Ustad Mustaqh Ajak Umat Muslim Meneladani Keluarga Nabi Ibrahim

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Imam Masjid Agung At-Tin, Ustad Mustaqh Firin menegaskan, dengan merayakan hari raya Idul Adha 1441 Hijriyah ini hendaknya semakin kuat keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT dengan meneladani keluarga Nabi Ibrahim as.

“Dengan iman dan taqwa yang dalam kita akan mampu mengamalkan untuk hidup lebih baik yang pada gilirannya akan menimbulkan ketertiban bagi bangsa dan negara,” ujar Ustad Mustagh pada perayaan Idul Adha 1441 Hijriyah di Masjid Agung At-Tin, Jakarta, Jumat (31/7/2020).

Dia menyebutkan, 10 Zdulhijjah merupakan momentum hari raya besar umat Islam yaitu Idul Adha yang didalamnya menyimpan berbagai peristiwa memumental.

Peristiwa tersebut selanjutnya diabadikan dalam sebuah ibadah. Dua ibadah identik dengan idul adha adalah ibadah kurban dan ibadah haji.

“Kedua ibadah ini mengandung nilai keteguhan dan keimanan, sebagai bukti pengorbanan yang dilandasi dengan keiklasan dan kesabaran,” imbuhnya.

Pada hari ini jelas dia lagi, jamaah haji di tanah suci Mekah telah menyelesaikan inti ibadah haji setelah mereka tawaf di Padang Arafah kemarin.

Mereka datang dari berbagai tempat untuk memenuhi panggilan Allah SWT dengan mengorbankan harta kekayaannya dan meninggalkan kampung halaman untuk menunaikan ibadah haji di Tanah Suci.

“Mereka hadir sebagai seorang hamba melepaskan dirikan dari berbagai status duniawi, pangkat, jabatan, status sosial, kekayaan dan sebagainya,” tukasnya.

Dengan pakaian yang sama, yaitu pakaian ikhram disatukan dalam satu tempat untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mereka hadir semata-mata untuk menyembah Allah SWT.

“Ibadah haji dan kurban ini berangkat dari sejarah Nabi Ibrahim, beserta istrinya Hajar dan putranya Ismail,” urainya.

Dengan melaksanakan perintah Allah SWT, Nabi Ibrahim as rela meninggalkan istrinya di tempat yang bagus tanpa harta. Hajar sang istri juga rela tinggalkan suami yang sangat dicintainya.

Nabi Ibrahim as juga rela mengorbankan putranya yang dicintainya untuk dikurbankan. Begitu juga dengan Ismail bersedia dikurbankan untuk memenuhi perintah Allah SWT.

“Sungguh suatu pengorbanan sikap yang sangat tinggi nilainya yang tidak mampu
dilakukan oleh manusia biasa seperti kita,” tegasnya.

Menurutnya, mengorbankan harta, tenaga dan pikiran biasa dilakukan. Akan tetapi mengorbankan putra yang sangat dicintai, tentu butuh keiklasan yang mendalam.

Namun dalam iman yang kokoh Nabi Ibrahim saw melaksanakan perintah tersebut guna mempertegaskan bahwa perintah Allah SWT di atas segalanya.

Sungguh pengorbanan Ismail sebagai anak sangat besar. Sehingga Ustad Mustaqh berharap generasi muda harus mrncontoh Nabi Ismail yang taat kepada Allah SWT, berbakti pada orang tua untuk itu beliau rela mengorbankan jiwa raganya.

“Memang untuk tujuan yang besar dibutuhkan penggorbanan yang besar pula. Dan generasi muda yang tangguh menjadi harapan setiap bangsa,” imbuhnya.

Lebih lanjut Ustad Mustaqh mengatakan, bahwa suasana hari rayaI Idul Adha tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Dimana tahun ini, pandemi Covid-19 yang melanda berdampak kepada kehidupan kemiskinan dan pengangguran menjadi bertambah.

Imam Masjid Agung At-Tin, Ustad Mustaqh Firin pada perayaan Idul Adha 1441 Hijriyah di Masjid Agung At-Tin, Jakarta, Jumat (31/7/2020). Foto: Sri Sugiarti.

Melihat kondisi seperti ini tentu dibutuhkan jiwa sosial kita untuk meguhkan iman dengan keiklasan membantu sesama sebagai wujud kebahagian yang harus dibagi kepada mereka yang membutuhkan bantuan.

“Memberikan bantuan kepad mereka yang mrmbutuhkan pada Idul Adha untuk berkurban, berbagi kepada sesama,” ujarnya.

Bahkan kata Ustad Mustagh, Allah SWT telah berfirman ‘Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anakmu mengabaikanmu dari mengingat Allah SWT. Barang siapa yang telah berbuat hal itu, maka mereka termasuk orang yang sangat merugi’.

Dengan berkurban sebagai ungkapan sosial, apalagi menurutnya, dalam kondisi sulit ini banyak masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19. Maka jiwa sosial kita terutama kita yang berkemampuan untuk berbagi kepada sesama yang tidak mampu.

“Yakinlah bahwa Allah SWT akan menolong hambanya selama hambanya itu mau menolomg sesamanya,” tegasnya.

Pada perayaan Idul Adha dengan rangkaian salat dan berkurban, putri Presiden ke 2 RI, Jenderal Besar HM Soeharto hadir di Masjid Agung At-Tin dalam momentum ini.

Titiek Soeharto bersama jamaah lainnya menunaikan ibadah salat Idul Adha dan menyerahkan 23 ekor sapi kurban dari Keluarga Cendana.

Lihat juga...