Utang Negara Naik Dua Kali Lipat pada Semester I 2020

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan hasil realisasi kinerja APBN sepanjang semester I 2020 di hadapan Badan Anggaran (Banggar) RPR RI. Yang cukup mencolok dari laporan tersebut adalah realisasi utang negara yang mencapai Rp421,5 triliun, melonjak dua kali lipat dari realisasi tahun sebelumnya, yakni Rp181,2 triliun.

Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani mengungkapkan, kenaikan pembiayaan utang tersebut tidak lepas dari kebijakan pelebaran defisit fiskal, demi memulihkan perekonomian nasional yang tertekan akibat pandemi Covid-19.

“Pembiayaan utang akan tetap kami lakukan dengan hati-hati untuk menjaga kredibilitas dan kepercayaan terhadap pasar terjaga,” dalam keterangan tertulisnya, Jumat (10/7/2020).

Berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 72 Tahun 2020, defisit anggaran APBN 2020 dipatok pada angka 6,34 persen dari PDB atau sebesar Rp1.039,2 triliun. Sepanjang semester I/2020, defisit anggaran sudah Rp257,8 triliun atau 1,57 persen dari PDB.

Untuk menutup defisit anggaran tersebut, pemerintah merealisasikan pembiayaan anggaran sebesar Rp416,2 yang terdiri atas pembiayaan utang Rp421,5 triliun, pembiayaan investasi -Rp6 triliun, pemberian pinjaman Rp900 miliar, kewajiban penjaminan -Rp400 miliar dan pembiayaan lainnya sebesar Rp200 miliar.

“Pemerintah akan melanjutkan pemenuhan pembiayaan anggaran, termasuk dari utang. Pada paruh kedua tahun ini, pembiayaan anggaran ditargetkan sebesar Rp622,6 triliun sehingga total pembiayaan anggaran tahun ini mencapai Rp1.038,7 triliun,” tandas Menkeu.

Di sisi lain, pemerintah berkomitmen mencairkan pembiayaan investasi baik dalam bentuk penyertaan modal negara (PMN) maupun dalam bentuk investasi pemerintah kepada BUMN hingga investasi pada badan layanan umum (BLU).

Secara total, pembiayaan investasi pada semester II/2020 ditargetkan mencapai Rp251,1 triliun, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi pembiayaan investasi pada semester I/2020 yang sebesar Rp251,1 triliun.

Lebih lanjut, Menkeu optimis, pertumbuhan ekonomi semester II akan membaik dan stabilitas ekonomi makro terjaga, sehingga pertumbuhan ekonomi tahun 2020 diproyeksikan untuk dapat tumbuh positif dengan didukung program PEN.

“Program stimulus bantuan sosial akan mendorong konsumsi masyarakat Semester II, sementara konsumsi Pemerintah di Semester II dapat meningkat sejalan realisasi belanja pemerintah (pusat dan daerah),” tukas Menkeu.

“Selain itu, investasi semester II diperkirakan tumbuh moderat seiring dengan membaiknya keyakinan investor. Namun, perdagangan internasional diperkirakan masih mengalami kontraksi karena masih rendahnya permintaan global,” sambungnya, menutup.

Lihat juga...