Pentingnya Penggunaan Obat Rasional dalam Mencegah Resistensi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

etua Tim Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) Rumah Sehat Terpadu (RST) Dompet Dhuafa dr. Bambang Agustian, SpPD saat dihubungi usai Pelatihan PPRA, Jumat (10/7/2020) - Foto Ranny Supusepa

JAKARTA — Penggunaan obat rasional merupakan istilah yang diberikan untuk memaksimalkan fungsi obat sesuai dengan dosis dan kebutuhan klinis. Ini penting untuk mencegah terjadinya resistensi pada pasien.

Ketua Tim Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) Rumah Sehat Terpadu (RST) Dompet Dhuafa dr. Bambang Agustian, SpPD menyatakan penggunaan dosis yang tepat sangat penting dalam mencegah mikroba resistensi. Dan masing-masing individu memiliki kebutuhan obat yang berbeda.

“Dosis yang diberikan melalui berbagai obat-obatan biasanya akan disesuaikan dengan kondisi penyakit yang diderita. Fungsinya untuk mengendalikan mikroba Resistensi,” kata Bambang saat dihubungi, Jumat (10/7/2020).

Sehingga penting sekali bagi para petugas medis dan juga pasien untuk memahami akan hal ini.

“Pengendalian resistensi antimikroba merupakan aktivitas yang ditunjukan untuk mencegah atau menurunkan adanya kejadian mikroba resistensi. Hal ini menjadi penting karena resistensi terhadap antimikroba telah menjadi masalah kesehatan yang mendunia dengan dampak kerugian yang dapat menurunkan mutu dan meningkatkan resiko biaya dan keselamatan pasien,” urainya.

Ia memaparkan bahwa pemilihan jenis antibiotik yang digunakan di rumah sakit didasarkan pada kebijakan atau pedoman penggunaan antibiotik, pedoman diagnosis dan terapi atau protokol Terapi serta Formularium Rumah Sakit yang disahkan oleh Direktur Rumah Sakit

“Rumah sakit berperan dalam memberikan edukasi dan informasi tentang pengendalian resistensi antibiotik serta pencegahan dan pengendalian infeksi kepada tenaga kesehatan, pasien dan keluarga pasien,” urainya.

Ia menekankan bahwa kegiatan edukasi yang disertai dengan sosialisasi tentang kebijakan dan prosedur restriksi antibiotik dapat meningkatkan efektivitas edukasi.

“Yang dimaksud resistensi antimikroba adalah ketidakmampuan antimikroba membunuh atau menghambat pertumbuhan mikrobase hingga penggunaannya sebagai terapi infeksi menjadi tidak efektif lagi,” ujarnya tegas.

Bambang menyebutkan bahwa penyakit infeksi di Indonesia masih termasuk dalam sepuluh penyakit terbanyak. Penggunaan antibiotik yang tidak perlu atau berlebihan mendorong berkembangnya resistensi dan multipel resisten terhadap bakteri tertentu yang akan menyebar melalui infeksi silang.

“Terdapat hubungan antara penggunaan atau kesalahan penggunaan antibiotik dengan timbulnya resistensi bakteri penyebab infeksi nosokomial. Resistensi tidak dapat dihilangkan, tetapi dapat diperlambat melalui penggunaan antibiotik yang bijak. Hal tersebut membutuhkan kebijakan dan program pengendalian antibiotik yang efektif,” tandasnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Manager Penunjang Medis RST Dompet Dhuafa Jumpa Utama yang menyatakan bahwa sosialisasi terkait PPRA sejalan dengan program dari Kementerian Kesehatan dimana RST turut berupaya mengendalikan resistensi antimikroba.

“Ini merupakan bagian dalam program resmi Kemenkes dan alhamdulilah kita telah menjalankannya,” ucapnya saat dihubungi terpisah.

Lihat juga...