‘Rear Underrun Protection’ Minimalkan Dampak Tabrak Belakang

Editor: Koko Triarko

PURWOKERTO – Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Budi Setiyadi, mengatakan 90 persen kecelakaan di jalan tol karena tabrak belakang dan melibatkan truk dengan kendaraan kecil. Sehingga Dirjen Perhubungan Darat saat ini kembali menggalakkan kampanye penggunaan rear underrun protection atau alat pelindung yang dipasang pada bagian belakang truk.

“Kecelakaan di jalan tol, 90 persen terjadi tabrak belakang dan melibatkan truk dengan kendaraan kecil. Korban kebanyakan mengalami kondisi fatal, meninggal dunia atau luka parah karena kendaraan masuk ke kolong truk dan menyebabkan airbag pengaman mobil tidak berfungsi,” kata Budi Setiyadi, saat melakukan pemasangan rear underrun protection di UPTD  Unit Pelaksana Uji Berkala Kendaraan Bermotor (UPUBKB) di Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas, Sabtu (18/7/2020).

Dengan adanya pemasangan rear underrun protection, maka jika terjadi kecelakaan tabrak belakang akan ada benturan keras dengan alat tersebut, sehingga airbag mobil secara otomatis akan berfungsi dan mobil tidak sampai masuk ke kolong truk.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Budi Setiyadi, di Purwokerto, Sabtu (18/7/2020). -Foto: Hermiana E. Effendi

Lebih lanjut Budi Setiyadi menjelaskan, selama ini kecepatan truk di jalan tol tidak bisa maksimal, terlebih jika dengan muatan berat. Sebaliknya, banyak kendaraan kecil di jalan tol yang melaju dengan kecepatan tinggi, sehingga kecelakaan tabrak belakang kerap terjadi.

“Saya mengapresiasi Dinas Perhubungan (Dinhub) Kabupaten Banyumas yang sudah berinisiatif untuk mengkampanyekan kembali penggunaan rear underrun protection ini. Pengusaha-pengusaha truk di Banyumas akan mulai memasang rear underrun ini,”  tuturnya.

Meskipun dirasa mendesak, namun Dirjen Perhubungan Darat belum memberlakukan sanksi bagi truk yang belum memasang rear underrun, karena sejauh ini aturan tersebut masih dalam bentuk surat edaran. Namun untuk rancang bangun truk ke depan, lanjut Budi, sejak awal sudah dirancang dan dilengkapi dengan rear underrun.

Selain pengaman dari benturan, Dirjen Perhubungan Darat juga menyoroti banyaknya pemalsuan stiker pemantul yang dipasang di bagian belakang truk. Stiker tersebut dimaksudkan untuk membantu pengguna jalan di belakangnya, supaya mengetahuai keberadaan truk di depannya. Dengan adanya pemalsuan stiker yang tidak sesuai standar, stiker pemantul tersebut menjadi tidak berfungsi.

Sementara itu, Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono, mengatakan dalam satu bulan di Tol Cipali terjadi 36 kasus kecelakaan akibat tabrak belakang. Banyaknya kecelakaan tabrak belakang ini, karenaTol Cipali merupakan titik puncak lelah para pengendara.

“Di Tol Cipali ini, baik kendaran yang dari arah Jawa Barat maupun Jawa Tengah sudah sampai pada titik lelah, karena itu angka kecelakaan tinggi. Dan, sebagian besar didominasi oleh tabrak belakang, dalam satu bulan rata-rata 36 kasus tabrak belakang dan fatalitas korban tinggi,” pungkasnya.

Lihat juga...