UMKM di Bali Terus Bertahan di Tengah Pandemi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

BADUNG — Pandemi Covid-19 yang terjadi berdampak terhadap perekonomian di Bali. Mulai dari sektor pariwisata yang menjadi penopang utama ekonomi hingga akomodasi makan dan minum (akmamen).

Tidak hanya pengusaha besar, pelaku ekonomi menengah dan kecil juga ikut terdampak, seperti yang dirasakan penjual bakso keliling di kawasan objek wisata pantai Kuta, Badung Bali yang mengalami penurunan omzet.

David, salah seorang penjual bakso keliling mengungkapkan, semenjak isu Covid-19 terjadi, tepatnya empat bulan yang lalu penjualan semakin sepi pembeli. Hal tersebut bukan karena sebab, bakso yang dia jual rata-rata pembelinya merupakan pegawai hotel dan restoran di kawasan Kuta.

“Hotel dan restoran serta beberapa toko di Kuta tutup. Otomatis dagangan saya juga ikutan sepi,” ujarnya saat ditemui di Jalan raya Kuta, Selasa, (28/7/2020).

Untuk menyiasati hal tersebut, dirinya terpaksa beralih lokasi penjualan. Dimana jika sebelumnya dia berjualan hingga ke objek wisata pantai Kuta, saat ini hanya di batas antar Kabupaten Badung dengan Kota Denpasar.

Selain itu, strategi lain dia menetapkan promosi penjualan. Misalnya, beli satu mangkok dapat satu mangkuk. Meskipun hasil yang diperoleh tidak banyak, namun hal ini dilakukan untuk bertahan selama pandemi ini berlangsung.

“Ya mau bagaimana lagi. Hasil sedikit yang penting jalan dan bisa bertahan,” kata pria single ini.

Dikatakan jika kondisi normal, dirinya bisa mengantongi uang sebesar Rp1.000.000 setiap harinya. Namun, saat ini dirinya hanya mampu membawa pulang uang sebesar Rp200.000.

Dirinya berharap kondisi ini bisa segera berlalu, agar objek wisata Bali khususnya di pantai Kuta kembali ramai, sehingga hal tersebut bisa berpengaruh terhadap omset penjualan bakso dagangannya semakin meningkat.

Hal senada juga dirasakan oleh penjual es cendol dawet. Ratih, salah seorang pedagang menyampaikan, kondisi ini mulai terasa sejak tiga bulan yang lalu. Padahal, bulan ini cuaca panas. Banyak orang yang mencari minum segar seperti es cendol dawet yang dua jual.

“Ini bisanya ramai-ramainya mas. Tapi karena corona, semua sepi. Apalagi banyak toko yang tutup karena karyawan banyak yang dirumahkan,” tandasnya.

Lihat juga...