Titiek Soeharto Prihatin Orang Tua Siswa Kesulitan Beli Pulsa

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Siti Hediati Haryadi (Titiek Soeharto), mengatakan, pandemi Covid-19 berdampak kepada semua lini kehidupan yang sangat mengganggu berbagai aktivitas.

“Ekonomi terdampak, masyarakat tidak bisa kerja, anak-anak tidak bisa sekolah. Lihat, tiap hari kan beritanya yang tidak mengenakkan,” ujar Titiek Soeharto, kepada Cendana News, usai salat Iduladha di Masjid Agung At Tin, Jakarta, Jumat (31/7/2020).

Putri Presiden ke-2 RI, Jenderal Besar HM Soeharto ini mengaku prihatin dengan sistem pembelajaran siswa di rumah atau home learning  yang diterapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) selama pandemi Covid-19.

Siti Hardiati Haryadi (Titiek Soeharto) ditemui usai salat Iduladha di Masjid Agung At Tin, Jakarta, Jumat (31/7/2020). -Foto: Sri Sugiarti

Menurutnya, program ini tidak efektif, karena hanya orang yang di perkotaan saja  yang dapat mengikutinya.

“Nggak efektif juga, gimana kan hanya orang yang di kota saja yang bisa belajar, kalau  di daerah coba masa orang harus cari yang ada sinyalnya. Di rumah saya saja di Menteng, itu sinyal ‘braypret-braypret’. Apalagi di pedesaan, di gunung mana ada sinyal?” tukas Titiek Soeharto.

Selain faktor sinyal, kata Titiek Soeharto, belum tentu orang di pedesaan mempunyai telepon seluler. Meskipun mempunyai, setiap hari mereka harus membeli pulsa internet untuk mengikuti proses pembelajaran itu.

Kan kasian itu harus beli pulsa terus, mana punya uang. Untuk makan saja beli beras, nggak ada. Masa nggak mikir, sih Kemendikbud itu?” tukasnya.

Menurut Titiek Soeharto, daripada anggaran Kemendikbud untuk Program Organisasi Penggerak (POP) mendanai Putera Sampoerna Foundation dan Tonato Foundation masing-masing sebesar Rp20 miliar, lebih baik digunakan untuk program pembelajaran di rumah bagi para siswa.

“Dana-dana yang lain, katakan Rp20 miliar untuk foundation yang nggak penting. Itu kan mendingan beliin pulsa bagiin ke anak-anak se-Indonesia, mungkin itu sangat bermanfaat,” ujarnya.

Pemerintah, menurutnya, juga bisa menggerakkan perusahaan-perusahaan sebagai CSR (Corporate Sosial Responsibility) untuk membelikan pulsa bagi anak-anak sebagai penunjang proses belajar mereka.

“Atau di Telkom, itu untuk anak-anak dan sekolah kepentingan pulsa gratisin. Kalau yang main game gadget, ya tetap bayar, tapi untuk pendidikan sekolah harus digratisin,” ujarnya.

Titiek Soeharto yang merupakan Ketua Dewan Pertimbangan Partai Berkarya, berharap pandemi Covid-19 cepat berlalu, sehingga masyarakat Indonesia dapat beraktivitas kembali.

” Ya, kita berdoa mudah-mudahan cepat berlalu ujian yang diberikan oleh Allah SWT ini bisa cepat diangkat. Dan, kita bisa hidup normal kembali,” ujarnya.

Di tengah pandemi Covid-19 ini, Titiek Soeharto mengimbau agar masyarakat mematuhi protokol kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah. Seperti mencuci tangan, pakai masker, menjaga jarak, dan jangan berada di tempat berkerumun.

“Protokol kesehatan tetap harus dipatuhi, karena kalau itu tidak diikuti, ya bagaimana kita mau cepat keluar dari krisis Covid-19 ini? Semua ya harus mengikuti, cuci tangan, jangan di kerumunan, pakai masker, dan jaga jarak itu sudah di kehidupan kita sehari-hari,” pungkasnya.

Lihat juga...