Pengendara Diminta Waspadai Jalur Rawan Longsor di Sulteng

PALU – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Tengah, meminta para pengendara yang melintas di jalur rawan longsor tetap waspada, karena bencana itu sewaktu-waktu bisa terjadi di saat musim hujan seperti sekarang ini.

“Jangan lengah. Jika melintas di ruas jalan rawan bencana longsor harus ekstra hati-hati, agar terhindari dari musibah yang sama-sama kita tidak inginkan,” kata Bartholomeus Tandigala, kepala BPBD Provinsi Sulteng di Palu, Senin (13/7/2020).

Imbauan itu disampaikan mengingat kondisi cuaca di wilayah Sulteng beberapa hari terakhir dan ke depan cukup buruk, sehingga perlu mendapat perhatian semua pihak, termasuk para pengendara sepeda motor maupun mobil.

Terdapat sejumlah poros jalan yang perlu diwaspadai seperti ruas jalan nasional dan penghubung Trans Sulawesi ke Kota Palu, yang selama ini lebih dikenal jalur Kebun Kopi.

Jalur itu, kata dia, rawan bencana alam tanah longsor dan arus kendaraan yang melintas terbilang cukup ramai dan padat.

Selain di sisi kiri dan kanan jurang sangat dalam dan tebing dengan kondisi tanah labil, juga badan jalan licin saat hujan, sehingga rawan tanah longsor dan kecelakaan lalulintas (lakalantas).

Selain poros tersebut, juga poros jalan Tambu-Kasimbar, Poso-Tentena, Poso-Luwuk,Tentena-Taripa, Palu-Napu, Poso-Napu dan Palu-Kulawi.

“Itu jalur darat yang selama ini rawan dan perlu mendapat perhatian dari pengendara,” kata Bartholomeus.

Hal senada juga disampaikan Kepala Bidang Angkutan Jalan, Keselamatan dan Perkerataapian Dinas Perhubungan Provinsi Sulteng, Sumarno. Ia mengingatkan pengendara untuk lebih berhati-hati melewati wilayah-wilayah yang rawan longsor.

Apalagi, kata dia, dalam beberapa hari terakhir ini curah hujan, termasuk di poros jalan nasional Kebun Kopi cukup tinggi.

Bahkan, beberapa waktu lalu di kawasan Kebun Kopi terjadi bencana tanah longsor, namun tidak menghambat arus lalulintas kendaraan karena ada petugas dan alat berat yang disiagakan di ruas jalan nasional tersebut.

Memang jalannya sudah lebar, tetapi sewaktu-waktu tanah longsor bisa terjadi, sebab struktur tanahnya labil.

Ruas jalan Taweli-Toboli sepanjang sekitar 46 km itu memiliki tikungan sekitar 300 sehingga perlu ekstra hati-hati dari pengendara.

Ketika menjawab pertanyaan, Sumarno mengatakan selama masa normal baru ini, arus kendaraan angkutan penumpang, baik angkutan kota antarprovinsi dan angkutan kota dalam provinsi (AKAP/AKDP) yang beroperasi mulai kembali normal, meski penumpang dibatasi sesuai protokol kesehatan Covid-19. Penumpang maupun sopir dan kondektur wajib menjalankan protokol kesehatan. (Ant)

Lihat juga...