Strategi Pariwisata Halal Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

Editor: Makmun Hidayat

Ketua Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia (PPHI), Riyanto Sofyan, pada diskusi webinar di Jakarta, beberapa waktu lalu. -Foto: Sri Sugiarti

JAKARTA — Ketua Bidang Industri Halal dan Industri Kreatif DPP Ikatan Asosiasi Ekonomi Islam (IAEI), Riyanto Sofyan mengatakan, industri pariwisata menjadi salah satu sektor yang terdampak pandemi Covid-19, tidak terkecuali industri pariwisata halal.

Namun demikian dia optimis industri pariwisata halal mampu bertahan di tengah badai krisis pandemi Covid-19.

“Kita sebagai umat muslim harus tetap optimis agar industri pariwisata halal ini mampu bertahan di situasi pandemi Covid-19 ini,” ujar Riyanto, saat dihubungi Kamis (9/7/2020).

Apalagi menurutnya, pariwisata halal memiliki peluang yang besar untuk berkembang di Indonesia. Pasalnya, tren dan gaya hidup halal sudah melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

“Ini sebagai salah satu cara memperluas jangkauan pasar.

Namun demikian Riyanto mengakui memang masih terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi dalam mengembangkan sektor pariwisata halal di era new normal, dalam situasi masih pandemi Covid-19

Sehingga menurutnya, untuk mampu bertahan tentunya para pelaku pariwisata halal harus menyiapkan berbagai strategi. Di antaranya, sebut dia, adalah overhaul business model.

“Yakni, bongkar pasang bisnis model perlu dilakukan pelaku pariwisata,” ujar Riyanto Sofyan yang menjabat Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia (PPHI), Riyanto Sofyan.

Dia menyebut, bahwa dalam bisnis pariwisata masih bisa berjalan meski dalam keadaan rugi. Namun bisnis pariwisata bisa dikatakan mati kalau arus kasnya macet.

Sehingga menurutnya lagi, dalam menjalankan bisnis pariwisata yang paling utama adalah manajemen arus kas.

“Caranya otomatis kita harus merestruktur biaya yang ada, karena saat ini, kalau kita meminta pinjaman tambahan tidak akan mungkin dapat,” tukasnya.

Riyanto menyarankan, agar skema  kemitraan pelaku pariwisata harus dijalankan, sehingga mempunyai nafas yang lebih panjang meskipun arus kas yang terbatas.

Karena kondisi di lapangan menunjukkan, sebagian industri pariwisata ada yang beralih usaha. Contohnya, kata Riyanto,  beralih usaha menjadi penjual sembako.

Adapun strategi lainnya, jelas dia, untuk pariwisata saat ini adalah pembuatan safe protocol, yaitu sesuatu yang memerlukan biaya tambahan tapi mesti dilakukan.

Strategi terpenting lagi, yakni inovasi dan kreativitas. Ini karena menurutnya,  industri pariwisata memiliki tantangan tersendiri dibanding industri yang lain. Karena pariwisata tidak menjual produk atau jasa yang bisa diantar kurir.

“Yang dijual industri pariwisata ialah  pengalaman yang  diperoleh dengan mengunjunginya langsung wahana wisata tersebut. Maka, inovasi dan kreativitas sangat sangat diperlukan di saat pandemi Covid-19, ini,” ujar Riyanto Sofyan yang menjabat Komisaris Utama PT. Sofyan Hotels Tbk.

Riyanto mengusulkan, inovasi dan kreativitas bisa dengan menyediakan perjalanan wisata ke alam, yang  jaraknya dekat atau daerah domestik yang bisa dikembangkan sedemikian rupa untuk menarik wisatawan. Sehingga semua yang terkait dengan pariwisata bisa tetap berjalan.

Sedangkan tambah dia, strategi lainnya adalah digital harus dikembangkan untuk memudahkan  pelayanan wisatawan nusantara (wisnus) maupun wisatawan mancanegara (wisman).

“Prosedur-prosedur pariwisata bisa dijangkau secara digital. Dan, strategi yang tidak kalah penting adalah mitigasi jika gelombang kedua Covid-19 dan bencana alam melanda,” pungkasnya.

Lihat juga...