Banyak Pengusaha Karaoke Langgar Hak Cipta

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Sejumlah musisi papan atas Indonesia serta para produser rekaman yang diwakiliki oleh AS Industri Rekaman Indonesia (ASIRINDO) merasa prihatin. Melihat masih banyaknya perusahaan karaoke di Indonesia yang hingga saat ini masih enggan menjalankan kewajiban mereka dalam memenuhi hak-hak para penyanyi, pencipta lagu maupun produser sebagaimana tertuang dalam Undang Undang No. 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta.

Hal tersebut dikatakan membuat para produser, penyanyi maupun pencipta lagu harus mengalami kerugian material yang tidak sedikit bahkan hingga mencapai miliaran rupiah.

General Manager Legal Asirindo, Braniko Indhyar, menyebut, hingga saat ini pihaknya bahkan tengah memproses hukum setidaknya 15 perusahaan karaoke di berbagai daerah di Indonesia, karena telah menggunakan lagu-lagu mereka untuk menjalankan usaha tanpa meminta izin dari pihak Asirindo selaku produser rekaman yang mewakili para penyanyi maupun pencipta lagu.

Di Yogyakarta, salah satu perusahaan Karaoke terkemuka, yakni Palms Karaoke bahkan telah dilaporkan ke pihak berwajib, karena dinilai telah melakukan pelanggaran Hak Cipta sehingga merugikan beberapa label.

Braniko Indhyar mengatakan, para Produser Rekaman sebagai pemilik karya rekaman lagu dan musik mempunyai hak ekonomi dan berhak memberikan izin atau melarang pihak lain untuk melakukan hal-hal sebagaimana disebutkan dalam Pasal 24 ayat (2) Undang Undang Hak Cipta.

Sejak adanya Undang Undang No. 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta yang mulai berlaku sejak tanggal diundangkan, yaitu pada tanggal 16 Oktober 2014.

“Dalam Undang Undang Hak Cipta sesuai ketentuan Pasal 3 ada mengatur 2 hak, yaitu, Hak Cipta dan Hak Terkait,” ujar Braniko kepada wartawan, Rabu (26/8/2020).

Hak Cipta sendiri merupakan Hak Ekonomi dan Hak Eksklusif Pencipta atau Pemegang Hak Cipta terhadap suatu ciptaan. Sedangkan Hak Terkait merupakan Hak Ekonomi dan Hak Eksklusif Produser Fonogram/Rekaman yang berkaitan dengan lagu dan musik karya rekaman.

Ia menambahkan, Hak Cipta di antaranya meliputi Hak melaksanakan sendiri, memberikan izin, atau melarang pihak lain untuk melakukan Penggandaan atas Fonogram dengan cara atau bentuk apa pun. Pendistribusian atas Fonogram asli atau salinannya, Penyewaan kepada publik atas salinan Fonogram dan Penyediaan atas Fonogram dengan atau tanpa kabel yang dapat diakses publik.

Dengan adanya ketentuan dalam Undang Undang Hak Cipta yang mengatur tentang hak ekonomi Produser Rekaman, berarti setiap pengusaha karaoke yang menggunakan lagu dan musik karya rekaman dengan cara disimpan dalam server, kemudian dari server tersebut pendistribusiannya diperbanyak ke ruangan/room karaoke untuk dapat diakses oleh pelanggan/customer.

“Hal yang dilakukan Pengusaha Karaoke tersebut wajib mendapatkan izin dari Produser Rekaman. Oleh karenanya jika yang dilakukan pengusaha karaoke tidak memiliki izin dari Produser Rekaman, maka dapat diduga melakukan pelanggaran Hak Cipta,” tambahnya.

Karena Palms Karaoke ternyata belum memiliki izin dari Asirindo maka pihaknya pernah melayangkan somasi. Asirindo juga telah melakukan pendekatan termasuk beberapa kali pertemuan. Namun pihak Palms Karaoke dinilai tidak pernah memberikan iktikad baik. Sehingga Asirindo pun akhirnya melaporkan Palms Karaoke ke Polda DIY pada 19 November 2019 lalu.

“Saat ini berkas sudah dilimpahkan ke Kejaksaan. Semoga segera ada feedback dari Kejaksaan sehingga bisa lanjut ke tahap berikutnya,” harapnya.

Asirindo sendiri menyebut akibat pelanggaran hak cipta ini, para produser dan artis mengalami kerugian, yang jika ditaksir kemungkinan besar mencapai Rp 5 miliar.

Sementara itu, melalui aplikasi zoom, salah satu penyanyi, Marcella Siahaan mengaku menyesalkan perbuatan yang dilakukan oleh para pengusaha karaoke tersebut. Menurutnya semua terkait hal tersebut sebenarnya telah diatur dalam Undang-Undang. Sehingga semua pihak hanya perlu memenuhi hak dan kewajiban masing-masing saja.

“Karena ketika terjadi hal seperti ini, justru akan menghambat bisnis karaoke itu sendiri, serta menimbulkan banyak konflik. Secara etika, tentu jika memakai ya harus minta izin. Apalagi konten atau lagu digunakan untuk melakukan bisnis yang menghasilkan keuntungan,” ujarnya.

Sedangkan salah satu pentolan group band Sheila On 7, Erros Candra mengatakan, apa yang dilakukan oleh Palms Karaoke sebenarnya sudah bukan hal yang baru lagi. Bahkan sejak bandnya berdiri tahun 1999, praktik-praktik semacam itu sudah biasa dan sering terjadi.

“Kalau dulu mungkin karena banyak yang tidak tahu atau mengerti. Tapi kalau sekarang kan era sudah maju, informasi dari internet gampang diperoleh. Harusnya sudah tidak ada lagi pelanggaran Hak Cipta. Kalau ada tentu itu karena memang tidak ada iktikad baik dari pengusaha karaoke untuk memenuhi hak dan kewajibannya,” jelasnya.

Lihat juga...