Positif Covid-19 di Indonesia 72.347 Kasus dan 3.469 Meninggal

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Gugus Tugas Percepatan Penanganan kasus virus corona (Covid-19) kembali memperbaharui perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia.

“Hari ini kasus konfirmasi positif Covid-19 bertambah sebanyak 1.611 kasus baru, sehingga akumulasi pasien positif Covid-19 menjadi 72.347 kasus,” kata Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, saat jumpa pers di Gedung BNPB, Jakarta, Jumat (10/7/2020).

Dari total kasus positif tersebut, kata Yuri ada penambahan jumlah pasien sembuh sebanyak 878 orang demikian jumlah keseluruhan pasien sembuh sebanyak 33.529 orang. Di mana, sebut Yuri pasien sembuh terus bertambah dari hari ke hari dan sebuah kabar yang menggembirakan di tengah meningkatkan penambahan kasus positif Covid-19.

“Selain itu untuk kasus positif yang meninggal hari ini ada penambahan sebanyak 52 orang, sehingga jumlah keseluruhan positif yang meninggal sampai hari ini menjadi 3.469 orang,” ujarnya.

Menurut Yuri, penambahan pasien positif ini berdasarkan hasil pemeriksaan spesimen yang selesai diperiksa per hari Jumat (10/7/2020) sebanyak 23,609 spesimen, terdiri dari  RT-PCR sebanyak 22.798 spesimen dan TCM sebanyak 811 spesimen. Sehingga sampai saat ini, total pasien positif virus corona di Indonesia tembus di angka 72.347 orang.

“Untuk mencegah persebaran virus corona meluas, masyarakat selalu diminta disiplin mengenakan masker kain, menjaga jarak atau physical distancing saat berada di luar rumah, dan rajin mencuci tangan. Saat ini, mematuhi aturan protokol kesehatan tersebut adalah sebuah keharusan,” ungkapnya.

Sementara itu pelacakan Covid-19 di Indonesia terus dilakukan melalui metode usap dahak. Dan kata Yuri per Jumat (10/7/2020), pemerintah berhasil menguji 23,609 spesimen dan melampaui target 20 ribu tes per hari. Dengan demikian jumlah spesimen yang selesai diperiksa (kumulatif) sampai hari ini mencapai 1.015.678 spesimen.

Sementara itu, Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Nasional, Wiku Adisasmito, mengatakan pemahaman para ahli terhadap karakter virus SARS-CoV-2 terus berkembang. Hasil dari berbagai penelitian tersebut akan berpengaruh terhadap kebijakan pencegahan Covid-19 secara global.

Gugus Tugas telah menanyakan secara langsung kepada Badan PBB untuk Kesehatan Dunia (WHO) Indonesia mengenai perkembangan penelitian virus SARS-CoV-2. WHO Indonesia berkoordinasi aktif dengan para peneliti sejak April lalu.

“Salah satunya mengenai penelitian transmisi atau penularan lewat udara. Hasil dari penelitian yang ada menunjukkan bahwa transmisi udara belum terbukti secara pasti. WHO mendorong penelitian lebih lanjut di bidang ini. Seiring dengan transmisi melalui udara, kami melihat banyak rute transmisi lainnya, bekerja sama dengan para ahli dari berbagai bidang,” kata Wiku.

Lebih lanjut, Wiku menjelaskan bahwa transmisi Covid-19 melalui udara mungkin dapat terjadi pada kondisi dan keadaan tertentu di mana suatu tindakan yang menimbulkan partikel aerosol dilakukan, seperti memasang dan melepas selang intubasi endotrakea, bronkoskopi, penyedotan cairan dari saluran pernapasan, pemakaian nebulisasi, tindakan invasif dan non invasif pada saluran pernapasan dan resusitasi jantung paru.

Sementara itu, sebut Wiku, publikasi baru-baru ini dari New England Journal of Medicine telah mengevaluasi ketahanan virus penyebab COVID-19. Dalam kajiannya, aerosol terkumpul melalui sebuah alat yang kemudian dimasukkan ke dalam tabung Goldberg dalam lingkungan terkendali laboratorium. Alat tersebut merupakan mesin berkekuatan tinggi dan tidak merefleksikan kondisi normal manusia saat batuk.

“Penemuan pada kajian itu menunjukkan bahwa virus Covid-19 yang mampu bertahan di udara hingga 3 jam ini tidak mencerminkan kondisi klinis manusia di saat batuk. Kondisi tersebut terjadi pada saat eksperimen dilakukan untuk melihat konsentrasi partikel yang melayang di udara,” ujarnya.

Lihat juga...