Sebagian Petani di Bekasi Andalkan Sawah Perkotaan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BEKASI – Lahan sawah yang berada di Kota Bekasi, Jawa Barat, masih menjanjikan bahkan terbilang masih banyak warga menggantungkan penghasilan dari mengurus sawah di tengah padatnya wilayah perkotaan.

Adalah Eman (55) yang mengurus lahan sawah di Harapan Jaya, Bekasi Utara, mengakui seiring pesatnya kemajuan Kota Bekasi, saat ini jarang sekali ditemukannya lahan sawah. Tapi dia mengatakan masih tetap bertahan menggarap sawah.

Eman petani penggarap lahan seluas 1,2 hektare di Bekasi Utara, mengaku mendapatkan gaji sebulan Rp3 jutaan dari pemilik lahan Senin (13/7/2020) – Foto: Muhammad Amin

Selain di Harapan Jaya, areal persawahan juga masih banyak di wilayah Mustikajaya. Tapi sangat minim areal yang dimiliki petani sendiri, dia memastikan rata-rata petani hanya mengharap dengan sistem bagi hasil atau memanfaatkan lahan tidur milik perusahaan.

“Ya kemungkinan sih tidak ada lahan lagi, jadi sawah tidak terlihat di sini. Karena semua lahan dulunya sawah berubah jadi gedung menjulang,” paparnya.

Eman mengaku menggarap lahan sawah milik pihak swasta. Tapi diakuinya pembinaan sawah diawasi oleh Kodim 0507 Kota Bekasi dan Dinas Pertanian Kota Bekasi  sebagai pemantau lahan.

Lebih lanjut, Eman pun mengaku tidak terlalu sulit dalam menanam padi di lingkup Kota Bekasi, karena baginya tanahnya sendiri saat ini  juga masih subur, jadi tidak terlalu menyulitkan.

“Alhamdulillah sih tanah di wilayah ini masih cukup bagus ya, jadi masih bisa diatasilah,” sambung Eman mengaku selain menanam padi juga menjadi pengumpul rongsokan di tempatnya.

Ia memaparkan bahwa bercocok sawah di Kota Bekasi tidak terlalu tergantung pada musim hujan. Karena dibantu teknologi seperti sumur bor. Untuk itu jeda antara panen dan musim tanam tidak terlalu lama karena tidak terpaku oleh musim.

Eman hanya melakukan perawatan sejak dari awal tanam dengan sistem upah mencapai Rp3 juta setiap bulan sampai masa panen. Untuk perawatan apa pun maka akan dilaporkan ke pemilik lahan.

“Berhenti menanam jika datang banjir, lahan tergenang air seperti awal tahun lalu. Atau karena musim hama burung itu saja kendala di lapangan,” tegas dia.

Eman tak lama lagi akan panen, dia mengajarkan biasanya saat panen banyak yang datang untuk panen bersama atau difoto. Biasanya mahasiswa di Bekasi datang tanya-tanya soal tanaman padi.

“Kita juga sudah antisipasi dengan menyiram pestisida sebanyak 1 kali dalam seminggu, jadi alhamdulillah panennya bagus-bagus saja,” akunya.

Menurutnya, petani padi di Bekasi hanya ditekuni oleh orang tua yang dari dulu berprofesi sebagai petani. Karena menanam padi harus tekun dan sabar dalam prosesnya, serta harus diperhatikan setiap hari agar terjauh dari hama.

Eman mengurus lahan cukup luas yakni seluas 1,2 hektare dengan dibantu oleh satu orang untuk proses pemantauan.

Lihat juga...