Umat Katolik di Sikka Mulai Beribadah di Gereja

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Uskup Keuskupan Maumere Mgr. Edwaldus Martinus Sedu telah menetapkan serta mengeluarkan pengumuman secara resmi penerapan kenormalan baru di seluruh gereja-gereja di Keuskupan Maumere yang mulai berlaku sejak besok, Minggu (5/7/2020).

Uskup Maumere Mgr. Edwaldus Martinus Sedu saat pengumuman pedoman dalam menjalankan ibadat misa atau perayaan Ekaristi di Lepo Bispu atau kediaman Uskup, Kamis (2/7/2020). Foto : Ebed de Rosary

Umat diimbau untuk datang ke gereja mengikuti perayaan ekaristi atau misa namun dengan jumlah peserta yang terbatas dan tetap berpatokan pada pedoman protokol pelayanan ibadat dan sakramen selama era kenormalan baru.

“Besok semua gereja Katolik mulai menjalani ibadat misa sehingga pemerintah melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 akan melakukan penyemprotan disinfektan di gereja,” kata Bupati Sikka, NTT, Fransiskus roberto Diogo, Sabtu (4/7/2020).

Dirinya berharap warga mematuhi aturan tersebut untuk menghindari terjadinya transmisi lokal.

“Gereja tetap dibuka dan aktivitas keagamaan mulai berjalan lagi namun umat harus tetap memperhatikan dan menaati protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah,” tegasnya.

Sementara itu Uskup Maumere Mgr. Edwaldus Martinus Sedu mengatakan, umat tentu bergembira karena kerinduan untuk bersatu hati dalam doa, ibadat, dan perayaan ekaristi kembali terlaksana.

Edwaldus mengingatkan semua pihak agar perlu membangun kesadaran bersama guna melakukan segala kegiatan tersebut sesuai dengan standar kesehatan yang ditetapkan pemerintah.

“Saya mengajak semua umat Keuskupan Maumere untuk memasuki masa kenormalan baru ini dengan penuh sukacita. Rajut kembali kebersamaan melalui doa, ibadat dan perayaan ekaristi dalam Komunitas Gereja Katolik,” pesannya.

Uskup Edwaldus meminta agar umat Katolik memperhatikan dengan serius tiga hal yakni menjaga jarak fisik, selalu mencuci tangan dengan sabun pada air mengalir dan mengenakan masker di mana pun berada.

Keuskupan Maumere sebutnya telah mengeluarkan pedoman dalam beribadah yakni adanya petugas untuk melakukan dan mengawasi penerapan protokol kesehatan di area gereja.

“Sebelum pelaksanaan ibadah akan dilakukan pembersihan dan penyemprotan disinfektan secara berkala di area gereja. Harus tersedia tempat cuci tangan, sabun, hand sanitizer di pintu masuk, pintu keluar dan di samping altar dengan jumlah sesuai umat yang hadir,” ungkapnya.

Uskup Edwaldus juga menjelaskan, kolekte disiapkan di pintu masuk gereja dan meja persembahan di samping meja kredens. Selain itu tegasnya, harus tersedia alat pengecekan suhu tubuh di pintu masuk gereja.

Ada pembatasan jarak dengan memberikan tanda silang (X) pada bangku atau kursi dan lantai dengan jarak 1,5 meter sampai 2 meter.Juga lanjutnya, harus ada petunjuk tentang penerapan protokol kesehatan pada lingkungan gereja dalam bentuk poster atau pamflet.

“Para pemimpin, pelayan, petugas perayaan Ekaristi dipastikan sehat.Juga tersedianya petugas gereja untuk memberi petunjuk dan arahan kepada umat selama berada di lingkungan gereja,” sebutnya.

Jumlah umat setiap kali perayaan maksimal pesan Uskup Edwaldus, sebanyak 30 persen atau disesuaikan dengan kapasitas ruangan gereja.

Bayi dan anak-anak yang belum komuni lanjutnya, serta orang dewasa terutama lansia yang mempunyai riwayat penyakit kronis tidak diizinkan untuk mengikuti misa di gereja.

Umat juga dimintanya wajib menggunakan masker sejak keluar dari rumah, selama berlangsungnya ibadat dan kembali ke rumah,Juga wajib mencuci tangan dengan sabun pada air mengalir selama 20 detik di tempat yang sudah disediakan.

“Umat boleh membawa hand sanitizer sendiri, wajib melakukan pengecekan suhu tubuh (maksimal 37,5 derajat Celsius). Bila ditemukan di atas 37,5 derajat Celsius mesti dicek 2 kali dalam rentang waktu 5 menit dan jika masih tinggi dianjurkan untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan,” ungkapnya.

Semua peralatan liturgi dan peralatan pendukung yang dipergunakan kata Edwaldus, wajib dibersihkan dengan baik secara berkala. Air suci di pintu masuk gereja ditiadakan.

Antrian masuk dan keluar gereja jelasnya, dipastikan jarak antara umat 1,5 meter sampai 2 meter dan tidak ada kerumunan. Dirinya meminta membiasakan budaya antri serta langsung meninggalkan gereja setelah misa atau ibadat selesai.

“Perayaan Ekaristi atau misa dapat dilakukan berdasarkan kelompok KBG atau lingkungan guna membatasi jumlah umat yang hadir. Para biarawan-biarawati menyesuaikan diri dengan lingkungan atau KBG-nya,” pungkasnya.

Lihat juga...