Sektor Pariwisata Berangsur Pulih, Geliatkan Usaha Kecil

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Memasuki adaptasi kebiasaan baru berdampak positif bagi sektor pariwisata dan sektor pendukung.

Lukman, salah satu warga Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan (Lamsel) menyebut pandemi Corona atau Covid-19 berimbas usaha yang ditekuninya alami penurunan hasil. Sebagai pemilik ojek perahu jumlah wisatawan berkurang.

Selama tiga bulan terakhir ia kembali menekuni usaha menangkap ikan di laut. Namun wisata minat khusus memancing membuatnya tetap bisa mendapat penghasilan dari ojek perahu para pemancing. Rata-rata dalam sepekan jumlah pemancing yang menyewa perahunya bisa mencapai tiga trip. Satu trip atau perjalanan perahu ia mematok harga Rp350 ribu.

Kembali beroperasinya sektor usaha pariwisata bahari di Pantai Minang Ruah Batu Alif, Pulau Mengkudu kembali memberi sumber penghasilan baginya. Satu trip perjalanan perahu ia mematok harga Rp30 ribu per orang. Hasil usaha tersebut cukup menguntungkan karena saat hari biasa tetap ada pengunjung berwisata. Saat akhir pekan order ojek perahu semakin bertambah.

“Saya fleksibel untuk menjalankan usaha ojek perahu dan jika tidak ada permintaan bisa menggunakan waktu untuk mencari ikan dengan pancing rawe dasar hasilnya bisa dijual,” terang Lukman saat ditemui Cendana News, Selasa (14/7/2020).

Penggunaan jejaring sosial dengan pemilik biro perjalanan wisata membuatnya bisa selalu mendapatkan order. Sebelum tiba di lokasi penjemputan Lukman akan ditelepon terlebih dahulu. Sebab sebagian pengunjung memiliki tujuan untuk berwisata alam dan memancing. Khusus untuk memancing waktu yang ditentukan selama satu hari dengan sistem sewa.

Selain Lukman, pelaku usaha bidang pariwisata bernama Eko Prapto menyebut mulai melakukan persiapan. Sejak ditutup selama tiga bulan silam pengunjung ke objek wisata Pantai Tanjung Tuha Pasir Putih berkurang. Terlebih di lokasi tersebut memasuki proses pembangunan objek wisata baru memasuki tahap land clearing atau pembersihan lahan.

“Sektor usaha pariwisata pantai sempat terhenti namun untuk wisata minat khusus memancing di Tanjung Tuha tetap berjalan,” cetusnya.

Eko Prapto, pengelola objek wisata Pantai Tanjung Tuha Pasir Putih, Desa Bakauheni,Lampung Selatan membuat kerajinan kipas dari bambu tali untuk dijual di objek wisata bahari yang sebagian mulai beroperasi, Selasa (14/7/2020). -Foto Henk Widi

Eko Prapto yang memiliki tugas menjaga objek wisata, menyediakan warung makanan dan minuman terpaksa berhenti. Memasuki masa adaptasi kebiasaan baru ia memilih membuat sejumlah kerajinan tangan. Hasil kerajinan tangan yang dibuat meliputi kipas dari bambu, miniatur rumah pohon, kincir angin, asbak dan hiasan dinding.

Berbagai jenis suvenir yang dibuat menurutnya menggunakan bahan bambu, kayu, kertas. Semua bahan yang mudah diperoleh dan dibentuk tersebut selanjutnya dirangkai menjadi suvenir. Wisatawan yang berkunjung bisa membeli kincir angin dengan harga mulai Rp10.000, kipas dari bambu Rp5 000 dan minatur rumah Rp50.000 per buah.

“Paling banyak permintaan kipas dari bambu karena selain memiliki nilai keindahan bisa digunakan saat udara panas,” cetusnya.

Permintaan kipas dari bambu diperoleh dari warga yang akan melangsungkan hajatan. Sebab dalam tradisi Lampung kipas dari bambu dikombinasikan dengan telur matang,bendera saat kelahiran anak. Permintaan dalam jumlah banyak diberinya harga Rp3.000 perbuah. Semua souvenir dijual di dekat pintu masuk objek wisata Pantai Tanjung Tuha.

Usaha pendukung sektor pariwisata dalam pembuatan suvenir merupakan binaan Dinas Pariwisata Lamsel. Selama Covid-19 meski kunjungan wisatawan berkurang ia masih tetap membuat souvenir. Sebab souvenir miniatur rumah bisa dimanfaatkan untuk pelengkap seserahan pengantin. Order kerap diperolehnya dari pembuat souvenir sehingga tidak hanya tergantung pada kegiatan wisata.

“Harus kreatif menciptakan peluang selama pandemi karena kalau tidak maka sumber penghasilan berkurang,” cetusnya.

Zakaria Anwar, ketua Komunitas Putra Krakatau dan Smile Train menyebut kreativitas pelaku usaha wisata sangat diperlukan. Sebagai pelatih bagi pelaku usaha wisata untuk menangkap peluang dengan usaha jasa, produk Covid-19 jadi pukulan telak. Sebab sektor pariwisata ikut terdampak sejak penutupan destinasi selama tiga bulan terakhir.

“Masa istirahat digunakan pengelola, pelaku usaha wisata untuk membuat produk dan membenahi fasilitas,” cetusnya.

Bagi pemilik ojek perahu wisata, pembenahan peralatan dan mempercantik tampilan bisa dilakukan. Pemilik warung dan homestay melakukan pembenahan fasilitas serta pengrajin souvenir membuat produk yang banyak. Saat masa adaptasi kebiasaan baru kreativitas bisa ditampilkan untuk mendapat sumber penghasilan. Nilai tambah bisa diperoleh saat sektor pariwisata kembali normal seperti sedia kala.

Lihat juga...