Tanpa Rekayasa Sosial, Distribusi Daging Kurban Berpotensi Tidak Merata

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Peneliti IDEAS, Askar Muhammad pada diskusi hasil riset #IDEASTalk 'Ekonomi Kurban 2020, secara webinar, Rabu (15/7/2020). Foto: Sri Sugiarti.

JAKARTA — Institute For Demographic and Proverty Studies (IDEAS) menilai tanpa rekayasa sosial, pendistribusian daging kurban tidak merata karena berpotensi hanya beredar di wilayah konsumsi dagingnya tinggi.

Peneliti IDEAS, Askar Muhammad mengatakan, potensi ekonomi kurban Indonesia tahun 2020 diproyeksi mencapai Rp 20,5 triliun, berasal dari 2,3 juta orang pekurban.

Namun potensi kurban tersebut, pendistribusiaannya sangat tidak merata di wilayah Indonesia. Hal ini mencerminkan kesenjangan pendapatan yang lebar, terutama terjadi antara daerah perkotaan di pulau Jawa dan wilayah lainnya.

“Potensi kurban terbesar datang dari wilayah aglomerasi utama Jawa. Di sana ada mayoritas kelas menengah muslim dengan daya beli tinggi. Yaitu dari sekitar 5,6 juta keluarga muslim kelas menengah-atas Indonesia, 71 persen di antaranya berada di Jawa,” kata Askar pada diskusi hasil riset #IDEASTalk ‘Ekonomi Kurban 2020, secara webinar, Rabu (15/7/2020).

Dia memaparkan lagi, dari sekitar 4 juta keluarga muslim sejahtera di Jawa, tercatat 2 juta di antaranya berada di Jabodetabek dan 1 juta lainnya tersebar di Bandung Raya, Surabaya Raya, Yogyakarta Raya, Semarang Raya dan Malang Raya.

“Dengan kelas menengah-atas muslim terkonsentrasi di perkotaan utama Jawa, maka potensi kurban terbesar diperkirakan datang dari wilayah-wilayah tersebut,” ujarnya.

Dalam risetnya, IDEAS memproyeksikan pasar hewan Kurban terbesar adalah Jabodetabek dengan permintaan 184 ribu sapi dan 673 ribu kambing atau domba.

Angka tersebut menurutnya, setara dengan 41 persen dan 36 persen permintaan sapi dan kambing atau domba kurban nasional.

Dengan perhitungan keseluruhan wilayah aglomerasi utama Jawa diproyeksikan membutuhkan 273 ribu sapi dan 995 ribu kambing atau domba.

“Ini pun setara dengan 60 persen dan 53 persen permintaan sapi dan kambing atau domba qurban nasional,” imbuhnya.

Dengan sentra ternak nasional berada di daerah pedesaan Jawa dan luar Jawa. Maka, setiap Idul Adha selalu menjadi momentum derasnya arus perdagangan hewan kurban.

Arus perdagangan utama hewan qurban ini diproyeksi terjadi terutama dari sentra sapi potong di Lampung, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Kemudian dari sentra kambing dan domba di Jawa Barat, Banten, dan Jawa Tengah.

“Mereka menuju pasar utama kurban nasional, yaitu Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Malang dan Semarang,” ungkap Ashar.

Dia menyebut, seiring tingginya permintaan hewan ternak pada Idul Adha, selalu terjadi kenaikan harga. Sehingga peternak rakyat menikmati harga jual yang tinggi.

Padahal harga ternak selalu relatif rendah di bulan-bulan sebelumnya. Sehingga peternak rakyat cenderung memilih untuk melepas ternaknya di momentum Idul Adha dengan tujuan untuk meraih keuntungan.

Lebih lanjut Ashar memaparkan, bahwa mustahik muslim dengan pengeluaran per kapita di bawah Rp 500 ribu per bulan dipandang paling berhak menerima daging kurban atau mustahik prioritas, diperkirakan berjumlah 9,3 juta keluarga.

“Potensi mustahik prioritas terbesar ini datang dari Jawa dengan jumlah 6,4 juta keluarga,” ujarnya.

Namun jika kelas bawah-menengah muslim dengan pengeluaran per kapita Rp 500 – 750 ribu per bulan yang tergolong rentan miskin (near the poor) turut diperhitungkan.

Maka menurutnya, mustahik kurban melonjak menjadi 22,9 juta keluarga. Dengan tetap potensi mustahik terbesar datang dari Jawa, yaitu sebanyak 15,1 juta keluarga.

Jika potensi pekurban terbesar datang dari wilayah perkotaan utama Jawa, maka potensi mustahik terbesar datang dari daerah pedesaan Jawa.

Kesenjangan antara potensi dan kebutuhan daging kurban ini menurutnya, menimbulkan potensi distribusi kurban yang tidak merata.

Tercatat, Jabodetabek sebagai wilayah metropolitan termaju dan terbesar di Jawa berpotensi menghasilkan 47 ribu ton daging kurban.

“Namun kebutuhan mustahik di Jabodetabek hanya sekitar 5 ribu ton daging kurban. Sehingga terdapat potensi surplus 42 ribu ton daging di Jabodetabek,” jelasnya.

Sedangkan pedesaan di Banten Selatan, yaitu Kabupaten Pandeglang dan Lebak hanya berpotensi menghasilkan 260 ton daging kurban.

Tetapi kebutuhan mustahiknya mencapai 1.500 ton daging kurban. Sehingga terdapat potensi defisit 1.250 ton daging.

Kesenjangan ini menunjukkan terdapat potensi mismatch yang besar dalam penyaluran daging kurban jika tidak dilakukan rekayasa sosial.

“Tanpa rekayasa sosial, distribusi daging kurban berpotensi hanya beredar di wilayah yang secara rata-rata konsumsi dagingnya justru sudah tinggi,” tukas Ashar.

Lihat juga...