Arik Tetap Produktif Hasilkan Alat Musik Tradisi

Editor: Makmun Hidayat

MALANG — Berada dalam kondisi pandemi Covid-19, tidak menyurutkan semangat Arik Sugianto untuk terus memproduksi berbagai jenis alat musik tradisi. Meskipun diakui terjadi penurunan jumlah pesanan.

“Pesanan dalam kondisi Covid-19 seperti sekarang ini memang menurun drastis sekitar 50 persen. Kalau biasanya setiap hari datang 10-15 orang yang datang untuk servis atau pesan pesan alat musik, tapi sekarang satu minggu cuma datang 5 orang,” akunya saat ditemui di rumahnya yang berlokasi di Lesanpuro, Kedungkandang, Kota Malang, Rabu (12/8/2020).

Menurut Arik menurunnya jumlah pesanan tersebut disebabkan karena pagelaran budaya atau kesenian masih dilarang akibat Covid-19, sehingga mau tidak mau juga berdampak pada menurunnya jumlah pesanan alat musik tradisi.

“Biasanya kalau ramai pagelaran seni, banyak yang datang ke sini untuk servis atau memesan alat musik. Tapi sekarang acara kesenian masih dilarang, jadi ya pesanannya juga berkurang,” ucapnya seraya bersyukur masih ada pesanan dari Samarinda yang dalam proses pengerjaan.

Lebih lanjut diceritakan Arik, ketertarikannya untuk membuat alat musik tradisi karena melihat banyaknya grup kesenian di Malang yang selalu mencari alat musik tradisi khususnya gamelan sampai ke daerah Solo dan Jogja. Dari situ Arik kemudian mulai mencoba memproduksi gamelan.

“Saya berpikir bahwa di Malang terutama di kota Malang harus ada pengrajin gamelan supaya teman-teman kesenian tidak perlu jauh-jauh ke Solo atau Jogja untuk membeli gamelan,” ujarnya.

Beberapa alat musik tradisi buatan Arik Sugianto di rumahnya, Rabu (12/8/2020).-Foto: Agus Nurchaliq

Arik mulai coba membuat gendang dulu, kemudian gamelan. “Sampai sekarang semua alat musik tradisi bisa saya kerjakan,” akunya.

Menurutnya, kemampuan untuk membuat alat musik tradisi seperti gamelan, diperoleh secara otodidak tanpa ada yang mengajari.

“Jadi saya sering lihat pertunjukan seni yang ada gamelannya. Dari situ saya ukur alat musiknya pakai jengkal tangan dan saya catat di buku sebagai contoh. Kemudia saya kerjakan di rumah,” terangnya.

Pertama kali membuat langsung jadi meskipun belum sebagus yang sekarang. Tapi untuk ukuran orang yang belum pernah membuat gong sebelumnya, hasilnya bisa dikatakan sangat bagus.

“Konsumen pertama yang membeli alat musik tradisi (gong) mengaku puas dengan hasilnya. Itu yang kemudian membuat saya lebih semangat untuk mengembangkan kerajinan ini,” akunya.

Bahan kayu untuk gendang biasanya menggunakan kayu pohon nangka. Sedangkan untuk pangkon atau rancak gamelan biasanya terbuat dari kayu keras yang bisa dipahat seperti kayu Mahoni maupun kayu Kembang.

“Harga gamelannya sendiri mulai dari Rp40-60 juta per set dengan lama pengerjaan sekitar 1-2 bulan,” sebutnya.

Dikatakan Arik, tidak hanya memproduksi  gamelan, di tempatnya tersebut juga melayani pembuatan berbagai jenis alat musik tradisi seperti angklung, sapek, talempong maupun gong dayak.

“Kelebihan di tempat kami, selama yang dipesan merupakan alat musik tradisi, bisa kami kerjakan,” pungkasnya.

Lihat juga...