Sektor Properti di Bali Tumbuh Negatif Akibat Pandemi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

DENPASAR – Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho, menegaskan, pada triwulan II tahun 2020 ini, terjadi inflasi terkait dengan sewa rumah, kontrak rumah serta bahan bangunan yang cenderung melambat.

Selain itu, pertumbuhan kinerja lapangan usaha real estate pada triwulan I pada 2020 tersebut juga sejalan dengan hasil properti residensial di pasar primer yang disebabkan oleh peningkatan harga.

“Namun, jika dilihat dari volume penjualan terbilang cukup baik yakni masih menunjukkan peningkatan dari penjualan triwulan IV pada tahun 2019. Peningkatan terutama untuk penjualan tipe besar,” ujarnya saat ditemui usai menyelenggarakan kegiatan SURYA (Survei Bicara) yang merupakan kegiatan diseminasi hasil survei Bank Indonesia dengan topik perkembangan sektor properti di Bali, Jumat (3/7/2020).

Dalam hal ini, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali memiliki 3 survei untuk memperoleh informasi terkait perkembangan properti yaitu Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Primer, Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Sekunder, serta survei Perkembangan Properti Komersial (PPKOM). Survei diselenggarakan secara triwulanan dengan jumlah responden sebanyak 226 responden.

Trisno menambahkan, selama ini, metode penjualan mayoritas memanfaatkan fasilitas KPR (sekitar 50%). Selanjutnya, dampak penyebaran COVID-19 terutama dialami oleh pasar properti residensial di pasar sekunder serta perkembangan properti komersial.

Untuk perkembangan harga properti residensial pasar sekunder cenderung menunjukkan perlambatan pertumbuhan harga dalam beberapa waktu terakhir yang diperparah dengan adanya penyebaran COVID-19.

“Sementara itu, penurunan kinerja properti komersial bersumber dari penurunan demand akan sewa hotel dan apartemen. Perkembangan pasar komersial di Bali mendapatkan tantangan dari belum pulihnya kinerja pariwisata sehingga menekan kinerja hotel. Di level nasional, kinerja properti komersial mendapatkan tantangan dari adanya perubahan budaya masyarakat akibat pandemi COVID-19. Adanya mekanisme work from home dalam beberapa bulan terakhir membuat para pelaku usaha mulai berpikir untuk mengurangi kebutuhan ruang perkantorannya,” tegasnya.

Meski begitu, perkembangan real estate pada triwulan I pada tahun 2020 ini masih mampu tumbuh positif di tengah kontraksi yang dialami oleh provinsi Bali di awal terjadinya isu pandemi. Dia mengatakan, kondisi ini juga didukung dengan terjaganya inflasi perumahan bahkan cenderung di bawah angka inflasi umum nasional.

“Yah meskipun begitu, pangsa lapangan usaha real estate terhadap perekonomian Bali secara keseluruhan selama ini masih rendah yakni 4,1% terhadap PDRB provinsi Bali,” tegasnya.

Sementara Itu, I Gede Suardita, selaku Ketua REI Bali menyatakan, bahwa penjualan properti bersubsidi masih cukup baik. Kondisi ini didukung dengan harga jual properti yang rendah serta masih tingginya backlog akan rumah oleh masyarakat.

“Ke depan, REI berharap perbankan dapat meningkatkan penyaluran KPR sehingga mendukung perkembangan properti,” katanya.

Lihat juga...