PHK di Semarang Tinggi, Perusahaan Diminta Kembali Beroperasi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Semarang, selama pandemi covid-19, sejak awal Mei 2020, ada 89 perusahaan yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) ataupun merumahkan karyawan. Jumlahnya mencapai 14.065 orang, dengan rincian 5.638 orang kena PHK dan 8.427 orang dirumahkan.

“Dampak pandemi covid, sangat dirasakan dunia usaha. Banyak perusahaan yang hanya mampu mempertahankan 30% produksi. Sekarang ini, seiring dengan kelonggaran pembatasan kegiatan masyarakat (PKM), perusahaan ini kan ibarat baru bangun tidur,” papar Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng, Frans Kongi di Semarang, Selasa (7/7/2020).

Di satu sisi, langkah pencegahan penyebaran covid-19, juga perlu diterapkan. Pihaknya sudah mengirim surat imbauan, kepada semua pengusaha di 35 kabupaten/kota di Jateng, yang tergabung dalam Apindo untuk memperketat protokol kesehatan terkait covid-19.

“Sudah kita minta seluruh pengusaha, untuk perketat protokol kesehatan di pabrik-pabrik atau industri, yang jumlah karyawannya bisa ribuan. Buat aturan khusus untuk aturan protokol kesehatan,” terangnya.

Terpisah, Kepala Disnaker Kota Semarang, Sutrisno, memaparkan, sejauh ini sektor tertinggi penyumbang angka PHK pada pabrik garmen, sementara untuk yang dirumahkan dari sektor perhotelan.

“Mayoritas yang PHK dari pabrik garmen. Sementara, yang dirumahkan mayoritas dari perhotelan, jasa, pariwisata. Namun seiring dengan kelonggarakan PKM, perusahaan kembali beroperasi, mereka yang dirumahkan sebagian sudah dipekerjakan lagi,” paparnya.

Sejauh ini, Disnaker melalui Balai Latihan Kerja (BLK) telah memberikan pelatihan kepada korban PHK, berupa pembuatan masker. Juga pendaftaran kartu prakerja yang merupakan program dari Pemerintah Pusat. “Dari data kami, ada sebanyak 5.133 orang yang lolos seleksi kartu prakerja,” pungkasnya.

Lihat juga...