Sumbar Upayakan Pencegahan Stunting di Masa Pandemi COVID-19

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

PADANG — Persoalan stunting turut jadi perhatian Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dalam menghadapi situasi tersulit Pandemi COVID-19. Wabah penyakit tersebut turut membungkam perekonomian berbagai kalangan masyarakat.

“Akibat COVID-19 dampaknya hampir menyasar berbagai lini. Sehingga kita perlu lakukan upaya dari sisi kesehatan masyarakat, selain soal COVID-19, tapi juga soal mengatasi terjadi stunting,” kata Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno , Jumat (10/7/2020).

Ia menyebutkan saat ini Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat telah melakukan upaya dari sisi memberikan konseling melalui Posyandu ada di setiap RT/RT dan desa-desa. Konseling yang diberikan itu yakni tentang gizi ibu hamil dan anak, pemberian makan tambahan pemberian Vitamin A, tablet tambahan darah untuk ibu hamil dan remaja putri dan melakukan kunjungan ke rumah.

“Hal tersebut perlu diupayakan dalam pencegahan dan penanggulangan stunting di Sumatera Barat,” tegasnya.

Irwan Prayitno menjelaskan, stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari kekurangan gizi kronis, sehingga anak lebih pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal kehidupan setelah lahir dan nampak setelah anak berusia 2 tahun.

“Untuk itu perlu perbaikan pola asuh, pola makan dan perbaikan sanitasi. Tiga komponen ini perlu penanggulangan dengan cepat,” sebutnya.

Menurutnya terkait upaya terjadinya stunting itu,  bupati dan wali kota perlu melakukan pendataan ke lapangan. Tujuannya agar pemerintah bisa mengetahui situasi dan tidak hanya sekedar strategi.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan ProvinsiMerry Yuliesday, mengatakan, Sumatera Barat menargetkan angka stunting di 2024 turun menjadi 14 persen. Dengan demikian ia memperkirakan kesehatan masyarakat yakni balita bergerak secara cepat dan inovatif.

Ia mengaku persoalan yang dihadapi kini itu adalah di Sumatera Barat menghadapi masalah gizi yang berdampak terhadap kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), yaitu masih tinggi prevalensi anak balita pendek (stunting).

Artinya stunting tersebut adalah sebuah kondisi berdasarkan pengukuran tinggi badan menurut umur seseorang ternyata lebih pendek dibandingkan tinggi badan seusianya.

Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno bersama Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat Merry Yuliesday dalam sebuah rapat belum lama ini/Foto: M Noli Hendra

Penyebabnya, kata Merry, faktor langsung mempengaruhi status gizi balita yaitu faktor konsumsi makanan dan penyakit infeksi kedua ini saling mempengaruhi.

“Kualitas lingkungan hidup terutama adalah ketersediaan air bersih sarana sanitasi dan perilaku hidup sehat seperti kebiasaan cuci tangan dengan sabun, buang air besar di jamban, tidak merokok dan sirkulasi udara dalam rumah,” ungkap dia.

Merry menyebutkan faktor lain yang mempengaruhi faktor langsung dan tidak langsung yaitu situasi politik, ekonomi dan sumberdaya yang ada meliputi sumber daya lingkungan, perubahan iklim namun akhirnya kemiskinan adalah akar masalah kekurangan gizi.

Untuk itu, pelayanan utama masalah gizi dilakukan oleh posyandu karena merupakan ujung tombak dalam melakukan mendeteksi dini, bila terjadi masalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan untuk segera ditangani.

Lihat juga...