Banyak Desakan Sekolah di Banyumas Dibuka Kembali

Editor: Makmun Hidayat

PURWOKERTO — Selama lima bulan berjalan proses pembelajaran di rumah, ternyata membuat para siswa bosan dan mengakibatkan tingkat kedisiplinan siswa tidak terkontrol. Sehingga banyak orangtua serta pihak sekolah yang meminta agar mulai dilakukan pembelajaran tatap muka di Banyumas.

Bupati Banyumas, Achmad Husein menyampaikan, pihaknya memahami kondisi psikis para siswa atau pun orangtua serta guru, hanya saja tetap harus mengedepankan aturan. Sehingga sebagai jalan tengah, bupati meminta Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Banyumas bersama dengan pihak terkait untuk menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) pembelajaran tatap muka.

“Kalau untuk sekarang belum bisa diberlakukan pembelajaran tatap muka, karena berbagai alasan. Namun, sambil menunggu hasil evaluasi selama 14 hari ke depan, saya minta Dinas Pendidikan bersama dengan pihak sekolah, Dinas Kesehatan dan lainnya untuk membentuk tim dan membuat SOP pembelajaran tatap muka,” kata Bupati, Rabu (5/8/2020).

Menurut Bupati, ada beberapa alternatif pilihan yang bisa diterapkan dalam proses pembelajaran tatap muka, misalnya belajar di luar ruangan sambil berjemur, home visit guru ke rumah siswa dan dibatasi maksimal 5 siswa dalam satu pertemuan, atau belajar di dalam kelas dengan berbagai macam persyaratan yang harus dipenuhi. Antara lain ruang kelas harus memiliki sirkulasi udara yang baik, tidak menggunakan AC dan tidak menggunakan meja, serta jumlah siswa dalam satu kelas dibatasi maksimal sepertiga dari kuota kelas pada situasi normal.

“Namun untuk SOP pembelajaran tatap muka ini, hanya bisa diberlakukan untuk siswa Sekolah Dasar (SD) mulai kelas 4, 5 dan 6 serta siswa SMP. Sedangkan untuk siswa kelas di bawahnya belum diperbolehkan,” jelas Husein.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Irawati menyampaikan, banyak sekolah serta orangtua siswa yang menghendaki dimulainya pembelajaran tatap muka. Dari laporan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) misalnya, lamanya waktu pembelajaran di rumah, membuat guru kesulitan mengontrol kedisiplinan siswa dan keikutsertaan siswa dalam proses pembelajaran daring.

Hal tersebut terbukti, saat siswa diminta datang ke sekolah untuk mengambil buku pembelajaran, beberapa siswa sudah berambut gondrong. Dampak sosial lainnya adalah, dalam aktivitas di rumah, siswa justru cenderung bergerombol dalam bermain, hal ini tentu kontra produktif dengan upaya pencegahan Covid-19.

“Sehingga kami mewakili pihak sekolah serta orangtua siswa, meminta agar bisa dipertimbangkan kembali untuk pembukaan sekolah tatap muka,” kata Irawati.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banyumas, Sadiyanto menyatakan, reproduksi virus masih tinggi, artinya pandemi di Banyumas belum terkendali. Untuk angka  positif rate Banyumas memang di bawah 5, sesuai ketentuan WHO, maka termasuk risiko rendah. Namun, positif rate di Banyumas pernah mencapai angka 12, karena swab yang menyatakan positif keluar bersamaan dalam satu hari.

“Sehingga secara epidermologi, kami dari Dinas Kesehatan belum bisa merekomendasikan untuk pembukaan sekolah. Nanti akan dilakukan evaluasi setiap 14 hari dan jika kasus menurun, maka baru diperbolehkan pembelajaran tatap muka, namun tetap secara bertahap,” pungkasnya.

Lihat juga...