TRuK Maumere Catat 2.410 Kasus Kekerasan terhadap Perempuan

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Sejumlah elemen aktivis perempuan terus melakukan advokasi terhadap kasus kekerasan yang menimpa perempuan dan anak di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Saya sedang mendampingi korban kekerasan seksual yang dilakukan terhadap anak di bawah umur di Kecamatan Paga Kabupaten Sikka,” kata aktivis perempuan dan anak di Pulau Flores, Benedikta B.C. da Silva, Kamis (9/7/2020).

Noben sapaannya menyebutkan, saat kejadian korban masih berumur 12 tahun dan duduk di bangku kelas VI Sekolah Dasar dan saat ini sudah duduk di bangku Sekolah Manengah Atas.

Hingga kini terangnya, kasus tersebut pun sudah disampaikan ke pihak kepolisian namun pelakunya belum diproses secara hukum meskipun kejadiannya dilaporkan tahun 2016.

Aktivis perempuan yang biasa menangani kasus perdagangan orang dan kekerasan terhadap perempuan, Benedikta BC da Silva saat ditemui, Kamis (9/7/2020). -Foto: Ebed de Rosary

“Sampai sekarang anaknya masih trauma, kalau ada laki-laki asing yang tidak dikenalnya mendekat. Saya lagi mendorong agar pelakunya bisa diproses hukum agar ada efek jera dan tidak mengulangi perbuatannya,” ungkapnya.

Noben mengaku sulit membongkar kasus kekerasan terhadap perempuan karena keluarga juga tidak mau melaporkan ke pihak kepolisian dan lebih memilih menyelesaikannya secara adat. Masih ada korban dan keluarganya tidak meneruskannya ke jalur hukum dan memilih menyelesaikannya secara kekeluargaan dan adat ketimbang harus menempuh jalur hukum.

Sementara itu Sr. Eustochia, SSpS, Koordinator Divisi Perempuan Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRuK) Maumere menyebutkan, sejak tahun 2000 hingga 2019 jumlah kasus kekerasan yang ditangani lembaganya sebanyak 2.410 kasus.

Dari jumlah tersebut, papar Suster Eusto sapaannya, kasus human trafficking atau perdagangan orang sebanyak 676 kasus, sementara kasus kekerasan seksual 626 kasus serta sisanya kekerasan fisik, psikis dan lainnya.

“Dari investigasi yang kami lakukan, pelaku kekerasan rata-rata adalah orang dekat korban. Ada yang pelakunya ayah korban, paman, tetangga, pimpinan di tempat kerja serta pacar, ” ungkapnya.

TRuK Maumere sebut Suster Eusto dalam menangani kasus kekerasan seksual yang dilakukan pertama yakni menerima laporan dari korban baik melalui tatap muka dengan mendatangi kantor lembaga ini maupun staf TRuK Maumere turun menemui korban.

Selain itu lanjutnya, ada warga yang melaporkan kasus kekerasan seksual melalui telepon dan lembaganya akan menindaklanjuti dengan mencari tahu kejadiannya serta mendatangi korbannya untuk meminta keterangan.

“Korban juga kami dampingi agar bisa mendapatkan pelayanan medis serta pelayanan hukum saat di kepolisian, kejaksaan maupun pengadilan hingga ada putusan hukumnya terhadap pelaku,” terangnya.

Selain itu, Lembaga TRuK Maumere pun lanjut Suster Eusto, memberikan pendampingan sosial serta merehabilitasi mental atau psikologi korban termasuk melakukan pendampingan rohani agar korban bisa pulih dari trauma dan kembali menjalani hidupnya.

Pendiri Tim Relawan untuk Kemanusiaan Flores (TRuK-F) ini menambahkan, setelah empat hal ini dilakukan maka pihaknya pun akan kembali mendampingi korban selama kembali ke keluarganya atau ke tengah masyarakat

“Kami juga memiliki shelter atau rumah aman di kantor kami yang saat ini sedang menampung 19 orang yang terdiri dari 5 ibu rumah tangga, 5 bayi, 1 anak TKK, 6 remaja dan 2 perempuan dewasa. Semua biaya selama di shelter kami tanggung,” pungkasnya.

Lihat juga...