Usaha Kecil Pengolahan Ikan di Lamsel Bertahan di Tengah Pandemi

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sektor usaha berbasis perikanan tangkap dan budi daya di pesisir Timur Lampung Selatan, terpukul oleh adanya pandemi Covid-19. Namun, sektor usaha kecil pengolahan hasil perikanan tangkap dan budi daya tetap bertahan.

Asnawati, warga Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, menyebut bahan baku selalu tersedia dari laut. Ia mengolah ikan jenis lapan lapan, petek, pepirik, menjadi ikan asin. Jenis teri nasi dan jengki dijemur menjadi produk siap jual kepada sejumlah warung dan pengepul. Ia menyebut, selama hasil tangkapan stabil, produksi skala kecil berbasis perikanan tangkap tetap berjalan dengan normal.

Ia mengatakan, bahan baku teri kerap diperoleh dari hasil tangkapan suami dengan memanfaatkan jaring sodong. Meski menggunakan alat tangkap tradisional perahu kasko bercadik, bahan baku diperoleh rata-rata 10 hingga 20 kilogram per hari. Ikan teri dan jenis ikan lain selanjutnya diawetkan dengan proses pengeringan.

“Proses pengeringan menjadi cara mengawetkan ikan teri dan ikan asin memakai garam atau tanpa garam, untuk menghasilkan awetan ikan tawar, hasilnya dikemas untuk selanjutnya didistribusikan ke pengepul,” terang Asnawati, saat ditemui Cendana News, Selasa (14/7/2020).

Ikan teri yang kering, menurut Asnawati akan dijual dalam ukuran 500 gram hingga 1 kilogram. Harga di level produsen mencapai Rp20.000 hingga Rp100.000 sesuai ukuran. Bahan baku yang selalu tersedia dari pantai timur Lamsel dan pengepul yang rutin membeli membuat sektor usaha pengolahan ikan laut tetap eksis, meski pandemi Covid-19.

Samsul Anwar, Kepala Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi Lampung Selatan, saat dikonfirmasi, Selasa (14/7/2020). -Foto: Henk Widi

Hal yang sama dialami Lestari, pengolah ikan belah jenis kepala batu. Ia membeli ikan kepala batu dari nelayan seharga Rp15.000 dari nelayan dan sebagian hasil tangkapan suami. Saat kering, ia menjualnya seharga Rp25.000 per kilogram ke sejumlah pengepul. Usaha kecil pengawetan ikan dengan proses pengeringan memberi omzet ratusan ribu per pekan, bahkan bisa mencapai jutaan.

“Ikan yang diawetkan akan dipisah sesuai grade, yang bagus akan dikemas dan yang kecil untuk bahan pembuatan tepung ikan,” bebernya.

Tepung ikan diolah melalui proses penggilingan. Bahan baku tersebut digunakan sebagai campuran pembuatan pakan atau pelet udang dan ikan budi daya. Selain itu, sebagian tepung ikan akan dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan kerupuk kemplang dan terasi. Sektor usaha pengawetan ikan menjadi penyokong sektor usaha lainnya.

Suminah, salah satunya, membeli rebon dan tepung ikan asin untuk bahan pembuatan terasi. Produsen terasi skala rumah tangga tersebut mengolah bahan baku udang rebon dan tepung ikan asin menjadi terasi bahan sambal. Terasi, menurutnya dibuat dengan bahan tepung tapioka, tepung ikan dan udang rebon. Bahan tersebut mudah diperoleh dari produsen di pesir timur Lamsel.

“Terasi saya cetak dalam bentuk bulat dan dijual ke sejumlah warung, kerap dibeli pedagang sayur keliling,” cetusnya.

Suminah menjual terasi seharga Rp1.000 per butir, dan Rp10.000 untuk satu kemasan berisi 12 terasi. Bahan baku yang selalu tersedia membuat ia tidak kesulitan melalukan produksi. Pengepul yang selalu mengambil hasil produksi terasi berimbas ia selalu mendapat penghasilan dari usahanya, ratusan ribu rupiah per pekan.

Samsul Anwar, kepala Desa Bandar Agung, juga menyebut sektor usaha pengolahan ikan tetap eksis. Membentuk kelompok pengolah dan pemasaran (poklahsar) usaha ikan asin,teri dan terasi mampu bertahan saat pandemi Covid-19. Sebagian warganya yang mendapat bantuan selama masa Covid-19, mempergunakannya untuk modal tambahan.

Bahan baku dari hasil tangkapan menjadikan produksi olahan berbahan ikan terus beroperasi. Meski sektor perikanan budi daya udang vaname dan bandeng mengalami penurunan karena ekspor terhenti, perikanan tangkap justru menjadi sumber usaha. Kreativitas kaum wanita mengolah hasil tangkapan menjadikan usaha kecil tetap bertahan.

“Kreativitas sangat dituntut agar tetap bisa produktif secara ekonomis, dengan pemanfaatan sumber daya alam yang melimpah,” paparnya.

Memiliki kekayaan alam laut, sungai yang jadi sumber perikanan tangkap dan budi daya, Samsul Anwar mengajak warganya produktif. Sektor usaha pengolahan hasil perikanan berhubungan dengan usaha kuliner, menurutnya akan selalu stabil.

“Kebutuhan masyarakat akan konsumsi olahan berbahan ikan menjadi peluang usaha untuk peningkatan ekonomi warganya,” pungkasnya.

Lihat juga...