Positif Covid-19 di Indonesia Capai 70.736 Kasus

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Gugus Tugas Percepatan Penanganan kasus virus corona (Covid-19) kembali memperbaharui perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia.

“Hari ini kasus konfirmasi positif Covid-19 bertambah sebanyak 2.657 kasus baru, sehingga akumulasi pasien positif Covid-19 sampai hari ini menjadi 70.736 kasus,” kata Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, saat jumpa pers di Gedung BNPB, Jakarta, Kamis (9/7/2020).

Dari total kasus positif tersebut, kata Yuri ada penambahan jumlah pasien sembuh sebanyak 1.066 orang, dengan demikian jumlah keseluruhan pasien sembuh sebanyak 32.651 orang. Di mana, sebut Yuri pasien sembuh terus bertambah dari hari ke hari dan sebuah kabar yang menggembirakan di tengah meningkatkan penambahan kasus positif Covid-19.

“Selain itu untuk kasus positif yang meninggal hari ini ada penambahan sebanyak 58 orang, sehingga jumlah keseluruhan positif yang meninggal sampai hari ini menjadi 3.417 orang,” ujarnya.

Yuri menyebutkan adanya penambahan jumlah kasus baru hari ini disebabkan institusi pendidikan kenegaraan Sekolah Calon Perwira Angkatan Darat (Secapa AD) di kawasan Hegarmanah, Kota Bandung, menjadi klaster baru penularan Covid-19 di Jabar. Di mana ada 1.262 kasus di Secapa yang berada di Bandung, Jawa Barat.

“Penambahan cukup banyak dari Jawa Barat. Ini dari klaster di sekolah calon perwira TNI AD. Dari ini ada 1.262 orang, namun hanya 17 orang yang kita rawat dan isolasi, sisanya sebanyak 1.245 tanpa keluhan apapun, dan saat ini dikarantina di Secapa Bandung,” ungkapnya.

Seluruh kompleks ini, sebut Yuri sudah dilakukan isolasi dan karantina  dilarang adanya pergerakan orang ke luar masuk kompleks. Dan pengawasan sendiri dilakukan secara ketat oleh Kodam III Siliwangi.

“Seluruhnya dalam keadaan baik, kami memastikan tidak akan terjadi penularan di luar kompleks karena dijaga ketat karantina kewilayahan bisa maksimal,” tegasnya.

Sementara itu Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, menyatakan, belum ada bukti pasti yang menunjukkan penyebaran virus corona (Covid-19) lewat udara atau airborne. Hal ini terkait pernyataan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang mengonfirmasi penyebaran Covid-19 melalui udara.

“Penelitian tentang penularan melalui udara terus meningkat, tapi buktinya tidak pasti. Meski demikian, penularan virus melalui udara dapat terjadi dalam kondisi yang penuh sesak, saling berdekatan, dan kondisi ventilasi yang buruk. Namun berbagai bukti itu perlu dikumpulkan untuk kemudian dianalisis,” kata Wiku Adisasmito di tempat yang sama.

Dalam konteks Covid-19, lanjut Wiku, penularan melalui udara mungkin terjadi dalam prosedur pengobatan yang menghasilkan aerosol (partikel padat yang ada di udara maupun tetesan cairan). Kondisi seperti itu dapat ditemui di antaranya, dalam proses intubasi endotrakeal atau prosedur medis memasukkan alat bantu napas tabung ke dalam tenggorokan melalui mulut atau hidung.

Kemudian endoskopi atau prosedur pemeriksaan menggunakan alat endoskop untuk melihat organ tubuh, open suction atau metode yang mengharuskan pasien melepaskan ventilator, hingga proses pemberian CPR (Cardiopulmonary Resuscitation) atau teknik pemberian napas buatan.

“Jadi penularan melalui udara dimungkinkan dalam keadaan dan pengaturan tertentu ketika prosedur pengobatan yang dilakukan menghasilkan aerosol,” ungkapnya.

Untuk itu, Wiku mengatakan, WHO terus merekomendasikan agar petugas medis atau siapa pun yang membawa pasien Covid-19 menghindari droplet atau cairan dan kontak dekat dengan pasien tersebut. Rekomendasi ini sebut Wiku, konsisten dengan pedoman umum lainnya termasuk yang dikembangkan oleh European Society of Intensive Medicine (organisasi nonprofit di bidang kesehatan) dan digunakan juga di Australia, Kanada, dan Inggris.

“WHO terus mendorong penelitian tentang penularan melalui udara bersama ahli dari berbagai bidang. Dan WHO juga tengah berusaha membuat jurnal ilmiah yang merangkum informasi terkini terkait penularan virus corona yang akan dirilis dalam beberapa waktu ke depan, dan akan membuat ringkasan ilmiah tentang penularan melalui transmisi udara yang akan segera dirilis,” jelasnya.

WHO sebelumnya telah mengonfirmasi penyebaran virus corona melalui udara. Pernyataan ini dikeluarkan setelah sebuah publikasi yang ditandatangani oleh 239 ilmuwan yang mendesak WHO untuk lebih terbuka soal penyebaran virus yang mungkin berasal dari tetesan cairan yang mengambang di udara.

Lihat juga...