Penghuni Karantina GOR Satria Purwokerto Didominasi dari Jakarta

Editor: Makmun Hidayat

PURWOKERTO — Sejak dibuka kembali satu minggu lalu sebagai tempat karantina, sampai dengan saat ini penghuni karantina di GOR Satria ada 43 orang. Sebagian besar penghuni merupakan warga Kabupaten Banyumas yang baru pulang dari Jakarta.

“Kebanyakan penghuni dari masyarakat yang baru pulang dari Jakarta dan mereka baru diperbolehkan pulang, kalau hasil swab test sudah keluar dan dinyatakan negatif,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas, Titik Puji Astuti, Selasa (14/7/2020).

Dari data di GOR Satria, sebanyak 6 orang sudah diperbolehkan pulang, sehingga yang tersisa saat ini ada 37 penghuni. Selain dari Jakarta, beberapa penghuni GOR Satria juga ada yang baru pulang dari luar Pulau Jawa, seperti Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara Timur dan lainnya. Ada juga yang dari luar negeri, yaitu dari Malaysia dan Hongkong.

“6 orang yang sudah diperbolehkan pulang ini, hasil swab test negatif,” jelasnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas, Titik Puji Astuti di Purwokerto, Selasa (14/7/2020). -Foto: Hermiana E. Effendi

Dari pemeriksaan petugas, seluruh penghuni karantina GOR dalam kondisi sehat dan suhu tubuhnya normal. Sebanyak 34 penghuni sekarang sedang menunggu hasil swab test, sehingga tinggal 3 orang penghuni yang belum dilakukan swab test.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan (Dinhub) Kabupaten Banyumas, Agus Nur Hadie mengatakan, sampai saat ini Pemkab Banyumas belum mengaktifkan kembali penjagaan di perbatasan wilayah. Sebaliknya, petugas fokus melakukan operasi masker serta penyekatan dan pembatasan di dalam kabupaten.

Sehingga para penghuni karantina GOR Satria sebagai besar datang dengan kesadaran sendiri atau ada yang disarankan oleh pihak keluarga atau pun tetangga untuk melakukan karantina terlebih dahulu di GOR Satria.

“Untuk posko di perbatasan belum diaktifkan lagi, tetapi kita lebih menekankan pada pelaksanaan program Jaga Tangga atau menjaga tetangga. Program tersebut merupakan program dari gubernur Jawa Tengah, di mana jika ada warga yang mengetahui adanya pendatang atau pemudik, diminta untuk melapor ke gugus tugas setempat, yaitu gugus tugas RT,” terangnya.

Nantinya secara berjenjang, lanjutnya, laporan tersebut akan sampai ke gugus tugas kabupaten. Jika pendatang atau pemudik tersebut tidak pro aktif datang ke GOR Satria setelah diingatkan warga, maka akan dijemput oleh petugas gugus tugas.

Menurut Agus Nur Hadie, saat ini sudah tumbuh kesadaran masyarakat untuk menolak pendatang dari luar kota, sebelum yang bersangkutan melakukan karantia. Sehingga program Jaga Tangga ini cukup efektif diterapkan, hingga ke tingkat desa dan kelurahan, bahkan RT-RW.

Lihat juga...