Poktan Bolawolon di Sikka Miliki Tiga Keunggulan

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Banyak Kelompok Tani (Poktan) yang tersebar di 21 kecamatan di Kabupaten Sikka Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan bergerak di bidang pertanian memiliki berbagai keunggulan.

Kelompok Tani Bolawolon di Desa Tanaduen di Kecamatan Kangae merupakan salah satu kelompok tani yang dibentuk sendiri tanpa campur tangan dari pemerintah baik pemerintah desa maupun kabupaten.

“Kami terbentuk secara swadaya dan tanpa campur tangan dari pemerintah. Kami beranggotakan 50 orang yang terdiri dari 22 perempuan dan 28 laki-laki,” sebut Ketua Kelompok Tani Bolawolon Desa Tanaduen Kecamatan Kangae, Amandus Ratason, Senin (6/7/2020).

Amandus mengatakan, kelompok taninya memiliki 3 keunggulan yang membuat kelompoknya tampak berbeda dengan kelompok tani lainnya di Kabupaten Sikka maupun di NTT.

Kelompok tani Bolawolon, sebutnya, pertama fokus mengembangkan pertanian organik. Keunggulan kedua, ucapnya, kelmpoknya memiliki arisan rumah dan ketiga dipimpin oleh seorang disabilitas.

“Setiap anggota saya membagi lahan masing-masing untuk digarap dan bertanggung jawab sendiri mengolah lahannya. Saya juga tidak mengintervensi mereka sehingga ada rasa tanggung jawab dalam diri anggota,” ucapnya.

Ketua Kelompok Tani Bolawolon, saat ditemui di kebun sayurnya, Senin (6/7/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Sebagai ketua kelompok, kata Amandus, dirinya tidak mencampuri urusan keuangan dan administrasi karena urusan keuangan diatur bendahara dan ada sekretaris yang mengatur soal administrasi.

Dirinya pun membuat arisan rumah di mana Kelompok Tani Bolawolon membangun rumah layak huni dan sehat yang ada kamar mandi dan toilet yang diperuntukan bagi anggota kelompok.

“Anggota kami banyak keluarga baru dan belum memiliki rumah. Kami membuat perbandingan dengan pemerintah yang membantu membangun rumah layak huni sekitar Rp90 juta per unit di mana dengan anggaran tersebut kami bisa membangun 3 buah rumah layak huni lengkap dengan kamar mandi dan toilet,” ujarnya.

Sebagai penyandang disabilitas dirinya melihat banyak penyandang disabilitas yang hidupnya bergantung kepada campur tangan orang lain. Ini yang membuatnya berinisiatif menggerakkan orang lain dan memimpin orang bekerja sebagai petani holtikultura organik.

Sebagai ketua penyandang disabilitas di Kabupaten Sikka, ucapnya, dirinya ingin memberi contoh kepada kaum disabilitas bahwa secara fisik memiliki kekurangan tapi  jangan berharap bantuan dari orang lain.

Disabilitas ucapnya, harus memiliki inisiatif sendiri untuk bekerja mendapatkan penghasilan dan bila perlu bisa memberikan motivasi dan mengerakkan orang lain untuk bekerja.

“Kami ada arisan rumah sehat dan layak huni dan baru mulai membangun rumah salah satu anggota. Saat ini sudah 50 persen dikerjakan dan uangnya dari arisan anggota. Setiap anggota membantu uang,bahan bangunan serta membantu pengerjaannya,” jelasnya.

Kelompok Tani Bolawolon tegas Amandus,fokus kembangkan pertanian organik. Masyarakat yang membelinya, kata dia, selalu datang dan menyampaikan bahwa setelah mengonsumsi sayuran organik rasanya berbeda.

Dia akui sayuran produksi kelompok taninya ukurannya lebih kecil karena tidak memakai pupuk kimia sehingga lebih sehat untuk dikonsumsi. Kelompoknya pun sudah ditawari Polsek Kewapante untuk jadi kampung siaga terkait ketahanan pangan organik.

“Poskonya ada di kebun kami karena setiap saat ada orang di sini dan kebetulan ada anggota kami mantan pegawai Dinas Kesehatan sehingga bisa membantu di kampung siaga,” tuturnya.

Luas kebun holtikultura organik tersebut jelas Amandus awalnya satu hektare dan untuk memulainya, setiap anggota menyumbangkan dana secara swadaya di mana modal yang dikeluarkan sekitar Rp10 juta.

Sampai sekarang ucapnya, pihaknya belum kembali modal sebab penghasilan yang didapat sebagian dipergunakan untuk membayar utang. Anggota kelompok pun, bebernya, belajar secara otodidak dan sambil berjalan mereka bertanya kepada petani lainnya serta konsultasi di Balai Penyuluhan Pertanian.

“Kami belajar sendiri termasuk membuat pupuk organik bokasi yang bahannya dari kotoran ternak dicampur dengan dedaunan.Awalnya kami siapkan sekitar 20 ron dan saat ini hanya tersisa sekitar 5 ton,” jelasnya.

Prospek yang bagus kata Amandus, membuat kelompoknya sedang membuka lahan baru milik anggota seluas 2 hektare yang akan ditanami tomat dan lombok.

Anggota Kelompok Tani Bolawolon, Elisabet Bunga Sengsara, pensiunan PNS Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka tahun 2018 yang bekerja di Puskesmas Kopeta mengaku senang bisa bergabung di kelompok tani ini.

Menurut Elisabet, daripada di rumah hanya duduk saja dan tidak ada aktivitas, lebih baik dirinya bergabung di kelompok tani ini dan ikut bertani holtikultura secara organik.

“Saya senang di kelompok ini ada arisan rumah sehingga bisa membantu anggota memiliki rumah yang layak huni. Apalagi banyak anggota yang pendapatannya minim sehingga bisa terbantu dan memiliki rumah tinggal sendiri,” pungkasnya.

Lihat juga...