaksanaan protokol kesehatan seperti pemakaian masker, hand sanitizer, dan menjaga jarak, dia memandang perlu monitoring ketat, termasuk melakukan tes cepat secara berkala. (Ant)

Lihat juga...