Usaha Penjualan Buah Sokong Bisnis Kuliner di Lamsel

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Usaha penjualan buah segar di Lampung Selatan (Lamsel) miliki andil dalam mendukung bisnis lain salah satunya kuliner.

Sobari, pedagang di Jalan Lintas Sumatera KM 2 Bakauheni menjual jeruk peras, mangga, jambu, buah naga, dan berbagai jenis buah segar lainnya sebagai bahan untuk usaha pembuatan minuman es buah dan petis.

Bahan pembuatan es buah yang disediakan menurutnya meliputi jeruk peras, buah naga, semangka, nanas, melon. Buah segar yang disediakan menurutnya berasal dari sejumlah wilayah yang dikirim oleh distributor. Selain dalam kondisi matang sebagian buah dijual mengkal atau setengah matang seperti mangga, nanas dan pepaya.

Permintaan paling banyak menurutnya berupa mangga mentah. Jenis mangga mentah digunakan untuk bahan pembuatan rujak. Sebagian dijual matang untuk pembuatan minuman segar. Pasokan buah segar yang lancar menurutnya menjadi pendukung usaha lain seperti kuliner. Mangga mentah yang dibeli pelanggan kerap dipakai untuk bahan asam mangga kering.

“Berbagai jenis buah yang saya jual digunakan untuk langsung dikonsumsi sebagian akan dipergunakan untuk usaha kuliner lain yang ada di sepanjang Jalinsum,” terang Sobari saat ditemui Cendana News, Selasa (15/7/2020).

Marniati (kanan) memanfaatkan mangga untuk proses pembuatan asam mangga kering di Desa Bakauheni, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan untuk bumbu kuliner, Selasa (14/7/2020). -Foto Henk Widi

Berbagai jenis buah menurut Sobari dijual dengan harga mulai Rp3.000 hingga Rp15.000 per kilogram. Berbagai jenis buah yang disiapkan selain berasal dari wilayah Lampung juga didatangkan dari Jawa Barat. Lokasi usaha yang berada dekat pelabuhan Bakauheni memudahkan dirinya untuk mendapat pasokan dari distributor.

Pasokan dari distributor lokal ikut memberdayakan petani pekebun di wilayah tersebut. Penjualan buah segar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat ikut terpengaruh oleh Covid-19. Sebab konsumsi buah yang meningkat menyebabkan penjualan ikut meningkat. Omzet penjualan buah segar bisa mencapai ratusan ribu per hari.

“Saat ada pesta hajatan pernikahan, permintaan buah jeruk dan salak selalu meningkat,” cetusnya.

Anisa, salah satu warga menyebut membeli buah jeruk dan mangga. Ia kerap membeli buah alpukat namun belum ada pasokan. Memiliki usaha penjualan minuman segar ia menggunakan buah jeruk dan mangga untuk pembuatan minuman jus. Lokasi penjualan buah segar yang dekat membuat ia menyiapkan stok terbatas di warung miliknya.

“Bahan pembuatan minuman berbahan buah stok terbatas untuk kebutuhan selama dua hari,” terangnya.

Buah mangga yang mudah diperoleh dari pedagang kerap dimanfaatkan untuk bumbu alternatif. Marniati, salah satu pemilik usaha kuliner menyebut memanfaatkan mangga untuk bahan pembuatan asam kering mangga. Proses pengeringan dengan cara mengiris mangga tipis selanjutnya dijemur akan menghasilkan buah untuk bahan bumbu masakan pindang ikan.

Asam mangga kering oleh warga Bugis disebutnya kerap dikenal dengan sebutan kaloko pau. Usai dikeringkan irisan mangga kering selanjutnya akan disimpan dalam wadah kedap udara. Penggunaan toples untuk mengawetkan asam mangga kering mendukung pembuatan kuliner Cotto Makassar, pindang palumara dan masakan berbahan ikan khas Bugis.

Buah mangga menurutnya mudah diperoleh dari pedagang di Bakauheni. Pasokan buah yang lancar membuat bahan untuk bumbu alternatif mudah diperoleh saat dibutuhkan. Selain dalam kondisi mentah buah mangga dan nanas kerap digunakan untuk pembuatan sambal. Sambal mangga dan nanas menjadi sajian pelengkap dalam masakan khas Bugis sehingga menambah cita rasa lezat.

Lihat juga...