Petambak Sambut Positif Sistem Klaster Budi Daya Udang

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Sejumlah petambak udang putih atau vaname di kecamatan Ketapang, Lampung Selatan (Lamsel) menyambut positif sistem klaster budidaya udang.

Karyanto, salah satu pembudidaya udang vaname di Desa Pematang Pasir menyebut selama ini warga merupakan petambak tradisional, semi intensif dengan sistem individu.

Karyanto, pembudidaya udang vaname sekaligus pelaku usaha jual beli udang vaname di Desa Pematang Pasir, Kecamatan Ketapang Lampung Selatan saat dikonfirmasi, Senin (6/7/2020) – Foto: Henk Widi

Permodalan, pengelolaan tambak udang dilakukan oleh warga secara swadaya. Sistem klaster memungkinkan petambak melalukan budidaya udang dalam satu kawasan minimal 5 hektare. Sistem tersebut dilakukan untuk memudahkan petambak melakukan budidaya berkelanjutan. Selama ini petambak memanfaatkan irigasi tambak dengan memakai mesin pompa terbatas.

Adanya perhatian dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) disebutnya menjadi upaya peningkatan produksi udang. Sejumlah petambak udang di pesisir timur Lamsel selama ini terkendala pasokan air melalui kanal-kanal. Kanal berasal dari aliran sungai Way Sekampung serta air laut Jawa dan sebagian menggunakan mesin bor.

“Petambak tradisional yang berada di dekat kawasan klaster bisa memanfaatkan fasilitas pengelolaan tambak partisipatif sehingga irigasi selalu lancar untuk budidaya udang,” terang Karyanto saat ditemui Cendana News, Senin (6/7/2020).

Sistem tambak tradisional diakui Karyanto kerap menghasilkan air buangan tambak (effluent). Fasilitas kanal yang menyatu dengan petambak lain membuat saluran pemasukan (inlet) menyatu dengan saluran pembuangan (outlet). Imbasnya saat terjadi serangan hama penyakit akan membahayakan bagi tambak udang lain. Adanya klasterisasi disebutnya akan menguntungkan petambak.

Joko, petambak lain yang memanfaatkan kanal bersama untuk budidaya mengaku perlu perbaikan kanal. Sebab saluran irigasi yang dimanfaatkan oleh petambak berupa kanal tanah. Pada masa penghujan kanal tersebut kerap mengalami pendangkalan sehingga pasokan air terganggu. Adanya fasilitas saluran dan alat berat jenis excavator bisa dimanfaatkan untuk perbaikan irigasi.

“Petambak tradisional kesulitan mendatangkan alat berat untuk pembersihan kanal karena biayanya mahal,” cetusnya.

Petambak tradisional yang digandeng oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) disebutnya bisa menerapkan sistem pertambakan yang baik. Sistem klaster budidaya udang vaname diakuinya sangat tepat dilakukan pada wilayah Pematang Pasir.

Sebab lokasi yang strategis di Jalan Lintas Timur ikut mendukung proses produksi, distribusi dan pasokan kebutuhan budidaya.

Zainal Fathoni, kepala Desa Pematang Pasir menyebut desanya menjadi lokasi klaster budidaya udang. Lokasi yang akan dijadikan klaster menurutnya telah ditinjau karena berada di kawasan pesisir dan masuk wilayah hutan bakau. Sebagian wilayah telah menjadi tempat budidaya udang vaname secara tradisional oleh warganya.

Zainal Fathoni, kepala Desa Pematang Pasir, Kecamatan Ketapang Lampung Selatan yang dipilih sebagai lokasi klaster budidaya udang oleh KKP, Senin (6/7/2020) – Foto: Henk Widi

“Penetapan klaster budidaya udang ikut membantu petambak mengelola usaha yang ramah lingkungan dan produktif,” paparnya.

Selain dijadikan klaster budidaya udang Desa Pematang Pasir yang menjadi wakil Kabupaten Lamsel mendapat fasilitas. Fasilitas yang diberikan meliputi excavator, pengelolaan irigasi tambak partisipatif (PITAP), benih ikan, bibit rumput laut, premi asuransi petambak dan bioflok. Dukungan dari pemerintah melalui KKP akan mengembalikan kejayaan kawasan tersebut sebagai sentra udang.

Slamet Soebjakto, Dirjen Perikanan Budidaya KKP menyebut klaster budidaya udang sangat penting. Apalagi prinsip budidaya udang berkelanjutan yang berada di kawasan kehutanan sosial milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Dana senilai Rp8,13 miliar bisa dimanfaatkan untuk pengembangan klaster.

Ia juga menyebut pengembangan tambak udang berkelanjutan akan dilakukan dengan mengatur outlet dan inlet. Pengelolaan air yang akan digunakan bagi petambak harus ditempatkan pada reservoir agar air diendapkan yang digunakan baik untuk budidaya. Fasilitas excavator dipakai untuk meninggikan tanggul, membuat tambak baru.

“Pelaku usaha tambak diharapkan bisa menerapkan prinsip berkelanjutan pada budidaya udang,” paparnya.

Sistem klaster budidaya udang di Lamsel dengan pilihan pada pantai Timur menurutnya tidak akan merusak hutan mangrove.

Prinsip berkelanjutan di antaranya dengan menjaga kawasan tambak tetap mempertahankan kelestarian hutan mangrove. Keberadaan hutan mangrove sekaligus akan meningkatkan kualitas tambak yang dibudidayakan dalam satu klaster.

Lihat juga...