Anak-anak di kampung Leng Tidak Sekolah Karena Sulit Transportasi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Jarak antara kampung dan sekolah yang terlalu jauh dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki melintasi hutan lindung membuat anak-anak usia sekolah di Kampung Leng, Desa Wairterang, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak mau sekolah.

Warga Kampung Leng, Desa Wairterang, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, NTT, Marianus Nong Lehan, saat ditemui, Senin (3/8/2020). Foto : Ebed de Rosary

Kondisi ini pun dimaklumi orang tuanya dan tidak bisa berbuat apa-apa karena untuk mencapai sekolah, anak-anak di Kampung Leng harus berjalan sekitar 4 kilometer pergi pulang setiap harinya.

“Ada 22 anak usia sekolah dasar tetapi yang bersekolah hanya 7 orang, sementara sisanya 15 orang tidak mau melanjutkan sekolah lagi,” kata Marianus Nong Lehan, warga Kampung Leng, Desa Wairterang, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, NTT, Senin (3/8/2020).

Marianus menyebutkan, satu orang anak bersekolah di SD Watubala Desa Wairterang sementara 6 orang lainnya bersekolah di SD Wolonggetang Desa Nangatobbong.

Ia menambahkan, untuk anak usia Sekolah Manengah Pertama ada sekitar 7 orang tapi yang bersekolah hanya 3 orang saja. Sementara untuk Sekolah Manengah Atas tidak ada lagi yang mau bersekolah.

“Setiap pagi mereka berangkat dari rumah jam 7 pagi dan tiba di sekolah paling cepat jam 8 pagi. Kadang membawa bekal makanan untuk dimakan di sekolah, namun kadang juga tidak” ujarnya.

Selain Kampung Leng dengan 26 Kepala Keluarga (KK) dan 17 rumah, di dalam hutan lindung kata Marianus, ada Kampung Kokonpuat yang terdiri atas 8 rumah serta Wairbukan ada 48 KK atau sekitar 30 rumah.

Warga, sebutnya, sudah berulangkali mengusulkan agar dibangun jalan minimal untuk sepeda motor, agar anak-anak tidak capek berjalan kaki setiap harinya naik turun bukit.

“Selama penyakit Corona merebak anak-anak kami tidak ke sekolah karena katanya tidak ada kegiatan belajar mengajar. Mereka juga tidak bisa belajar secara online karena sinyal telepon selular di kampung kami sangat lemah,” ungkapnya.

Kepala Desa Wairterang Ignasius Silvesman mengaku telah membicarakan bersama Camat Waigete soal akses jalan ke 2 kampung besar yang masyarakatnya tingga di dalam kawasan hutan lindung Egin Ilimedo.

Menurut Ignasius, waktu kedatangan Gubernur NTT ke Sikka akhir Juli 2020 kemarin juga sudah disampaikan mengenai keinginan warga memiliki jalan menuju kampung Leng dan Wairbukan.

“Camat Waigete sudah menyampaikannya kepada Gubernur NTT dan dikatakan jalannya bisa dibangun. Kami sedang membuat surat untuk disampaikan kepada Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup melalui Gubernur NTT agar bisa membangun jalan di dalam kawasan hutan lindung,” tuturnya.

Ignasius juga berterima kasih kepada awak media yang gencar memberitakan soal kesulitan hidup masyarakat yang tinggal di dalam hutan lindung khususnya terkait akses jalan raya.

Disaksikan Cendana News, akses jalan menuju Kampung Leng bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari ujung kampung di Desa Nangatobong. Setelah melintasi saluran irigasi di persawahan, perjalanan hanya melewati jalan setapak membelah hutan.

Lihat juga...