Tak Ada Biaya, Anak Disabilitas ini Sulit ke Sekolah

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Sekolah bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih jarang dijumpai apalagi yang menampung anak-anak dari kekuarga yang tidak mampu dan masyarakat berpenghasilan rendah.

Jarak ke sekolah yang jauh pun menjadi kendala bagi orang tua guna membawa anaknya ke sekolah karena harus membutuhkan biaya ekstra untuk membayar ojek sepeda motor maupun sewa mobil.

“Cucu saya sudah dua tahun ini tidak ke sekolah lagi. Kami tidak ada biaya untuk biaya ojek sehari Rp30 ribu pulang pergi ke sekolah,” sebut Hermiana Tina (63) warga RT 5 RW 2, Kelurahan Nangalimang, Kecamatan Alok, Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Selasa (7/7/2020).

Hermiana Tina, nenek dari Yustinus Rielino anak berkebutuhan khusus asal Kelurahan Nangalimang, Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, saat ditemui di rumahnya, Selasa (7/7/2020). Foto: Ebed de Rosary

Hermiana menyebutkan, untuk ke sekolah dirinya harus menggendong cucunya Yustinus Rielino yang berumur 10 tahun mendaki tebing sejauh sekitar 100 meter, dan melintasi padang ilalang hingga ke jalan semen tempat sepeda motor atau mobil berhenti.

Saat ini cucunya sudah besar sebutnya sehingga selain berat saat digendong, dirinya tidak bisa melepas cucunya hanya dengan tukang ojek saja dan sopir ojek pun tidak bersedia karena cucunya tidak bisa duduk tenang saat dibonceng.

“Kalau kami bertiga satu sepeda motor tentu tidak muat. Padahal untuk ke sekolah anak berkebutuhan khusus PAUD Karya Ilahi harus naik sepeda motor atau sewa pick up. Karena harus bawa juga dengan kursi roda,” ungkapnya.

Kepala sekolah PAUD Karya Ilahi, Ursula Maria, yang ditanyai membenarkan bahwa Riel anak disabilitas ini sudah setahun tidak ke sekolah karena kakek dan neneknya tidak memiliki biaya untuk menyewa pick up mengantarnya ke sekolah.

Selama ini, sekolahnya kata Ursula, selalu menyediakan guru yang datang ke rumahnya seminggu dua kali untuk mengajar Riel di rumahnya dengan membawa serta alat peraga.

Sekali kunjungan ke rumah sebutnya, pihaknya harus mengeluarkan biaya ojek sepeda motor Rp30 ribu pulang pergi sementara sekolah pun tidak memiliki biaya karena tidak mendapat bantuan dana dari pemerintah secara rutin setiap tahunnya.

“Hari ini kami menyewa mobil pick up Rp100 ribu untuk menjemput Riel ke sekolah dan mengantar kembali ke rumahnya. Saya menyisihkan uang pribadi saya karena saya kasihan dia sudah lama tidak bersekolah. Kemarin neneknya datang ke sekolah meminta bantuan,” ujarnya.

Ursula mengaku, selain mengalami gangguan fisik Riel memang agak sedikit lama dalam menyerap pelajaran kemungkinan besar motoriknya juga sedikit terpengaruh.

Saat diajar sebutnya, dia pun masih mengingat dan memang harus rutin untuk belajar agar bisa cepat memperbaiki daya ingat. Namun pihaknya tidak bisa berbuat banyak.

“Kalau biaya sekolah kami gratiskan bagi anak-anak yang tidak mampu, kami tentu tidak bisa mendatangi setiap anak dari rumah ke rumah karena butuh biaya transportasi. Kasihan neneknya tidak mendapat bantuan biaya, padahal mereka sangat membutuhkan uluran tangan pemerintah,” ungkapnya.

Lihat juga...