Agenda Grebek Lumpur Tidak Terganggu Refocusing Anggaran

Petugas Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta melakukan pengerukan endapan lumpur di Kali Ciliwung, Kampung Melayu, Jakarta, Kamis (6/8/2020) – Foto Ant

JAKARTA – Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta memastikan, refocusing anggaran daerah akibat pandemi COVID-19, tidak mempengaruhi program Grebek Lumpur di sungai hingga saluran kecil.

Kegiatan tersebut mata anggarannya masuk biaya pemeliharaan. “Meskipun terkena refocusing (memfokuskan kembali) dari anggaran yang ada, tapi pengerukan tetap jalan terus. Tidak ada masalah, karena pemeliharaan tidak boleh berhenti,” kata Kepala Dinas SDA DKI Jakarta, Juaini Yusuf, saat meninjau pengerukan lumpur di Kanal Banjir Barat, di kawasan Tambora, Jakarta Barat, Rabu (26/8/2020).

Juaini mengatakan, pemeliharaan saluran mikro, makro, penghubung, kali dan sungai tidak boleh berhenti. Kegiatan tersebut menjadi langkah untuk mengantisipasi ancaman genangan dan banjir, yang biasa terjadi di Ibu Kota saat musim hujan turun. Pengerukan lumpur dilakukan dengan sistem swakelola. Anggaran yang disiapkan untuk pemeliharaan dengan total sekitar Rp80 miliar, disebarkan secara bervariasi ke dinas dan di Suku Dinas. “Jadi tugas kami dari dinas maupun sudin untuk terus melakukan giat grebek lumpur di berbagai tempat. Mulai dari saluran mikro, makro, saluran penghubung, kali-kali dan waduk-waduk,” ungkap Juaini.

Refucosing anggaran disebutnya,  sebetulnya membuat sejumlah proyek pembangunan tertunda. Dinas SDA yang mendapatkan alokasi dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2020 sekira Rp2 triliun lebih, akhirnya dikurangi 50 persen karena refocusing anggaran. “Itu sekitar menjadi Rp1,2 triliunan, dana itu ada di dinas dan sudin-sudin di wilayah DKI Jakarta,” jelas Juaini.

Meski sejumlah pembangunan harus tertunda akibat refocusing, Juaini memastikan, Pemprov DKI Jakarta tetap akan mengerjakan proyeknya setelah mendapat pinjaman dana senilai Rp12,5 triliun dari pemerintah pusat melalui PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI). Dari dana pinjaman tersebut, Dinas SDA DKI Jakarta mendapatkan suntikan sekira Rp5,2 triliun, yang akan dialokasikan pada tujuh proyek yang akan dikerjakan selama tiga tahun dari dana tersebut.

Tujuh proyek itu di antaranya, pembangunan polder pengendalian banjir, revitalisasi pompa pengendali banjir, pembangunan waduk pengendali banjir, peningkatan kapasitas sungai dan drainase kali kewenangan kementerian, pembangunan tanggul pengaman pantai, pembangunan vertikal drainase serta sistem informasi penunjang banjir. “Dari tujuh program itu, anggaran terbesar ada pada peningkatan kapasitas sungai dan drainase kali kewenangan kementerian sebesar Rp2,070 triliun,” katanya.

Program Grebek Lumpur telah dimulai sejak April 2020, dan ditargetkan selesai pada Desember 2020. Ada beberapa kali besar yang menjadi saran utama dalam program yang terbagi di lima wilayah. Rinciannya, pengerukan lumpur di Kali Ciliwung segmen Kampung Melayu sampai Jembatan Tongtek sepanjang 5,3 kilometer di Jakarta Timur. Kemudian pengerukan Kali Ciliwung di segmen Jembatan Tongtek sampai pintu air Mangarai sepanjang 2,7 kilometer di Jakarta Selatan.

Selanjutnya, pengerukan di Kali Kanal Banjir Barat (KBB) segmen pintu air Karet sampai Jembatan Roxy sepanjang 13,9 kilometer di Jakarta Pusat. Lalu pengerukan di kali KBB segmen Jelambar sampai Season City sepanjang 1,5 kilometer di Jakarta Barat. Kemudian pengerukan di Kali Adem segmen PIK (Pantai Indah Kapuk) sampai Muara Angke sepanjang 3,2 kilometer di Jakarta Utara.

Kedalaman KBB diprediksi bakal bertambah menjadi enam meter setelah pengerukan. Terakhir kali kawasan ini mendapatkan pengerukan lumpur di 2017 lalu oleh Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). (Ant)

Lihat juga...