Poktan Bolawolon di Sikka Kembangkan Sayur Organik

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Kelompok Tani (Poktan) tersebar di Kabupaten Sikka Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) jarang yang fokus mengembangkan holtikultura terutama sayuran organik. Peluang ini coba dimanfaatkan oleh Kelompok Tani Bolawolon di Desa Tana Duen Kecamatan Kangae yang terbentuk 13 Maret 2020 dan fokus mengembangkan sayuran organik.

“Kelompok tani kami terbentuk tanggal 11 Maret 2020 atas inisiatif semua anggota. Selama ini banyak kelompok tani yang dibentuk dan setelah mendapatkan bantuan tidak berjalan lagi,” sebut Amandus Ratason, Ketua Kelompok Tani Bolawolon Desa Tana Duen Kecamatan Kangae, Senin (6/7/2020).

Amandus menyebutkan, akibat dampak  Covid-19 membuat aktivitas dilakukan di rumah saja sehingga dirinya mengajak orang-orang untuk bergerak di hoktikutura dan bertani sayuran organik.

Anggota kelompok tani, sebutnya, terdiri dari pensiunan PNS Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, guru, sopir, tukang bangunan, montir, tukang ojek dan beragam profesi lainnya.

“Anggota kami terdiri atas 22 perempuan dan 28 laki laki dan kami prihatin sudah banyak bentuk kelompok tapi kelompok tersebut hanya dapat bantuan dan tidak ada kelanjutannya,” sesalnya.

Ketua Kelompok Tani Bolawolon, Amandus Ratason, saat ditemui di kebun sayurnya, Senin (6/7/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Kelompok Tani Bolawolon sebut Amandus, sudah empat kali panen aneka jenis sayuran seperti berbagai jenis sawi, kangkung, paria, kol, bayam, lombok, tomat serta sawi green put soi yang tidak ditanam petani lainnya.

Para pembeli ungkapnya banyak yang datang sendiri ke kebun mereka memilih dan mencabut sendiri sayuran yang diinginkan lalu membayarnya sesuai harga jual.

“Kami menjuanya dari rumah ke rumah dan banyak yang senang mengkonsumsi sayuran organik. Mereka mengatakan setelah mengkonsumsi sayuran organik rasanya beda dan lebih sehat sehingga tetap membeli sayuran kami,” tuturnya.

Amandus mengatakan sejak awal terbentuk dana untuk mengembangkan pertanian ini berasal dari swadaya anggota dan belum ada bantuan dari pemerintah sama sekali.

Bahkan tanah untuk lokasi pertanian ini sebutnya merupakan milik pengusaha di Geliting yang diserahkan untuk digarap tanpa ada biaya sepeser pun.

“Saya melihat tanah ini tidak digarap dan dibiarkan terlantar sehingga saya memberanikan diri untuk meminta izin menggarapnya. Pemiliknya juga sangat mendukung kami untuk memanfaatkan lahan kosong ini untuk bertani organik,” ucapnya.

Sementara itu, Elisabet Bunga Sengsara, salah satu anggota kelompok yang merupakan pensiunan PNS Dinas Kesehatan mengaku senang bergabung di kelompok tani ini.

Elisabet mengatakan awalnya ragu apakah perempuan dan pensiunan PNS seperti dirinya bisa bergabung, ternyata dirinya bisa diterima dengan tangan lapang sehingga merasa bersyukur bisa menjadi anggota Kelompok Tani Bolawolon.

“Saya bersyukur bisa bergabung dan di sini kami semua belajar secara otodidak. Orang tua saya juga petani dan saya juga senang bertani sehingga bisa mengisi waktu pensiunan dengan bertani apalagi kelompok ini kembangkan pertanian organik,” ungkapnya.

Lihat juga...