Ternak Burung Murai Sumatera, Beri Keuntungan Menggiurkan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BEKASI – Beternak burung murai endemik hutan Sumatera, tidaklah terlalu sulit meskipun di perkotaan. Tapi tentunya diperlukan ketekunan dan keuletan dalam perawatan. Tapi hasilnya pun bisa memberikan pundi-pundi rupiah.

Burung murai memiliki karakter dan siklus cuaca dalam kandang yang harus mendapat perhatian khusus. Karena burung kicau yang digemari banyak warga pehobi tersebut adalah tipikal unggas yang tidak kuat dengan cuaca tertentu.

“Kurun waktu tertentu harus rutin diberi antiseptik dan vitamin unggas agar memiliki daya tahan terhindar dari penyakit. Sehingga diperlukan ketekunan dan keuletan,” ungkap Asep Rusdiana (39) warga Harapan Mulya, Medan Satria, Kota Bekasi kepada Cendana News, Senin (27/7/2020).

Asep sukses ternak burung murai  di areal rumahnya di kawasan Harapan Mulya, Medansatria, Kota Bekasi. Sebulan ia bisa meraup untung mencapai sepuluh juta hasil dari penjualan, Senin (27/7/2020) – Foto: Muhammad Amin

Diakuinya, ternak burung murai di perkotaan gampang-gampang susah, dan intinya memerlukan kesabaran pada saat musim kawin, harus dipastikan burung dalam keadaan sehat atau tidak. Sehingga bisa memberikan hasil maksimal.

Menurutnya, berdasarkan pengalaman, burung murai yang sudah siap kawin ini berkisar dari umur betina 8 bulan, baru bisa dikawinkan dengan jantan dengan usia minimal di atas setahun.

Asep, di rumahnya Harapan Mulya, sudah lama ternak burung murai di areal terbatas. Bahkan dia tidak memiliki kandang khusus, hanya dengan kandang burung murai pada umumnya, hanya disatukan pada saat memasuki musim kawin.

Cara ternak juga relatif mudah, sepasang murai batu Sumatera hanya butuh waktu satu minggu untuk dikawinkan. Dengan pakan teratur berupa jangkrik ataupun ulat.

Memilih ternak burung murai hanya berawal dari hobi. Dia hanya memiliki seekor burung murai lombaan saja untuk dipelihara. Tetapi ketertarikan untuk dikawinkan, hingga akhirnya ia mencari murai betina ke Bandung untuk
dikawinkan dengan burung murai yang saat itu ia miliki.

“Awalnya sih pengen dikawinkan saja biar saya punya sepasang burung murai. Tapi akhirnya bertelur juga,” ungkap dia.

Dari hasil ternak secara otodidak tersebut, saat ini ia sudah memiliki sepuluh pasang murai jantan dan betina sebagai indukan.

“Burung murai ini dari telur sudah ada yang beli, harganya pun tinggi. Untuk anakan harga dipatok mulai dari Rp3-4 jutaan. Umur dua bulan saja sudah bisa dilatih untuk berkicau, menirukan suara burung lain, lalu juga cepat dalam proses latihan,” jelasnya.

Penjualan itu tergantung dari peminat, ada yang  campuran, ada yang ingin memelihara secara mandiri. Tapi ada juga untuk ajang kontes sebagai hobi,

“Sejak awal beternak sampai sekarang, saya sudah menjual sekitar 150 ekor burung murai, baik dijual secara online atau pun datang langsung ke rumah. Alhamdulillah sebulan bisa dapat Rp10 jutaan dari hasil ternak murai Sumatera ini,” tutupnya.

Lihat juga...