Polda Sumbar Ungkap Pelaku Ilegal Mining dan Penyimpanan Migas

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

PADANG — Kabid Humas Kepolisian Daerah Sumatera Barat (Polda Sumbar) menyebutkan, tindak pidana illegal mining dari Desember 2019 hingga Juli 2020 terjadi sebanyak 25 kasus dengan 52 tersangka.

“Dari 25 kasus tersebut dengan perkara yang sudah P1 sebanyak 15 kasus, sidik masih dalam proses 7 kasus, masih lidik 2 kasus, dan SP2 lidik 1 kasus,” sebut Kombes Pol Stefanus Setake Bayu saat konferensi pers di lantai empat Polda Sumatera Barat, Kamis (16/7/2020).

Dikatakannya ada tiga kasus teratas. Pertama dugaan tindak pidana melakukan penyimpanan Bahan Bakar Minyak (BBM) diduga minyak tanah tanpa izin di Villa Idaman Blok E/23 RT 005/RW 001, Kelurahan Sungai Sapih, Kecamatan Kuranji, Kota Padang.

Tersangka berinisial C (44 tahun) ditangkap sekitar pukul 22.30 WIB, Rabu (20/5). Dari tangan tersangka berhasil diamankan barang bukti 6 buah tedmon, terdiri dari 4 tedmon berisi minyak tanah dan 2 tedmon kosong. Kemudian, 36 drum dengan kapasitas 220 liter, 29 drum di antaranya berisikan BBM jenis minyak tanah.

“Lalu, 40 jerigen kapasitas 35 liter. Dari jumlah itu, 13 jerigen berisikan minyak tanah. Tak hanya itu, kami juga menyita mesin pompa, selang, sepeda motor hingga uang tunai senilai Rp2,7 juta serta satu unit telepon genggam,” sambungnya.

Atas perbuatannya, tersangka dikenakan pasal 53 huruf c dan d Juncto Pasal 23 Undang-Undang Nomor 22 tahun 2001 tentang Minyak dan gas bumi.

Kedua, pengungkapan dugaan tindak pidana meniru atau memalsukan BBM jenis bensin dan melakukan penyimpanan tanpa izin bakar minyak tanah.

Diketahui, tersangka berinisial I (36 tahun) warga Kelurahan Ujung Batung, Kecamatan Pariaman Tangah, Kota Pariaman, yang diamankan di sebuah gedung di Desa Ampalu, Kecamatan Pariaman Utara, sekitar pukul 14.00 WIB sekitar (27/5).

Dari tangan tersangka berhasil menyita 4 tedmond isi 1000 liter, 7 jerigen isi 35 liter, 1 jerigen minyak tanah isi 20 liter, 3 botol pewarna cair yang telah digunakan, 2 karung bubuk penjernih yang telah digunakan, 3 tapung pewarna bubuk warna kuning dan 1 warna hijau, dan 3 buah drum berisikan minyak tanah.

“Lalu, 1 jerigen minyak tanah isi 20 liter, dua pompa air serta selang, 1 mesin pompa, 1 corong dan alat penakar minyak, 5 buku catatan dan HP genggam serta uang 2,5 juta,” sambungnya.

Atas perbuatannya tersangka dikenakan pasal 54 dan pasal 53 huruf c dan d Undang-undang nomor 22 tahun 2001 tentang minyak dan gas bumi.

Ketiga, dugaan tindak pidana pertambangan tanpa izin usaha berupa penambangan pasir dengan menggunakan excavator dan penambangan emas dengan menggunakan mesin dompeng di Jorong Koto Baringin, Kecamatan Tiumang, kabupaten Dharmasraya, Kamis (2/7) sekitar pukul 14.00 WIB.

Satake mengatakan, tersangka 7 orang dengan inisial SH (34 tahun), TA (33 tahun), H (33 tahun), R (24 tahun), A (40 tahun), M (41 tahun), T (41 tahun). Mereka semua warga Dharmasraya.

Dari kasus ini pihaknya berhasil mengamankan, satu unit excavator merk Hitachi 210 MF, satu mesin robin, satu buah selang air, satu alat dulang, satu lembar karpet, dua baterai/accu, dua baskom dan satu botol plastik berisikan air raksa atau merkuri.

“Mereka dikenakan pasal 158 Undang-Undang nomor 3 tahun 2020 tentang perubahan atas Undang-undang nomor 4 tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batubara,” ujarnya.

Sementara itu, Kasubdit IV Tipiter Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dirkrimsus) Polda Sumbar, AKBP David Harnedy Tampubolon mengatakan, ketiga kasus tersebut berdasarkan banyaknya laporan masyarakat sekitar yang resah akibat adanya penambangan ilegal tersebut.

Selanjutnya, dari informasi tersebut pihaknya menindaklanjuti dengan cara melakukan penyelidikan.

“Kami cek dan lakukan pengamanan serta membawa pelaku dan barang bukti ke kantor Polda Sumbar untuk proses hukum lebih lanjut,” pungkasnya.

Lihat juga...